Laman

Rabu, 17 Juni 2015

Beberapa Istilah Penting dalam Ilmu Tasawuf


1. Al-Maqamat: yaitu posisi ruhani yang dilalui oleh seorang sufi dalam proses mujahadahnya, dimana ia berada dalam posisi itu untuk sementara waktu, kemudian melalui mujahadahnya ia akan terus merambat naik ke posisi yang lebih tinggi.
2. Al-Ahwal: hembusan ruhani yang merasuk ke dalam hati tanpa disengaja ataupun diusahakan. Al-ahwal adalah anugerah, sedangkan al-maqamat bisa diusahakan. Al-ahwal datang tidak berujud dan berbentuk, sedangkan al-maqamat diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh.(19) (lihat ar-Risalah, hal. 118-119).
3. Al-Fana’: yakni gugur dan hilangnya sifat-sifat tercela dalam diri sufi, sedangkan al-Baqa’: adalah muncul dan berkembangnya sifat-sifat terpuji dalam diri sufi.(20) (lihat Risalah, hal. 128).
4. Al-Ghaibah: yaitu hilangnya kemampuan hati untuk mengetahui ahwal atau kondisi diri, dikarenakan terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang bersifat materi (sesuatu yang dapat dicerna oleh panca indera), sedangkan al-Hudhur: datangnya Kebenaran (Al-Haq/Allah Swt) dalam hati, karena hati seorang sufi dikondisikan dengan mengingat Allah Swt dan melalaikan selain-Nya.
5. At-Takhalli yaitu membuang seluruh potensi buruk dan jahat dari hati dan nafsu, sedangkan at-Tahalli adalah menghiasi diri dan hati dengan sifat-sifat terpuji.
6. Assitru: tertutupnya hijab Allah Swt dari hati manusia, sedangkan at-Tajalli: adalah terbuka hijab Allah dari hati manusia.(21) (lihat ar-Risalah, hal. 133 dan 147).
7. Al-Muhadharah, al-Mukasyafah dan al-Musyahadah, ketiga istilah tersebut berkaitan dengan ma’rifat kepada Allah swt. Al-Muhadharah adalah tahap pertama, yang berarti hadirnya hati untuk selalu mengingat Allah Swt, al-Mukasyafah adalah tahap kedua yang berarti hadirnya hati untuk mulai membuka tabir yang menghalangi antara hati dengan Allah Swt, dan al-Musyahadah merupakan tahap paling tinggi yaitu hadirnya Allah Swt dalam hati, sehingga terbukalah semua tabir penghalang antara keduanya.
8. At-Talwin yaitu sifat-sifat yang dimiliki oleh ahl ahwal (sufi yang masih berproses), sedangkan at-Tamkin adalah sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh ahl haqa’iq (sufi tertinggi yang telah mencapai tahap hakikat).(22) (lihat ar-Risalah, hal. 148 dan 151).
9. As-syari’ah yaitu perintah untuk menetapi dan konsisten beribadah, sedangkan al-Haqiqah adalah terbukanya tabir penghalang antara hati sufi dengan Allah Swt (musyahadah) .
10. Ilmu al-Yaqin, ‘Ain al-Yaqin, Haq al-Yaqin, adalah istilah berkaitan dengan ulum al-jaliyyah (ilmu yang jelas). Yang pertama dengan syarat adanya dalil atau burhan, yang kedua karena dibuktikan dengan keterangan (bayan), sedangkan yang ketiga dibuktikan secara langsung dengan mata kepala.(23) (lihat ar-Risalah, hal. 155 dan 157).
Demikian beberapa istilah penting dalam ilmu tasawuf dari sekian banyak istilah yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu dalam tulisan ini. Untuk lebih memperdalam kajian tentang istilah-istilah ini, anda bisa merujuk langsung kepada ar-Risalah al-Qusyairiyyah dan kitab-kitab tasawuf lain yang telah penulis perkenalkan di atas.
Sepintas tentang Beberapa Aliran Tarekat dan Para Tokohnya
A. Definisi, Organisasi dan Spesifikasi Tarekat
Mendefinisikan tarekat tentu saja tidak dapat dilepaskan dengan sejarah dan perkembangan tasawuf itu sendiri, karena pada hakekatnya ia lahir sebagai bentuk implementasi dari nilai dan ajaran tasawuf dan sebagai wadah bagi kalangan sufi untuk mengaktualisasikan kecenderungan tasawuf mereka. Oleh karenanya, para ulama tasawuf mengkategorikan tarekat sebagai “al-harakah al-’amaliyah li at-tasawwuf al-Islami” atau gerakan aktualisasi tasawuf Islam.
Dr. Amir an-Najjar menyatakan bahwa kata “at-thariq” sebagai sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab paling tidak mengandung dua pengertian istilah dalam perspektif tasawuf Islam. Pengertian Pertama, tarekat pada abad ketiga dan keempat hijriah berarti “metode atau manhaj untuk melatih jiwa agar menetapi prinsip-prinsip akhlak dan prilaku terpuji”. Pengertian Kedua, tarekat setelah abad kelima hijriah merupakan “seperangkat tatanan ritual kejiwaan yang dipergunakan oleh komunitas sufi tertentu dalam kerangka mencapai tataran kejiwaan tertinggi (ma’rifat) sekaligus menjalin ukhuwah Islamiyah”. Kemudian pada fase berikutnya mulai dikenal istilah bai’at, mursyid, naqib, khalifah dan sebagainya.
Adapun organisasi tarekat meliputi:
1. Murid
2. Khalifah
3. Khalifah al-Khulafa’
4. Na’ib al-Bandar
5. Na’ib al-Markaz
6. Na’ib al-Muhafadzah
7. Syaikh ‘Umum at-Tariqah.(24) (Lihat at-Thuruq as-Shufiyyah fi Mishr, Dr. Amir an-Najjar, hal. 20-21)
Tarekat memiliki spesifikasi di antaranya:
1. Dzikir
2. Sima’ (sya’ir-syair pujian yang dinasyidkan)
3. Hizib dan Wirid (setiap tarekat biasanya memiliki hizib atau wirid tertentu yang menjadi ciri khasnya).
4. Mawalid (mengadakan ritual peringatan kelahiran Keluarga Rasulullah Saw maupun para syuyukh tarekat tersebut).(25) (Lihat at-Thuruq as-Shufiyyah fi Mishr, hal. 24)
B. Mengenal Beberapa Aliran Tarekat dan Tokohnya
• Tarekat Rifa’iyyah
Pendirinya adalah Ahmad ar-Rifa’i, seorang sufi yang lahir di desa “Hasan” atau lebih dikenal dengan nama “umm ‘Ubaidah” di Irak pada tahun 512 H dan wafat pada tahun 578 H. Ar-Rifa’i dikenal sangat konsisten terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, tekun dalam beribadah, rendah hati, toleran dan sangat mencintai sesamanya.
Pokok-pokok ajaran tarekat ini terdiri dari 5 hal, yaitu:
1. Konsisten terhadap sunnah Rasulullah Saw.
2. Mengikuti prilaku para salaf shalihin.
3. Memakai pakaian sederhana, sebagai lambang kezuhudan terhadap dunia.
4. Siap menanggung beban penderitaan dan cobaan dari Allah Swt.
5. Memakai baju yang ada tambalan sebagai lambang kerendahan hati.
Dzikir wajib yang berlaku dalam tarekat ini adalah kalimat tauhid dan shalawat yang dibaca rutin setiap setelah selesai shalat fardhu dengan jumlah sesuai kemampuan, yaitu 50 kali, 500 kali atau 2500 kali, dan bisa lebih dari itu. Salah satu ritual khas lain dari tarekat ini adalah ritual “Muharram”, yaitu menyepi dan memperbanyak dzikir pada tahun baru Islam tersebut selama 7 hari berturut-turut.
• Tarekat Qadiriyyah
Didirikan oleh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih Janki al-Jailani (w. 521 H). Nasabnya sampai kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat peduli terhadap masalah pendidikan dan dakwah. Majelis taklimnya dihadiri oleh banyak kalangan ulama dan fuqaha di Irak, tempat asal al-Jailani.
Prinsip-prinsip ajaran tarekat ini di antaranya:
1. Berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.
2. Jujur dan benar.
3. Bersungguh-sungguh.
4. Berakhlaq mulia.
Dzikir wajib dalam tarekat ini adalah kalimat tauhid, dan dibaca setiap setelah selesai shalat wajib sebanyak minimal 165 kali.
• Tarekat Syadziliyah
Pendirinya adalah Abu al-Hasan as-Syadzili, seorang sufi dari Maroko yang lahir pada tahun 593 H di desa “ghamarah” Maroko. Nasabnya sampai kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Tarekat ini memiliki cabang yang cukup banyak, terutama di negara-negara Afrika Utara, seperti Tunis , Aljazair dan Libia.
Prinsip-prinsip ajaran tarekat ini terdiri dari lima hal:
1. Bertaqwa kepada Allah Swt dalam kondisi sendirian maupun bersama orang lain.
2. Berpegang teguh kepada as-Sunnah, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
3. Tidak terlalu bergantung kepada makhluk.
4. Ridha dengan sedikit maupun banyak.
5. Kembali kepada Allah Swt dalam keadaan senang maupun susah.(26) (Lihat at-Thuruq as-Shufiyyah fi Mishr, hal. 63 dan setelahnya).
• Tarekat Naqsyabandiyyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’uddin an-Naqsyabandi al-Uwaisi al-Bukhari. Lahir di “Qashr al-’Arifan”, sebuah desa dekat Bukhara pada tahun 717 H. Tarekat ini dalam berdzikir lebih mengedepankan cara sir atau tidak terdengar. Dzikir yang berlaku adalah kalimat tauhid dan shalawat serta melakukan khataman “khawajikan” atau membaca riwayat para guru. Dzikir “khawajikan” memiliki tata cara tersendiri, yaitu:
1. Khudu’, khusyu dan hudhur.
2. Membaca surat al-Fatihah 7 kali.
3. Shalawat kepada Rasulullah Saw sebanyak 100 kali.
4. Membaca surat al-Insyirah 79 kali.
5. Membaca surat al-Ikhlas 1001 kali.
6. Membaca surat al-Fatihah (yang kedua kali) 7 kali.
7. Shalawat kepada Nabi Saw (yang kedua kali) 100 kali.
Adapun prinsip-prinsip ajaran tarekat ini adalah:
• Kesemprnaan iman.
• Kesempurnaan Islam.
• Kesempurnaan ihsan.(27) (lihat at-Tariqah an-Naqsyabandiyyah wa ‘A’lamuha, Dr. Muhammad Ahmad Darniqah, hal.18 dan setelahnya).
Demikian pengenalan sepintas tentang beberapa tarekat yang memiliki pengikut dengan jumlah yang signifikan. Masih banyak tarekat lain yang tidak dapat penulis sebutkan dialam tulisan ini, karena bagaimanapun tulisan ini hanya bersifat pengantar. Apabila anda berminat untuk mengkaji tentang tarekat secara lebih detail, silahkan merujuk pada buku-buku tarekat yang cukup banyak beredar di Negeri ini.

Sebuah Pesan


Berkata Syekh ‘Abdul Qadir al-Jilani, jika kita berguru kepada seseorang untuk sampai kepada Alloh, maka ikutilah sarannya ini,
Hendaklah kita berwudhu dengan sempurna, pikiranmu penuh khusyuk, dan matamu jangan memandang selain dari tempat wudhu salah. Setelah itu, barulah kita bershalat. Kita membuka pintu shalat dengan wudhu yang telah kita lakukan sebelumnya, kemudian kita membuka pintu istana Alloh dengan shalat. Apabila kita menyelesaikan shalat, tanyakanlah Alloh melalui bisikan hati, tentang siapakah yang patut kita contoh sebagai pembimbing atau guru kita? Siapakah yang benar benar dapat menyampaikan ajaran Alloh kepada kita? Siapakah orang yang menjadi pilihan-Nya ? Siapakan Khalifah-Nya ? Siapakah Wakil-Nya?
Alloh Maha Pemurah, kelak pertanyaan yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa ragu lagi bahwa Dia akan mendatangkan ilham kedalam hati kita. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam diri kita, yaitu petunjuk yang paling dalam yang disebut Sirr. Alloh akan memberikan kepada kita tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan terbuka untuk kita. Kemudian cahaya itu akan mendorong kita ke jalan yang benar. Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari, pasti akan mendapatkannya, sebagaimana firman Alloh SWT :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Ankabut:69)
Segala keputusan ada pada diri kita masing-masing, pada hati kita yang diberi cahaya kelak. Kita sendiri yang memutuskan, bukan orang yang akan kita jadikan guru. Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulailah berguru kepada padanya. Dialah yang menjadi pilihan Tuhan untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan perawakannya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatanya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang melekat pada dirinya.
Dalam majelis atau bimbingannya, kita tidak perlu tergesa-gesa berbicara dan menarik perhatiannya, Perhatikan kearifan yang bermanfaat yang dikerjakannya terhadap Tuhan. Dia adalah pengajar dan pembimbing, bukan hanya untuk diri nya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Dia hanya penyampai bukti-bukti Ketuhanan.
Hendaknya kita bersedia menerima apa yang Alloh akan sampaikan melalui seseorang bertindak sebagai pembimbing bagi umat. Tumpukanlah perhatian kepadanya. Jangan sekali kali melanggar perintahnya atau melampaui batas-batas yang ditentukannya. Hendaknya kita mendengar kata-katanya dengan penuh khusyuk dan tekun. Jangan sampaikan merasa ragu dan berburuk sangka pada arah bimbinganya, terhadap kata-katanya, dan terhadap perlakuannya, karena semua itu muncul dari dalam ruhaninya, Anggaplah ia lebih dari pada orang lain, dan biarkanlah dia membimbing kita menuju Alloh SWT dalam keadaan tenang dan tentram, asalkan tujuannya mestilah Alloh semata dan bukan gayrullah.
Ikutilah saran-saran ini dengan baik, semoga Alloh akan membimbing kita ke jalan yang menuju pintu-Nya
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al-fatihah:6)

Qolbu Quran adalah Hatinya Al Quran


Rosululloh SAW bersabda :
“Al Quran itu terdiri dari 30 juz, 114 surat ; dan dalam tiap - tiap surat ada hatinya”.
Fadilah Qolbu Quran :
1. Sama dengan taman membaca Al Quran 1000 x ;
2. Ibadah Haji & Umroh ;
3. Shodaqoh mas sebesar gunung Uhud ;
4. Barang siapa yang menulis atau menyimpan Qolbu Quran di rumahnya, maka dia diharamkan untuk masuk neraka ; dihapuskan segala dosanya dan diqobul segala maksud dan tujuannya.
Selain itu, barang siapa yang membaca Qolbu Quran, Insya Alloh akan :
1. Dipanjangkan umurnya ;
2. Sehat jasmani dan rohani ;
3. Ditetapkan Iman – Islamnya ;
4. Meninggal dalam keadaan khusnul Khotimah ;
5. Hatinya diberikan nur Al Quran ;
6. Dihasilkan segala maksud dan tujuannya ;
7. Selamat di dunia dan di akhirat ;
QOLBU QURAN :
Bismillaahir rohmaanir rohiim. (Q. S. Al-Fatihah : 1)
Maaliki yaumiddiin. (Q. S. Al-Fatihah : 4)
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. (Q. S. Al-Fatihah : 5)
Shummum bukmun ‘umyung fahum laayar ji’uun.
(Q. S. Al-Baqarah : 18)
Qul ingkungtum tuhibbunallooha fattabi’uunii yuhbib-kumullooha wayaghfirlakum dzunuu bakum.
Walloohu ghofuurur rohiim. (Q. S. Ali Imran : 31)
Mayyuthi’ir rosuula faqod athoo ‘allooh. Wamang tawallaa famaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo.
(Q. S. An Nisa : 80)
I’lamuu annallooha syadiidul ‘iqoob. (Q. S. Al-Maidah : 98)
Laatud rikuhul abshooru wahuwa yudrikul abshooro wahuwal lathiiful khobiir. (Q. S. Al-An’am : 103)
Qoola robbanaa zholamnaa angfusanaa wa illam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuu nannaa minal
khoosiriin. (Q. S. Al-A’raf : 23)
Falam taqtuluuhum walaa kinnallooha qotalahum. Wamaa romaita idzromaita walaa kinnallooha romaa. Waliyubliyal mu-miniina minhu balaa - an hasanaa. Innallooha samii’ul ‘aliim. (Q. S. Al-Anfal : 17)
Qullay yushiibanaa illaa maa kataballoohu lanaa huwa maulanaa wa 'alalloohi fal yatawakkalil mu minuun. (Q. S. At Taubah : 51)
Waiy yamsaskalloohu bidlurring falaa kaasyifa lahuu illaa huwa. Wa-iyyuridka bikhoiring falaa roodda lifadllih, yushiibu bihii mayyasyaa-u min ‘ibaadih. Wahuwal ghofuurur rohiim. (Q. S. Yunus 103)
Walaqod arsalna muusaa bi-aayaatinaa wasulthoonim mubiin. (Q. S. Hud : 96)
Idz qoola yuusufu li-abiihi yaa abati innii ro-aitu ahada ‘asyaro kaukabaw wasysyamsa wal qomaro ro-aituhum li saajidiin. (Q. S. Yusuf : 4)
Salaamun ‘alaikum bimaa shobartum. Fani’ma ‘uqbaddaar. (Q. S. Ar Rad : 24)
Robbanaa innaka ta’lamu maa tukhfii wamaa nu’lin. Wamaa yakhfaa ‘alalloohi ming syai-ing fil ardli walaa fissamaa-i. (Q. S. Ibrahim : 38)
Alhamdu lillaahilladzii wahabalii ‘alal kibari ismaa’iila wa ishaaq. Inna robbii lasamii’ud du’aa-i. (Q. S. Ibrahim : 39)
Nabbi- ‘ibaadii annii anal ghofuurur rohiim. (Q. S. Al-Hijr : 49)
Ilaahukum ilaahuw waahid. Falladziina laa yu - minuuna bil akhiroti quluubuhum mungkirotuw wahum mustakbiruun. (Q. S. An Nahl : 22)
Wayas-aluunaka ‘anirruuh. Qulirruuhu min amri robbii wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qoliilaa. (Q. S. Al-Israa : 85)
Almaalu wal banuuna ziinatul hayaatid dun-yaa. Wal baaqiyaatush shoolihaatu khoirun ‘ingda robbika tsawaabaw wa khoirun amalaa. (Q. S. Al-Kahfi : 46)
Wadzkur fil kitaabi idriis. Innahuu kaana shiddiiqon nabiyyaa. (Q. S. Maryam : 56)
Warofa’naahu makaanan ‘aliiyyaa. (Q. S. Maryam : 57)
Qoola robbisy rohlii shodri wayassirlii amri. (Q. S. Ath Tha Ha : 25 & 26)
Qulna yaanaaru kuunii bardaw wasalaaman ‘alaa ibroohiim. (Q. S. Al-Anbiya : 69)
Wamay yad’u ma’alloohi ilaahan aakhoro laa burhaana lahu bihi fa innamaa hisaabuhu ‘ingda robbih. Innahuu laa yuflihul kaafiruun. (Q. S. Al-Mu’minun : 117)
Innallooha yud khilulladziina aamanuu wa ‘amilush shoolihaati jannaating tajrii ming tahtihal anhaar. Innallooha yaf’alu maayuriid. (Q. S. Al-Hajj ; 14)
Qoola robbing shurnii bimaa kadzdzabuun. (Q. S. Al-Mu’minun : 26)
Wa ‘adalloohalladziina aamanuu mingkum wa ‘amilush shoolihaati layastakhlifan nahum fiil ardli kamas takhlafal ladziina ming qoblihim walayumak kinanna lahum diina humulladzii artadloo lahum walayubad dilannahum mimba’di khoufihim amnaa. Ya’buduu nani laa yusyrikuuna bi syai-aa. Wamang kafaro ba’da dzaalika fa-ulaa ika humul faasiquun. (Q. S. An Nur : 55)
Walladziina yaquuluuna robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyatinaa qurrota a’yuniw waj’alnaa lilmuttaqiina imaamaa. (Q. S. Al-Furqan : 74)
Fa-angjainaahu wamam ma’ahu filfulkil masyhuun. (Q. S. Asy Syu’ara : 119)
Tsummagh roqnaa ba’dul baaqiin. (Q. S. Asy Syu’ara : 120)
Inna fii dzaalika la ayataw wamaa kaana aktsaruhum mu-miniin. (Q. S. Asy Syu’ara : 121)
Innahu ming sulaimaana wa innahu bismillaahir rohmaanir rohiim. (Q. S. An Naml : 30)
Walaa tad’u ma’alloohi ilaahan aakhoro laa ilaaha illaahuwa kullu syai-in haalikun illaa wajhahu lahul hukmu wa ilaihi turja’uun. (Q. S. Al-Qashosh : 88)
Qoola robbing shurnii ‘alal qoumil mufsidiin. (Q. S. Al-Ankabut : 30)
Walam yakul lahum ming syurokaa ihim syufa’aa-u wakaanuu bisyurokaa ihim kaafiriin. (Q. S. Ar Rum : 13)
Lillaahi maa fissamaawaati wal ardli. Innallooha huwal ghoniyyul hamiid. (Q. S. Luqman : 26)
Walau taroo idzil mujrimuuna naakisuu ru-uusihim ‘ingda robbihim robbanaa abshornaa sami’naa farji’naa na’mal shoolihan innaa muuqinuun. (Q. S. Sajdah : 12)
Tawakkal ‘alalloohi wakafaa billaahi wakiilaa. (Q. S. Al-Ahzab : 3)
Walaqod aatainaa daawuuda minnang fadl-laa. Yaa jibaalu awwibi ma’ahu wath-thoiro wa alanna lahul hadiid. Ani’mal tsaabighootiw waqoddir fissardi wa’maluu shoolihan innii bimaa ta’maluuna bashiir. (Q. S. Saba : 10 & 11)
Innallooha ‘aalimul ghoibis samaawaati wal ardli innahu ‘aliimum bidzaatish shuduur. (Q. S. Fathir : 38)
Salaamung qoulam mirrobbir rohiim. (Q. S. Yaa Siin : 58)
Subhaanalloohi ‘ammaa yashifuun. (Q. S. Ash Shaffat : 159)
Fasajadal malaa-ikatu kulluhum ajma’uun. (Q. S. Shad : 73)
Alloohu khooliqu kulli syai-iw wahuwa ‘alaa kulli syai-iw wakiil. (Q. S. Az Zumar : 62)
Walaqod arsalnaa muusaa bi aayaatinaa wa sulthoonim mubiin. (Q. S. Al-Mu’min : 23)
Waman ahsanu qoulam mimmang da’aa ilalloohi wa ‘amila shoolihaa. Waqoola innanii minal muslimiin. (Q. S. Al-Fush Shilat : 33)
Alloohu lathiifum bi’ibaadihi yarzuqu mayyasyaa-u wahuwal qowiyyul ‘aziiz. (Q. S. Asy Syuura : 19)
Udkhulul jannata angtum wa azwaajukum tuhbaruun. (Q. S. Az Zukhruf : 70)
Rohmatam mirrobbika innahu huwas samii’ul ‘aliim. (Q. S. Ad Dukhan : 6)
Haadzaa hudaw walladziina kafaruu bi-aayaati robbihim lahum ‘adzaabum mirrijzin ‘aliim. (Q. S. Al-Jaatsiyah : 11)
Awalam yarou annalloohal ladzii kholaqos samaawaati wa ardli walam ya’ya bikholqihinna biqoodi ‘alaa ayyuhyiyal mautaa. Balaa innahu ‘alaa kulli syai-ing qodiir. (Q. S. Al-Ahqaf : 33)
Innamal hayaa taddun-yaa la’ibuw walah. (Q.S. Muhammad:36)
Innalladziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uu nallooha yadulloohi fauqo aidihim. Famannakatsa fa-innamaa yangkutsu ‘alaa nafsih. Waman aufaa bimaa ‘ahada ‘alaihullooha fasayu-tiihi ajron ‘azhiimaa. (Q. S. Al-Fat : 10)
Innalladziina yunaadu naka miw-warooil hujurooti aktsaruhum laaya’qiluun. (Q. S. Al-Hujurat : 4)
Man khosyiyar rohmaana bil ghoibi wajaa-a biqolbim muniib. (Q. S. Qaf : 33)
Wamaa kholaqtul jinna wal ingsa illaa liya’buduun. (Q. S. Adz Dzaariyaat : 56)
Qul tarobshuu fa - innii ma’akum minal mutarobbishiin. (Q. S. Ath Thur : 31)
Waqouma nuuhim mingqoblu innahum kaanuuhum azhlama wa-athghoo. (Q. S. An Najm : 52)
Fafatahnaa abwaabas samaa-i bimaa-im munhamir. (Q. S. Al-Qomar : 11)
Kullu man ‘alaihaa faan. (Q. S. Ar Rahman : 26)
Wayabqoo wajhu robbika dzuljalaali wal ikroom. (Q. S. Ar Rahman : 27)
Farouhuw waroihaanuw wajannaatu na’iim. (Q. S. Al-Waqi’ah : 89)
Wamaghfirotum minalloohi waridlwaan. Wamal hayaatad dun-yaa illaa mataa’ul ghuruur. (Q. S. Al-Hadid : 20)
A’adalloohu lahum ‘adzaabang syadiidaa. Innahum saa-a maa kaanuu ya’maluun. (Q. S. Al-Mujadalah : 15)
Walladziina jaa-u mimba’dihim yaquuluuna robbanagh firlanaa wali ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu robbanaa innaka ro-uufur rohiim. (Q. S. Al-Hasyr : 10)
Robbanaa laa taj’alnaa fitnatal lilladziina kafaruu waghfirlanaa robbanaa innaka angtal aziizul hakiim. (Q. S. Al-Mumtahanah : 5)
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu hal adukkuluhum ‘alaa tijaaroting tungjiikum min ‘adzaabin ‘aliim. (Q. S. Ash Shaff : 10)
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu idzaa nuudiya lishshoolihaati miy yaumil jumu’ati fas ‘au ilaa dzikrillaahi wadzarul bai’a dzaalikum khoirul lakum ingkungtum ta’lamuun. (Q. S. Al-Jumu’ah : 9)
Sawaa un ‘alaihim astaghfarta lahum amlam tastaghfir lahum layyaghfirolloohu lahum. Innallooha laa yahdil qoumal faasiqiin. (Q. S. Al-Munaafiquun : 6)
Alloohu laa ilaaha illaa huwa wa ‘alalloohi fal yatawakkalil mu’minuun. (Q. S. Ath Thagaabun : 13)
Fadzaaqot wabaala amrihaa wakaana ‘aaqibatu umrihaa khusroo. (Q. S. Ath Thalaaq : 9)
Ingtatuubaa ilalloohi faqod shoghot quluu bukumaa wa ing tazhooharoo ‘alaihi fainnallooha huwa maulahuu wajibriilu wa shoolihul mu’miniin. Wal malaaikatu ba’da dzaalika zhoohiroo. (Q. S. At Tahriim : 4)
Qooluu balaa qodjaa anaa nadziir. (Q. S. Al-Mulk : 9)
Inna lilmuttaqiina ‘ingda robbihim jannaatin na’iim. (Q. S. Al-Qalam : 34)
Faidzaa nufikho fishshuuri nafkhotuw waahidah. (Q. S. Al-Haaqqoh : 34)
Innal ingsaana kholiqohaluu’aa. (Q. S. Al-Ma’aarij : 19)
Yursilissamaa-a ‘alaikum midrooroo. (Q. S. Nuh : 11)
Qul innii laa amliku lakum dhorrow walaa rosyadaa. (Q. S. Al-Jin : 21)
Washbir ‘alaa maa yaquuluuna wahjurhum hajrong jamiilaa. (Q. S. Al-Muzzammil : 10)
Wamahhattu lahu tamhiidaa. (Q. S. Al-Mudatstsir : 14)
Wujuuhuy yauma idzin naadhiroh. (Q. S. Al-Qiyaamah : 22)
Ilaa robbihaa naazhiroh. (Q. S. Al-Qiyaamah : 23)
Idzaa roaituhum hasibtahum lu-luam mangtsuuroo. (Q. S. Al-Insaan : 19)
Alam nakhlukkum mimmaa-im mahiin. (Q. S. Al-Mursalaat : 20)
Jazaa-am mirrobbika ‘athoo-an hisaabaa. (Q. S. An Naba : 36)
Wa ammaa man khoofa maqooma robbihi wanahan nafsa ‘anil hawaa. (Q. S. An Naazi’aat : 40)
Min ayyi syai-in kholaqoh. (Q. S. Abasa : 18)
Min nuthfatin kholaqohu faqoddaroh. (Q. S. Abasa : 19)
Inhuwa illaa dzikrul lil ‘aalamiin. (Q. S. At Takwiir : 27)
Yaa ayyuhal ingsaanu maa ghorroka birobbikal kariim. (Q. S. Al-Infithaar : 6)
‘Ainay yasyrobu bihal muqorrobuun. (Q. S. Al-Muthaffifiin : 28)
Innahu Zhonna allayyahuur. (Q. S. Al-Insyiqaaq : 14)
Balaa inna robbahu kaana bihi bashiiroo (Q.S. Al-Insyiqaaq : 15)
fa’ ‘alullimaa yuriid. (Q. S. Al-Buruuj : 16)
Yakhruju mimbainish shulbiw wattaroo-ib (Q.S. Ath Thaariq : 7)
Wadzakarosma robbihi fashollaa. (Q. S. Al-A’la : 15)
Wa ilal jibaali kaifa nushibat. (Q. S. Al-Ghaasyiyah : 19)
Wajaa-a robbuka walmalakushoffang shoffaa. (Q. S. Al-Fajr : 22)
Wahadainaahun najdaiin. (Q. S. Al-Balad :10)
Faqoola lahum rosuululloohi naaqotalloohi wasuqyaahaa. (Q. S. Asy Syams : 13)
Wamaa yughnii ‘anhumaaluhuu idzaa taroddaa. (Q. S. Al-Lail : 11)
Wawajadaka ‘aa ilang fa anghnaa. (Q. S. Ash shuhaa : 8)
Warofa’naa laka dzikrok. (Q. S. Al-Insyirah : 4)
Tsumma rodadnaahu asfala saafiliin. (Q. S. At Tiin : 5)
Alam ya’lam bi annallooha yaroo. (Q. S. Al-Alaq : 14)
Khoirum min alfi syahr. (Q. S. Al-Qadr : 3)
Tanazzalul malaa-ikatu warruuhu fiihaa. (Q. S. Al-Qadr : 4)
Wamaa umiruu illaa liya’budullooha mukhlishiina lahuddiin. (Q. S. Al-Bayyinah : 5)
Asytaatal liyurou a’maalahum. (Q. S. Al-Zalzalah : 6)
Wa innahu lihubbil khoiri lasyadiid. (Q. S. Al-Aadiyat : 8)
Fa ammaa mang tsaqulat mawaaziinuh. (Q. S. Al-Qaari’ah : 6)
Fahuwa fii ‘iisyatir roodhiyah. (Q. S. Al-Qaari’ah : 7)
Kallaa saufata’lamuun. (Q. S. At Takaasur : 3)
Watawaa shoubil haq. (Q. S. Al-Ashr : 3)
Wamaa adrookamal huthomah. (Q. S. Al-Humazah : 5)
Wa arsala ‘alaihim thoiron abaabiil. (Q. S. Al-Fiil : 3)
Alladzii ath’amahum mingjuu’. (Q. S. Al-Quraisy : 4)
Fawailul lil musholliin. (Q. S. Al-Maa’uun : 4)
Alladziinahum angsholaatihim saahuun. (Q. S. Al-Maa’uun : 5)
Fasholli lirobbika wanhar. (Q. S. Al-Katsar : 2)
Walaa angtum ‘aabiduun. (Q. S. Al-Kaafiruun : 3)
Yadkhuluuna fiidiinillaahi afwaajaa. (Q. S. An Nashr : 2)
Wayas laanaarong dzaatalahab. (Q. S. Al-Lahab : 3)
Alloohush shomad. (Q. S. Al-Ikhlas : 2)
Wamingsyarri ghoosiqin idzaa waqob. (Q. S. Al-Falaq : 3)
Ilaahinnaas. (Q. S. An Naas : 2)

Allah Hilang Dari Rumah Jiwa

Allah Hilang Dari Rumah Jiwa
Dalam pergumulan jiwa kita sehari-hari diakui atau tidak sering kali terjadi perselingkuhan spiritual. Yang paling sederhana dari perselingkuhan itu ketika kita sedang menutupi jiwa kita dari Allah, berakhir dengan tindakan kita: melanggar aturan Allah.
Begitu kita langgar “janji cinta” antara kita dengan Allah, Kemahacemburuan Allah telah mengoyak jiwa kita tanpa kita sadari sudah begitu lama kita berpaling dari Allah. Bahkan Allah hanya kita jadikan alibi sehari-hari, kita jadikan alasan-alasan kegagalan, kalau perlu nama Allah kita jualbelikan dalam pasar kebudayaan dan politik, atau kepentingan nafsu lainnya.
Lalu, Allah kita bikin tarik ulur dalam qalbu kita. terkadang Allah begitu jauh, terkadang begitu dekat, terkadang hadir, terkadang hilang, terkadang pula kita hempaskan ke hamparan hawa nafsu kita. Seakan-akan kita ini memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya, bahkan termasuk mengatur Allah dalam gerak-gerik jiwa kita, khayalan dan persepsi kita. Bahkan Nama Allah sering kita sebut hanya untuk diketahui public bahwa kita akrab dengan Allah, kita ahli dzikir, kita sering munajat pada Allah. Padahal hanya kebusukan jiwa kita yang mendorong demikian. Seperti seseorang yang berteriak, “Saya lakukan ini Lillahi Ta’ala,…! Saya ikhlas, lho,… ini demi Allah!”, sadar atau tidak ia menikmati riya’ jiwanya, agar disebut sebagai orang yang ikhlas. Dan inilah yang memang dimaui oleh masyarakat syetan. Perselingkuhan hebat.
Hadirnya syetan, keakraban Iblis, dan gejolak-gejolak nafsu, sebanding (pada saat yang sama) dengan “hilang”nya Allah dari gravitasi jiwa kita, dari denyut nadi dan jantung kita, dari gerak-gerik hati kita. Itulah tercerabutnya iman kita kepadaNya, ketika Allah sengaja kita abaikan. Begitu kita sadar, ternyata sedang berada di tengah kubang lumpur yang memuakkan.
Allah memang “hilang” dalam kemunafikkan kita. Allah juga hilang dalam kefasikan kita. Allah tidak hadir dalam kedzalimam jiwa kita. Allah begitu terlantarkan ketika hawa nafsu kita menyeret ke lembah kehinaan kita. Allah, bahkan tidak diakui dalam lembah-lembah kekafiran. Allah, begitu sebanding dengan berhala-hala duniawi, berhala-berhala ambisi kita, berhala-berhala harta kita, berhala pesona kemolekan, dan itu begitu jelas ketika kemusyrikan membuka pintunya lebar-lebar. Na’udzubillah min dzaalik.
Kemunafikan dan kefasikan itu hadir dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, dalam hubungan sosial, hubungan keluarga, hubungan bisnis dan politik, hubungan-hubungan interaktif kejiwaan kita antar sesama. Bahkan kita juga diam-diam ada yang menikmati Kemunafikan dan kefasikan itu, sebagai “tandingan” Tuhan dalam dirinya. Lalu dengan begitu mudah Allah dijadikan bemper. “Kita gagal, memang sudah takdir Allah…”. Tetapi kalau sukses, “Wah ini berkat kerja keras kita semua, ini berkat kreativitas saya dan ide saya…” lalu Allah dimana? Kenapa keakuan bisa menghapus Allah? Apakah keakuan lebih besar dari pada Allah?
Hari-hari ini memang hawa nafsu sedang menjadi mendung di atas langit-langit anda. Mendung itu sesungguhnya adalah awan penghinaan Allah pada makhlukNya, dan hanya mereka yang selalu menghadirkan Allah dalam qalbunya, yang terlindung dari penghinaan itu. Banyak orang-orang yang sedang strees, dan ketika nejalani tekanan hidupnya , mereka tidak kembali kepada Allah. Sangat terasa sekali betapa atmosgir Ridlo Allah tertutup oleh kepentingan ego masing-masing. Kemudian, tentu saja, seseorang kehilangan rasa ridlonya terhadap apa yang telah ditentukan Allah.
Hari-hari ini, betapa sempitnya dada orang, ketika rasa syukur saja telah hilang dari lembah jiwanya. Apalagi mengembangkan senyum bunga di hatinya. Mereka lebih senang memuja egonya dari pada memuja Allah atas-nikmat-nikmatNya. Padahal Allah dengan segala CintaNya tak henti-hentinya memanggil, “Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu…..Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari diri-Ku…”
Hari-hari ini betapa banyak orang yang kelaparan dalam kegersangan dalam kegersangan arus kehidupan modern. Jiwanya lapar, karena qalbunya tak pernah ditegukkan air dahaga yang menyejukkan, tidak pernah disuapi dengan suapan-suapan dzikrullah, syukur, tawakkal, dan qana’ah. Lalu dimana-mana berkembang virus yang sangat menakutkan: Penyakit jiwa yang merubah sosok-sosok kehidupan seperti binatang.
Hari-hari ini begitu banyak orang memburu kemuliaan, kebesaran, derajat-derajat, tetapi mereka lupa bahwa yang mereka tapaki adalah bukit-bukit kegersangan yang fana. Fatamorgana itu merasuki cita-cita, hasrat dan mimpi-mimpi. Bahwa gundukan tanah tinggi itu, sesungguhnya adalah gundukkan dari lobang-lobang kuburan kefanaanya, keruntuhan dan kehinaannya. Lalu Ibnu Athaillah as-Sakandary mengingatkan, “Janganlah kalian mencari kemuliaan pada hamparan kehinaan yang sirna. Carilah kemuliaan pada hamparan yang abadi, tak pernah fana dan sirna…”. Dan tak ada keabadian yang menjadi harapan kita semua, melainkan Allah yang hadir dalam kebersamaan kita.
Fafirruu Ilallah (kembalilah kepada Allah)! Sebagaimana ketika Rasululah, Muhammad SAWb dipeluk oleh jibril As, di gua kefanaan Hira’, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu…”. Lalu Rasul pun membacanya dengan Nama Tuhannya, dan nama itu tidak lain adalah Allah. Rasul membaca dengan gemuruh Allah…Allah…Allah sampai sekujur tubuh gemetar dalam kemajdzuban (ekstase Ilahiyah), tetapi justru itulah rasulullah SAW bisa menirukan apa yang dituntun Jibril As.
Apakah Allah masih terus berubah diri Anda? Sesungguhnya yang berubah itu adalah diri anda, bukan Allah. Asma’, Sifat, Af’aal, dan Dzatullah tidak berubah selamanya, sejak dahulu hingga abadi kelak, Allah tetap sebagaimana adaNya.
Apakah anda masih terus menggugat Allah menggugat janji Allah, menggugat cintanya Allah? Padahal gugatan itu adalah keresahan hawa nafsu anda, yang sangat pahit ketika menerima kebenaran Allah. Dan gugatan itu akan berhenti ketika anda sudah mampu menggugat diri anda sendiri. Sebab kesombongan intelektual anda, kesombongan moral anda, kesombongan jabatan anda, kesombongan fasilitas dan kekuasaan anda, kesombongan popularitas anda, hanyalah kotoran debu yang membungkus diri anda, lalu anda duga itu sebagai kemuliaan, padahal hakikatnya adalah kehinaan.
Apakah anda masih terus mencari Allah? Padahal Allah tidak pernah hilang, Allah tidak ghaib, Allah juga tidak pernah bergerak dari sisi anda. Hanya imajinasi liar andalah yang melemparkan diri anda dalam hijab yang gelap sehingga anda merasa kehilangan Allah.
Apakah anda juga masih menuntut sesuatu dari Allah? Ini sungguh tidak sopan, tidak etis dan tidak punya adab di depan Allah, karena anda pasti sangat mencurigai Allah, karena anda pasti tidak yakin pada Allah. Apakah modal kita, bekal kita, prestasi amal kita, sehingga kita punya hak menuntut Allah? Padahal kita tak pernah memiliki modal, tak pernah berbuat, tak pernah membuat bekal. Sebab yang menggerakkan kepatuhan, amal, taat, ibadah kita itu, Allah juga!
Apakah anda masih mencari pemenuhan hasrat itu kepada selain Allah? Sungguh, anda tak pernah punya rasa malu kepada Allah. Bagaimana bisa anda lakukan tindakan seperti itu, sedangkan Allah mencukupi anda, melindungi anda, mengijabahi doa anda, memberi nafas anda, menjalankan darah anda, dan mendetakkan jantung anda, lalu kelak Allah memeluk anda. Kenapa anda masih sempat