Laman

Jumat, 05 Juli 2013

Istri - Istri Calon Penghuni Surga

Sifat istri shalihah bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya: 

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287) 

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya. 

3. Tidak memberikan Kemaluan nya kecuali kepada suaminya.

Al Quran :
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (an-Nuur: 2-3). 

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32) 

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” (al-Furqaan: 68-69). 

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (al-Mumtahanah: 12). 

HADIS : 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga jenis orang yang Allah tidak mengajak berbicara pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong,” (HR Muslim [107]). 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rauslullah saw. bersabda, “Tidaklah berzina seorang pezina saat berzina sedang ia dalam keadaan mukmin,” 

Masih diriwayatkan darinya dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika seorang hamba berzina maka keluarlah darinya keimanan dan jadilah ia seperti awan mendung. Jika ia meninggalkan zina maka kembalilah keimanan itu kepadanya,” (Shahih, HR Abu Dawud [4690]). 

Diriwayatkan dari al-Miqdad bin al-Aswad r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Bagaimana pandangan kalian tentang zina?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya maka ia haram sampai hari kiamat.” Beliau bersabda, “Sekiranya seorang laki-laki berzina dengan sepuluh orang wanita itu lebih ringan daripada ia berzina dengan isteri tetangganya,” (Shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [103]). 

4. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan) 

5. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”) 

6. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta’ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026) 

7. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907) 

8. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar’i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436) 

9. Melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah bersabda, ”Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa
kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya,selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan
suaminya, ketika suaminya pergi.” (HR Ibnu Majah). 

10. Amanah. Rasulullah bersabda, ”Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu …” (HR Hakim). 

11, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam
hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.”(QS Ar Rum [30]: 21). 

Demikianlah Istri shaleha itu menurut Kitab Suci Al Quran dan Hadis2 sahihsemoga Anda termasuk di dalam nya….

ADAB GURU TERHADAP MURID :


Ketahuilah hai saudara - saudaraku, tidaklah sah ilmu tanpa adanya adab, dan
tidaklah sah adab itu melainkan diketahui oleh masing - masing pihak.

1.   Menanggung jawab sesuatu pertanyaan yang di datangkan muridnya, dan di jawab dengan
      sebenar -  benarnya;
2.   Jangan lekas marah;
3.   Duduk dengan/di khemah dengan menundukkan kepala;
4.   Meninggalkan Takbur;
5.   Merendahkan diri;
6.   Jangan bercanda dengan murid, niscaya hilang keberkatan ilmu;
7.   Kasih sayang akan/dengan murid;
8.   Paham, sabar dan perlahan - lahan mengajar orang yang bebal;
9.   Menunjukkan yang baik pada orang yang bebal;
10. Jangan malu mengatakan yang tidak tahu, jika betul - betul tidak tahu,
      dan jangan pura - pura tahu akan hal yang tidak tahu;
11. Bersungguh - sungguh terhadap orang yang bertanya;
12. Mengatakan yang pahit itu wajib;
13. Melarang orang belajar ilmu jahat dan yang melanggar hukum Al-Qur'an;
14. Beramal menurut pengetahuan;
15. Melarang orang belajar Fardhu Kifayah sebelum Fardhu 'Ain;
16. Kembali kedasar, jikalau salah di ulang;
17. Beramal seperti/dengan ilmu, supaya di ikuti orang banyak.

ADAB MURID TERHADAP GURU :

1.   Mendahulukan salam kepada guru;
2.   Jangan banyak bicara di hadapan guru;
3.   Jangan membantah jika kurang nyata dan paham;
4.   Minta izin jika mau bicara;
5.   Jangan menceritakan orang lain di hadapan guru;
6.   Jangan berisyarat dan meletakkan di hadapan guru;
7.   Jangan berbisik dengan orang lain di hadapan guru;
8.   Jangan berpaling kekiri/kanan di hadapan guru;
9.   Jangan banyak soal atau banyak tingkah di hadapan guru;
10. Kalau guru datang jangan di tinggalkan;
11. Jangan salah sangka kepada guru, walaupun bersalah - salahan
       dengan bicaranya.

SYARAT THARIQAT :

1.   Ma'rifatullah, yakni : mengetahui syarat ma'rifat ada 2 (dua) :
      a.  Mengenal Qadim akan Allah Swt;
      b.  Mengenal Baharu, yaitu Muhaddas (diri kita).
2.  Yakin melihat pada Allah Swt dengan iman dan yakin,
      melihat 'ain basyariah tiada dengan dalil dan bernama;
3.  Alhot : Pemurah, suka memberi harta pada orang lain dan
      semata - mata karena Allah Swt;
4.  Shiddiq : Benar niat, benar perkataan dan benar perbuatan;
5.  Syukur : Syukur kepada Allah Swt di saat sakit dan senang;

ADAB THARIQAT :

1.   Berpegang I'tikad ahlussunnah wal jama'ah;
2.   Meninggalkan yang mudah - mudah pada syari'at dan mengerjakan
      yang berat - berat pada syara';
3.   Berkekalan yang berkepanjangan markobah pada Allah Swt dan
      selalu mengintai - intai Allah Swt;
4.   Berharap akan rahmat Allah Swt;
5.   Berpaling dari tiap - tiap yang selain daripada Allah Swt;
6.   Mahir, Khudur hati akan Allah Swt;
7.   Melazimkan bersunyi - sunyi hati ketika sedang ramai;
8.   Banyak menuntut ilmu agama;
9.   Memelihara nafas ketika nafas keluar masuk;
10. Merupakan diri seperti orang awam,
       jika kita lihat seorang ahli sufiyah, seolah - olah dia seperti
      orang bodoh atau seperti orang dungu, padahal orang itu
      ahli Allah Swt atau Wali Allah Swt;
11. Menyembunyikan Zikir sehingga Malaikat Muqarrobin
      yang terdekat dengan
      kita tiada mengetahui, jadi hanya
     Allah Swt yang maha mengetahui;
12. Berperangai seperti Rasulullah Saw,
      hentikan larangannya dan kerjakan suruhannya.

RUKUN THARIQAT :

1.   Mengetahui hukum yang takluk kepada Allah Swt
      atau ajaran Islam, kerjakan suruh hentikan larangan
      Allah Swt ;
2.   Halmu : Pengasih, Penyayang dan Penyantun;
3.   Sabar akan segala cobaan dan sabar mengerjakan taat,
      Ikhlas pada segala amal, bukan ia beramal mengharap
      mengharapkan masuk syurga dan bukan takut akan neraka serta
      bukan mengharap puji dan tuah;
4.   Ridha akan segala takdir Allah Swt akan dirinya;
5.   Khusnul Khalik : Berkelakuan baik dalam segala hal;

WAJIB THARIQAT :

1.   Mengerjakan Zikrullah:
2.   Banyak Taubat;
3.   Meninggalkan dunia dan perhiasannya;
4.   Mengikut suruh Allah Swt hentikan larangannya;
5.   Berbaik sesama makhluk;
6.   Ikhlas hatinya;

BINA THARIQAT :

1.  Takut akan Allah Swt;
2.  Banyak taubat;
3.  Menjauhi manusia, kecuali dalam darurat;
4.  Benci akan dunia;
5.  Pulangkan segala pekerjaan
     kepada Allah Swt baik ataupun buruk;
6.  Tiada ianya berikhtiar melainkan dengan ikhtiar Allah Swt.

ADAB ZIKIR :

a.  Adab sebelum berzikir :

1.  Taubat;
2.  Suci, artinya : Berwudhu';
3.  Ditempat yang bersih;
4.  Niat, sebagaimana yang disuruh Allah Swt dalam FirmanNYA :
     "Fazzkuruni adzkurkum", artinya : Ingatlah kamu kepadaku,
     niscaya aku akan ingat kepadamu.
5.  Mengucap dengan sangat takzimnya.

b.  Adab sewaktu berzikir :

1.   Duduk ditempat yang suci dan duduknya tawarruk kiri;
2.   Letakkan tangan di atas lutut kita;
3.   Menghadap kiblat, jika zikir sendirian
      tapi melingkar jika berjama'ah;
4.   Harumkan tempat duduk zikir, karena majelis zikir itu senantiasa
      di hadiri para malaikat dan jin mukmin;
5.   Berkekalan dengan ikhlas dan ingatnya kepada Allah Swt;
6.   Benar zikirnya lahir bathin;
7.   Makanan dan pakaian bersih dan dari hasil yang halal;
8.   Lokasi berzikir sedapat mungkin harus gelap remang - remang
      untuk menjaga panca indera dari hal yang
      terang lainnya, karena itulah kita usahakan berselubung sesuai
      dengan Firman Allah Swt : " Ya ayyuhal munammilu, Artinya:
      "Hai orang - orang yang berselubung";
9.  Memejamkan kedua mata;
10.Setiap berzikir harus dengan ikhlas;
11.Menafikan yang selain Allah Swt,
     sebab Allah Swt harus satu adanya;
12.Berzikir harus ikhlas;
13.Berzikirlah dengan serajin - rajinnya;
14.Ada sesuatu umpamanya, maka munajatlah pada Allah Swt atau
     Rabithah lah dan kabarkan kepada guru;
15.Menghindarkan lafadz yang salah dan berubah maknanya.

Abu Bakar As-Siddiq yang lembut hati - sebuah biografi dan studi analisi tentang permulaan sejarah islam sepeninggalan Nabi s.a.w. oleh Muhammad Husain Haekal

Sumber-sumber yang sampai kepada kita mengenai masa kecil  Abu Bakr tidak banyak membantu untuk mengenai pribadinya dalam situasi kehidupan saat itu. Cerita sekitar masa anak-anak dan  remajanya tidak juga memuaskan. Apa yang diceritakan tentang kedua  orangtuanya tidak lebih daripada sekedar menyebut nama saja.  Setelah Abu Bakr menjadi tokoh sebagai Muslim yang penting, baru  nama ayahnya disebut-sebut. Ada pengaruh Abu Bakr dalam kehidupan  ayahnya, namun pengaruh ayahnya dalam kehidupan Abu Bakr tidak  ada. Tetapi yang menjadi perhatian kalangan sejarawan waktu itu justru  yang menyangkut kabilahnya serta kedudukannya di  tengah-tengah masyarakat Kuraisy. Tak bedanya mereka itu dalam hal  ini dengan sejarah Arab umumnya. Dengan melihat pertaliannya  kepada  salah satu kabilah,1 (1 Kabilah atau suku merupakan susunan masyarakat Arab yang berasal dari satu  moyang, lebih kecil dari sya'b dan lebih besar dari  'imarah, kemudian berturut-turut  batn, 'imarah dan fakhz.  — Pnj.)  sudah cukup untuk mengetahui watak dan  akhlak mereka. Adakalanya yang demikian ini baik, dan kadang  juga  mereka yang percaya pada prinsip keturunan itu berguna untuk  menentukan kecenderungan mereka, kendati yang lain menganggap  penilaian demikian sudah berlebihan, dan ini yang membuat mereka tidak cermat dalarn meneliti.

Kabilahnya dan kepemimpinannya
Abu Bakr dari kabilah Taim bin Murrah bin Ka'b. Nasabnya  bertemu dengan Nabi pada Adnan. Setiap kabilah yang tinggal di  Mekah punya keistimewaan tersendiri, yakni ada tidaknya  hubungannya  dengan sesuatu jabatan di Ka'bah. Untuk Banu Abd  Manaf tugasnya siqayah dan rifadah, untuk Banu Abdid-Dar, liwa', hijabah dan nadwah, yang sudah berjalan sejak sebelum Hasyim kakek Nabi lahir. Sedang pimpinan tentara di pegang oleh Banu Makhzum, nenek moyang Khalid bin Walid, dan Banu Taim bin Murrah menyusun masalah diat  (tebusan darah) dan segala macam ganti rugi. Pada zaman jahiliah  masalah penebusan darah ini di tangan Abu Bakr tatkala posisinya cukup kuat, dan dia juga yang memegang pimpinan kabilahnya. Oleh  karena itu bila ia harus menanggung sesuatu tebusan dan ia meminta  bantuan Kuraisy, mereka pun percaya dan mau memberikan tebusan  itu, yang tak akan dipenuhi sekiranya orang lain yang memintanya.
Banyak buku yang ditulis orang kemudian menceritakan adanya pujian ketika menyinggung Banu Taim ini  serta kedudukannya di  tengahtengah  kabilah-kabilah  Arab.  Diceritakan  bahwa ketika  Munzir bin Ma'as-Sama' menuntut Imru'ul-Qais bin Hujr al-Kindi, ia  mendapat perlindungan Mu'alla at-Taimi (dari Banu Taim), sehingga  dalam hal ini penyair Imru'ul-Qais berkata:

Imru'ul-Qais bin Hujr
Telah didudukkan oleh Banu  Taim, "Masabihuz-Zalami"

Karena bait tersebut, Banu Taim dijuluki "Masabihuz-Zalami"  (pelita-pelita di waktu gelap).
Tetapi sumber-sumber yang beraneka ragam yang melukiskan  sifatsifat Banu Taim itu tidak berbeda dengan yang biasa dilukiskan  untuk kabilah-kabilah lain. Juga tidak ada suatu ciri khas yang bisa dibedakan dan dapat digunakan oleh penulis sejarah atau menunjukkan  suatu sifat tertentu kepada kabilah mana ia dapat digolongkan.  Sumber-sumber itu melukiskan Banu Taim dengan sifat-sifat terpuji:  pemberani, pemurah, kesatria, suka menolong dan melindungi tetangga  dan sebagainya yang biasa dipunyai oleh kabilah-kabilah Arab yang  hidup dalam iklim jazirah Arab.

Nama dan julukannya
Para penulis biografi Abu Bakr itu tidak terbatas hanya pada kabilahnya saja seperti yang sudah saya sebutkan, tetapi mereka  memulai juga dengan menyebut namanya dan nama kedua  orangtuanya.  Lalu melangkah ke masa anak-anak, masa muda dan  masa  remaja, sampai pada apa yang dikerjakannya. Disebutkan bahwa  namanya Abdullah bin Abi Quhafah, dan Abu Quhafah ini pun nama  sebenarnya Usman bin Amir, dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya  bernama Salma bint Sakhr bin Amir. Disebutkan juga, bahwa sebelum Islam ia bernama Abdul Ka'bah. Setelah masuk Islam oleh Rasulullah ia dipanggil Abdullah. Ada juga yang mengatakan bahwa tadinya ia bernama Atiq,   karena dari pihak ibunya tak pernah ada anak laki-laki yang hidup. Lalu  ibunya bernazar jika ia melahirkan anak laki-laki akan diberi nama  Abdul Ka'bah  dan akan disedekahkan kepada Ka'bah.  Sesudah Abu   Bakr hidup dan menjadi besar, ia diberi nama Atiq, seolah ia telah  dibebaskan dari maut.
Tetapi sumber-sumber itu lebih jauh menyebutkan bahwa Atiq itu bukan namanya, melainkan suatu julukan karena warna kulitnya yang putih. Sumber yang lain lagi malah menyebutkan, bahwa ketika  Aisyah putrinya ditanyai: mengapa Abu Bakr diberi nama Atiq ia  menjawab: Rasulullah memandang kepadanya lalu katanya: Ini yang  dibebaskan Allah dari neraka; atau karena suatu hari Abu Bakr  datang  bersama sahabat-sahabatnya lalu Rasulullah berkata: Barang  siapa ingin melihat orang yang dibebaskan dari neraka lihatlah ini. Mengenai gelar Abu Bakr yang dibawanya dalam hidup  sehari-hari sumber-sumber itu tidak menyebutkan alasannya, meskipun  penulis-penulis kemudian ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki  begitu karena ia orang paling dini (Bakr berarti dini (A). — Pnj.)dalam Islam dibanding dengan yang  lain.

Masa mudanya
Semasa kecil Abu Bakr hidup seperti umumnya anak-anak di  Mekah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja  sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda itu ia kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza. Dari perkawinan  ini lahir Abdullah dan Asma'. Asma' inilah yang kemudian dijuluki  Zatun-Nitaqain. Sesudah dengan Qutailah ia kawin lagi dengan  Umm  Rauman bint Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini lahir pula  Abdur-Rahman dan Aisyah. Kemudian di Medinah ia kawin dengan  Habibah bint Kharijah, setelah itu dengan Asma' bint Umais yang  melahirkan Muhammad. Sementara itu usaha dagangnya berkembang  pesat dan dengan sendirinya ia memperoleh laba yang cukup besar.

Perawakan dan perangainya
Keberhasilannya dalam perdagangan itu mungkin saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya. Berperawakan kurus, putih, dengan sepasang  bahu  yang  kecil dan  muka lancip dengan  mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas — begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummulmukminin. Begitu damai perangainya, sangat lemah lembut dan sikapnya tenang sekali. Tak mudah ia terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh  sikapnya yang selalu tenang, pandangannya yang jernih serta pikiran  yang tajam, banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan  masyarakat  yang tidak diikutinya. Aisyah menyebutkan bahwa ia tak pernah  minum minuman keras, di zaman jahiliah atau Islam, meskipun  penduduk Mekah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam khamar dan mabuk-mabukan. Ia seorang ahli genealogi — ahli silsilah — bicaranya sedap dan pandai bergaul.
Seperti dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab Sirah:
"Abu Bakr adalah laki-laki yang akrab di kalangan  masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga  Kuraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk-beluk  kabilah itu, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan  perangai yang sudah cukup terkenal. Karena suatu masalah,  pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang menemuinya, mungkin  karena pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak."

Kecintaannya pada Mekah dan hubungannya dengan Muhammad
Ia tinggal di Mekah, di kampung yang sama dengan Khadijah  bint Khuwailid, tempat saudagar-saudagar terkemuka yang membawa  perdagangan dalam perjalanan musim dingin dan musim panas ke  Syam1 dan ke Yaman. Karena bertempat tinggal di kampung itu,  itulah  yang membuat hubungannya dengan Muhammad begitu akrab  setelah Muhammad kawin dengan Khadijah dan kemudian tinggal  serumah. Hanya dua tahun beberapa bulan saja Abu Bakr lebih muda  dari Muhammad. Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak  berjauhan itu, persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan  perangainya, di samping ketidaksenangannya pada  kebiasaan-kebiasaan   Kuraisy — dalam kepercayaan dan adat — mungkin sekali itulah semua yang berpengaruh dalam persahabatan  Muhammad dengan Abu Bakr. Beberapa sumber berbeda pendapat,  sampai berapa jauh eratnya persahabatan itu sebelum Muhammad  menjadi Rasul. Di antara mereka ada yang menyebutkan bahwa  persahabatan itu sudah begitu akrab sejak sebelum kerasulan, dan  bahwa keakraban itu pula yang membuat Abu Bakr cepat-cepat menerima Islam.
Ada pula yang lain menyebutkan, bahwa akrabnya hubungan itu baru kemudian dan bahwa keakraban pertama itu tidak lebih hanya karena bertetangga dan adanya kecenderungan yang sama. Mereka yang mendukung pendapat ini barangkali karena kecenderungan Muhammad yang suka menyendiri dan selama bertahun-tahun sebelum kerasulannya menjauhi orang banyak. Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul teringat ia pada Abu Bakr dan kecerdasan otaknya. Lalu diajaknya ia bicara dan diajaknya menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu Abu Bakr pun menerima ajakan itu. Sejak itu terjadilah hubungan yang lebih akrab antara kedua orang itu. Kemudian keimanan Abu Bakr makin mendalam dan kepercayaannya kepada Muhammad dan risalahnya pun bertambah kuat. Seperti dikatakan oleh Aisyah: "Yang kuketahui  kedua orangtuaku sudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di  depan rumah kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami, pagi  atau  sore."

Menerima dakwah tanpa ragu dan sebabnya
Sejak hari pertama Abu Bakr sudah bersama-sama dengan  Muhammad melakukan dakwah demi agama Allah. Keakraban  masyarakatnya dengan dia, kesenangannya bergaul dan mendengarkan  pembicaraannya, besar pengaruhnya terhadap Muslimin yang  mula-mula  itu dalam masuk Islam itu. Yang mengikuti jejak Abu  Bakr menerima Islam ialah Usman bin Affan, Abdur-Rahman bin  Auf,  Talhah bin Ubaidillah, Sa'd bin Abi Waqqas dan Zubair bin  Awwam. Sesudah mereka yang kemudian  menyusul  masuk  Islam — atas  ajakan  Abu  Bakr — ialah  Abu Ubaidah bin larrah dan  banyak lagi yang lain dari penduduk Mekah.
Adakalanya  orang  akan  merasa  heran  betapa  Abu  Bakr. tidak merasa ragu menerima Islam ketika pertama kali disampaikan  Muhammad kepadanya itu. Dan karena menerimanya tanpa ragu itu  kemudiaYi Rasulullah berkata:



"Tak seorang pun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu  Bakr bin Abi Quhafah.  la tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu  ketika kusampaikan kepadanya."
Sebenarnya tak perlu heran tatkala Muhammad menerangkan kepadanya tentang tauhid dan dia diajaknya lalu menerimanya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi bila Muhammad menceritakan kepadanya mengenai gua Hira dan wahyu yang diterimanya, ia  mempercayainya tanpa ragu. Malah keheranan kita bisa hilang, atau  berkurang, bila kita ketahui bahwa Abu Bakr adalah salah seorang  pemikir Mekah yang memandang penyembahan berhala itu suatu  kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah mengenai benar  Muhammad — kejujurannya, kelurusan hatinya serta kejernihan  pikirannya. Semua itu tidak memberi peluang dalam hatinya untuk  merasa ragu, apa yang telah diceritakan kepadanya, dilihatnya dan  didengarnya. Apalagi karena apa yang diceritakan Rasulullah  kepadanya itu dilihatnya memang sudah  sesuai dengan pikiran yang  sehat. Pikirannya tidak merasa ragu lagi, ia sudah mempercayainya dan  menerima semua itu.

Keberaniannya menerima Islam dan menyiarkannya
Tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah penghargaan kita atas keberaniannya tampil ke depan umum dalam  situasi ketika orang masih serba menunggu, ragu dan sangat  berhati-hati. Keberanian Abu Bakr ini patut sekali kita hargai,  mengingat dia pedagang, yang demi perdagangannya diperlukan  perhitungan guna menjaga hubungan baik dengan orang lain serta  menghindari konfrontasi dengan mereka, yang akibatnya berarti  menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini dikhawatirkan  kelak  akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan para relasi  itu.
Berapa banyak orang yang memang tidak percaya pada  pandangan itu dan dianggapnya suatu kepalsuan, suatu cakap kosong  yang tak mengandung arti apa-apa, lalu dengan sembunyi-sembunyi  atau berpura-pura berlaku sebaliknya hanya untuk mencari selamat,  mencari keuntungan di balik semua itu, menjaga hubungan dagangnya dengan mereka. Sikap munafik begini kita jumpai bukan di kalangan  awamnya, tapi di kalangan tertentu dan kalangan terpelajarnya juga.  Bahkan akan kita jumpai di kalangan mereka yang menamakan diri  pemimpin dan katanya hendak membela kebenaran. Kedudukan Abu  Bakr yang sejak semula sudah dikatakan oleh Rasulullah itu, patut  sekali ia mendapat penghargaan, patut dikagumi.
Usaha Abu Bakr melakukan dakwah Islam itulah yang patut dikagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan semacam dia, merasa sudah cukup puas dengan mempercayainya secara diam-diam dan tak perlu berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Dan barangkali Muhammad pun merasa  cukup puas dengan sikap demikian itu dan sudah boleh dipuji. Tetapi Abu Bakr dengan menyatakan terang-terangan keislamannya itu, lalu  mengajak orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan  dakwahnya untuk meyakinkan kaum Muslimin yang mula-mula untuk  mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya,  inilah yang belum pernah  dilakukan  orang;  kecuali  mereka  yang   sudah  begitu  tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat  membela kebenaran demi kebenaran. Orang demikian ini sudah berada  di atas kepentingan hidup pribadinya sehari hari. Kita lihat, dalam  membela agama, dalam berdakwah untuk agama, segala kebesaran  dan kemewahan hidup duniawinya dianggapnya kecil belaka. Demikianlah keadaan Abu Bakr dalam persahabatannya dengan Muhammad, sejak ia memeluk Islam, hingga Rasulullah berpulang ke sisi Allah dan Abu Bakr pun kemudian kembali ke sisi-Nya.

Abu Bakr orang pertama yang memperkuat agama
Teringat saya tatkala Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab masuk Islam, betapa besar pengaruh mereka itu dalam memperkuat Islam, dan bagaimana pula Allah memperkuat Islam dengan kedua mereka itu. Keduanya terkenal garang dan berpendirian teguh, kuat, ditakuti oleh lawan. Juga saya ingat, betapa Abu Bakr ketika ia masuk Islam. Tidak ragu kalau saya mengatakan, bahwa dialah orang pertama yang ditempatkan Allah untuk memperkuat agama-Nya.  Orang yang begitu damai jiwanya, tenang, sangat lemah lembut dan  perkasa. Matanya mudah berlinang begitu melihat kesedihan menimpa  orang lain. Ternyata orang ini menyimpan iman yang begitu kuat  terhadap agama baru ini, terhadap Rasul utusan Allah. Ternyata ia tak dapat ditaklukkan.
Adakah suatu kekuatan di dunia ini yang dapat melebihi  kekuatan iman! Adakah suatu kemampuan seperti kemampuan iman  dalam hidup ini! Orang yang mengira, bahwa kekuatan despotisma  dan  kekuasaan punya pengaruh besar di dunia ini, ia sudah  terjerumus  ke dalam jurang kesalahan. Jiwa yang begitu damai, begitu  yakin dengan keimanannya akan kebenaran, yang mengajak orang  berdakwah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, dengan  cara yang lemah lembut, yang bersumber dari akhlak yang mulia dan  perangai yang lembut, bergaul dengan orang-orang lemah,  orang-orang  papa dan kaum duafa, yang dalam penderitaannya sebagai  salah satu sarana dakwahnya — jiwa inilah yang sepantasnya  mencapai sasaran sebagaimana dikehendaki, karena ia mudah diacu dan  keluar sesuai dengan pola yang ada padanya.
Itulah jejak Abu Bakr r.a. pada tahun-tahun pertama dakwah  Islam, dan terus berjalan  sampai pada waktu  ia memangku jabatan  selaku Khalifah, dan berlangsung terus sampai akhir hayatnya.

Melindungi golongan lemah dengan hartanya
Dalam menjalankan dakwah itu tidak hanya berbicara saja  dengan kawan-kawannya dan meyakinkan mereka, dan dalam  menghibur kaum duafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan  dianiaya oleh musuhmusuh dakwah, tidak hanya dengan kedamaian  jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni  mereka dengan hartanya. Digunakannya hartanya itu untuk membela  golongan lemah dan orangorang tak punya, yang telah mendapat  petunjuk Allah ke jalan yang benar, tetapi lalu dianiaya oleh  musuh-musuh kebenaran itu. Sudah cukup diketahui, bahwa ketika ia masuk Islam, hartanya  tak kurang dari empat puluh ribu dirham yang disimpannya dari hasil  perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus berdagang dan  mendapat laba yang cukup besar. Tetapi setelah hijrah ke Medinah  sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal lima ribu dirham.  Sedang semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya,  kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan  Allah dan demi agama dan Rasul-Nya. Kekayaannya itu digunakan  untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk  Islam,  yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain  hanya karena mereka masuk Islam.
Suatu hari Abu Bakr melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya  dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati  dengan begitu, karena ia masuk Islam. Dalam keadaan semacam itu  tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: Ahad, Ahad.  Ketika  itulah ia dibeli oleh Abu Bakr kemudian dibebaskan! Begitu juga Amir bin Fuhairah oleh Abu Bakr ditebus dan ditugaskan  menggembalakan kambingnya. Tidak sedikit budak-budak itu yang  disiksa, laki-laki dan perempuan, oleh Abu Bakr dibeli lalu  dibebaskan.

Peranan sebagai semenda Nabi
Tetapi Abu Bakr sendiri pun tidak bebas dari gangguan Kuraisy. Sama halnya dengan Muhammad sendiri yang juga tidak lepas dari  gangguan itu dengan kedudukannya yang sudah demikian rupa di  kalangan kaumnya serta perlindungan Banu Hasyim kepadanya.  Setiap Abu Bakr melihat Muhammad diganggu oleh Kuraisy ia  selalu  siap membelanya dan mempertaruhkan nyawanya untuk  melindunginya. Ibn Hisyam menceritakan, bahwa perlakuan yang paling jahat dilakukan Kuraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan dewa-dewa mereka dicela. Suatu hari mereka berkumpul di Hijr, dan satu sama lain mereka berkata: "Kalian mengatakan apa yang didengarnya dari kalian dan  apa yang kalian dengar tentang dia. Dia memperlihatkan kepadamu  apa yang tak kamu sukai lalu kamu tinggalkan dia."
Sementara mereka dalam keadaan serupa itu tiba-tiba datang Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Sekaligus ia diserbu  bersama-sama oleh mereka dan mengepungnya seraya berkata: Engkau  yang berkata begini dan begini? Maksudnya yang mencela  berhala-berhala dan kepercayaan mereka. Maka Rasulullah   Sallallahu   'alaihi wasallam pun menjawab: Ya, memang aku yang  mengatakan. Salah seorang di antara mereka langsung menarik  bajunya.  Abu Bakr sambil menangis menghalanginya seraya  katanya:   Kamu  mau membunuh orang yang mengatakan hanya  Allah Tuhanku! Mereka kemudian bubar. Itulah yang kita lihat  perbuatan Kuraisy yang luar biasa kepadanya.
Tetapi peristiwa ini belum seberapa dibandingkan dengan  peristiwaperistiwa lain yang benar-benar memperlihatkan keteguhan  iman Abu Bakr kepada Muhammad dan risalahnya itu. Sedikit pun  tak  pernah goyah.  Dan  iman  itu jugalah yang membuat tidak   sedikit  kalangan Orientalis tidak jadi melemparkan tuduhan kepada  Nabi, seperti yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka  berlebih-lebihan. Dengan ketenangan dan kedamaian hatinya yang  demikian rupa, keimanan Abu Bakr tidak akan sedemikian tinggi,  kalau ia tidak melihat segala perbuatan Rasulullah yang memang  jauh dari segala yang meragukan, terutama pada waktu Rasulullah   sedang menjadi sasaran penindasan masyarakatnya. Iman yang mengisi  jiwa Abu Bakr ini jugalah yang telah mempertahankan Islam,  sementara yang lain banyak yang meninggalkannya tatkala  Rasulullah  berbicara kepada mereka mengenai peristiwa Isra.

Sikapnya mengenai kisah Isra
Muhammad berbicara kepada penduduk Mekah bahwa Allah telah memperjalankannya malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa  dan bahwa ia bersembahyang di sana. Oleh orang-orang musyrik  kisah  itu diperolok, malah ada sebagian yang sudah Islam pun merasa  ragu. Tidak sedikit orang yang berkata ketika itu: Soalnya sudah  jelas.  Perjalanan kafilah Mekah-Syam yang terus-menerus pun  memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin  hanya satu malam saja Muhammad pergi pulang ke Mekah!
Tidak sedikit mereka yang sudah Islam kemudian berbalik  murtad, dan tidak sedikit pula yang masih merasa sangsi. Mereka pergi  menemui Abu Bakr, karena mereka mengetahui keimanannya dan  persahabatannya dengan Muhammad. Mereka menceritakan apa yang  telah dikatakannya kepada mereka itu mengenai Isra. Terkejut  mendengar apa yang mereka katakan itu Abu Bakr berkata:
"Kalian berdusta."
"Sungguh," kata mereka. "Dia di mesjid sedang berbicara dengan orang banyak."
"Dan kalaupun itu yang dikatakannya," kata Abu Bakr lagi,  "tentu ia mengatakan yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku,  bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam  atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan."
Abu Bakr lalu pergi ke mesjid dan mendengarkan Nabi yang  sedang melukiskan keadaan Baitulmukadas. Abu Bakr sudah pernah  mengunjungi kota itu.
Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata: "Rasulullah, saya percaya."
Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan "as-Siddlq". (Siddiq, orang yang selalu membenarkan, percaya, yang menerapkan kata dengan perbuatan, yang kemudian menjadi gelar Abu Bakr (al-Mu'jam al-Wasit); orang yang  mencintai kebenaran, yakni Nabi Ibrahim dan Nabi Idris (Qur'an, 19. 41, 56). — Pnj.)
Pernahkah suatu kali orang bertanya dalam hati: Sekiranya Abu Bakr juga sangsi seperti yang lain mengenai apa yang diceritakan Rasulullah tentang Isra itu, maka apa pula kiranya yang akan terjadi dengan agama yang baru tumbuh ini, akibat kesangsian itu?  Dapatkah orang memperkirakan berapa banyak jumlah orang yang akan jadi murtad, dan goyahnya keyakinan dalam hati kaum Muslimin yang  lain? Pernahkah kita ingat, betapa jawaban Abu Bakr ini  memperkuat  keyakinan orang banyak, dan betapa pula ketika itu ia telah  memperkuat kedudukan Islam?
Kalau dalam hati orang sudah bertanya-tanya, sudah memperkirakan dan sudah pula ingat, niscaya ia tak akan ragu lagi memberikan penilaian, bahwa iman yang sungguh-sungguh adalah kekuatan yang paling besar dalam hidup kita ini, lebih besar daripada kekuatan kekuasaan dan despotisma sekaligus. Kata-kata Abu Bakr itu  sebenarnya merupakan salah satu inayah Ilahi demi agama yang benar  ini. Katakata itulah sebenarnya yang merupakan pertolongan dan  dukungan yang besar, melebihi dukungan yang diberikan oleh  kekuatan  Hamzah dan Umar sebelumnya. Ini memang suatu kenyataan apabila di dalam  seja-
rah Islam Abu Bakr mempunyai tempat tersendiri sehingga  Rasulullah berkata: "Kalau ada di antara hamba Allah yang akan  kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakr-lah   khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman,  sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita."
Kata-kata Abu Bakr mengenai Isra itu menunjukkan pemahamannya yang dalam tentang wahyu dan risalah, yang tidak dapat  ditangkap oleh kebanyakan orang. Di sinilah pula Allah telah  memperlihatkan kebijakan-Nya tatkala Rasulullah memilih seorang  teman dekatnya saat ia dipilih oleh Allah menjadi Rasul-Nya untuk  menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Itulah pula bukti  yang kuat, bahwa kata yang baik seperti pohon yang baik, akarnya  tertanam kukuh dan cabangnya (menjulang) ke langit, dengan jejak yang abadi sepanjang zaman, dengan karunia Allah. Ia tak akan  dikalahkan oleh waktu, tak akan dilupakan.

Tugasnya sesudah Isra
Sesudah peristiwa Isra itu, sebagai orang yang cukup berpengalaman akan seluk-beluk perbatasan, Abu Bakr tetap menjalankan  usaha dagangnya. Sebagian besar waktunya ia gunakan menemani  Rasulullah dan untuk menjaga orang-orang lemah yang sudah masuk  Islam, melindungi mereka dari gangguan Kuraisy di samping  mengajak mereka yang mulai tergugah hatinya kepada Islam.
Sementara Kuraisy begitu keras mengganggu Nabi dan Abu Bakr serta kaum Muslimin yang lain, belum terlintas dalam pikiran Abu  Bakr akan hijrah ke Abisinia bersama-sama kaum Muslimin yang lain  yang mau tetap bertahan dengan agama mereka.(Ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa Abu Bakr bermaksud pergi bersama-sama mereka yang hijrah ke Abisinia; tetapi ia bertemu dengan Rabiah bin ad-Dugunnah yang berkata kepadanya: "Wah, jangan ikut hijrah. Engkau penghubung tali kekeluargaan, engkau yang membenarkan peristiwa Isra, membantu orang tak punya dan engkau  yang mengatur pasang surutnya keadaan." Ia lalu diberi perlindungan keamanan oleh Kuraisy. Abu Bakr tetap tinggal di Mekah dan di serambi rumahnya ia membangun  sebuah  mesjid. Di tempat itu ia sembahyang dan membaca Qur'an. Sekarang Kuraisy  merasa khawatir, perempuan-perempuan dan pemuda-pemuda mereka akan tergoda.  Mereka mengadu kepada Ibn ad-Dugunnah. Abu Bakr mengembalikan jaminan  perlindungan itu dan ia tetap tinggal di Mekah menghadapi segala gangguan.)   Malah ia tetap  tinggal di Mekah bersama Muhammad, berjuang mati-matian demi  dakwah di jalan Allah sambil belajar tentang segala yang  diwahyukan Allah kepada Nabi untuk disiarkan kepada umat manusia.  Dan dengan segala senang hati disertai sifatnya yang lemah lembut, semua harta pribadinya dikorbankannya demi kebaikan mereka yang sudah masuk Islam dan  demi mereka yang diharapkan mendapat petunjuk Allah bagi yang belum  masuk Islam.
Kaum Muslimin di Mekah ketika itu memang sangat  memerlukan perjuangan serupa itu, memerlukan sekali perhatian Abu  Bakr. Dalam pada itu Muhammad masih menerima wahyu dari Allah  dan ia sudah tidak lagi mengharapkan penduduk Mekah akan  menyambut ajakannya itu. Maka ia mengalihkan perhatian kepada kabilah-kabilah. Ia menawarkan diri dan mengajak mereka kepada  agama Allah. Ia telah pergi ke Ta'if, meminta pengertian penduduk  kota itu. Tetapi ia ditolak dengan cara yang tidak wajar. Dalam  hubungannya dengan Tuhan selalu ia memikirkan risalahnya itu dan  untuk berdakwah ke arah itu serta caracaranya untuk menyukseskan  dakwahnya itu.
Dalam pada itu Kuraisy juga tak pernah tinggal diam dan tak  pernah berhenti mengadakan perlawanan. Di samping semua itu, Abu  Bakr juga selalu memikirkan nasib kaum Muslimin yang tinggal di  Mekah, mengatur segala cara untuk ketenteraman dan keamanan hidup  mereka.

Usaha mencegah gangguan Kuraisy
Kalaupun buku-buku sejarah dan mereka yang menulis biografi Abu Bakr tidak menyebutkan usahanya, apa yang disebutkan itu  sudah memadai juga. Tetapi sungguhpun begitu dalam hati saya  terbayang jelas segala perhatiannya itu, serta hubungannya yang  terus-menerus dengan Hamzah, dengan Umar, dengan Usman serta  dengan pemukapemuka Muslimin yang lain untuk melindungi  golongan lemah yang sudah masuk Islam dari gangguan Kuraisy.  Bahkan saya membayangkan hubungannya dulu dengan kalangan luar  Islam, dengan mereka yang tetap berpegang pada kepercayaan mereka,  tetapi berpendapat bahwa Kuraisy tidak berhak memusuhi orang yang  tidak sejalan dengan kepercayaan mereka dalam menyembah  berhala-berhala itu.
Dalam sejarah hidup Rasulullah kita sudah melihat, di antara mereka banyak juga yang membela kaum Muslimin dari gangguan  Kuraisy itu. Juga kita melihat mereka yang telah bertindak  membatalkan piagam pemboikotan tatkala orang-orang Kuraisy sepakat  hendak memboikot Muhammad dan sahabat-sahabatnya serta  memblokade mereka selama tiga tahun terus-menerus di celah-celah  gunung di pinggiran kota Mekah, supaya tak dapat berhubungan dan  berbicara dengan orang di luar selain pada bulan-bulan suci. Saya  yakin, bahwa Abu Bakr, dalam menggerakkan  mereka yang bukan   pengikut-pengikut agama Muhammad, namun turut marah melihat tindakan-tindakan Kuraisy terhadapnya itu, punya pengaruh besar, karena sifatnya yang lemah lembut, tutur katanya yang ramah serta pergaulannya yang menarik. Tindakan Abu  Bakr dalam melindungi kaum Muslimin ketika agama ini baru  tumbuh,  itu pula yang menyebabkan Muhammad lebih dekat kepadanya.  Inilah yang telah mempertalikan kedua orang itu dengan  tali persaudaraan dalam iman, sehingga Muhammad memilihnya  sebagai  teman dekatnya (khalilnya).
Setelah dengan izin Allah agama ini mendapat kemenangan  dengan kekuatan penduduk Yasrib (Medinah) sesudah kedua ikrar  Aqabah, Muhammad pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke  kota itu. Sama halnya dengan sebelum itu, ia mengizinkan  sahabat-sahabatnya hijrah ke Abisinia. Orang-orang Kuraisy tidak tahu,  Muhammad ikut hijrah atau tetap tinggal di Mekah seperti tatkala  kaum Muslimin dulu hijrah ke Abisinia.
Tahukah Abu Bakr maksud Muhammad, yang oleh Kuraisy tidak diketahui? Segala yang disebutkan mengenai ini hanyalah, bahwa  Abu Bakr meminta izin kepada Muhammad akan pergi hijrah, dan  dijawab: "Jangan tergesa-gesa, kalau-kalau Allah nanti memberikan  seorang teman kepadamu." Dan tidak lebih dari itu.

Bersiap-siap, kemudian hijrah
Di sini dimulai lagi sebuah lembaran baru, lembaran iman yang begitu kuat kepada Allah dan kepada Rasulullah. Abu Bakr sudah  mengetahui benar, bahwa sejak kaum Muslimin hijrah ke Yasrib,  pihak  Kuraisy memaksa mereka yang dapat dikembalikan ke Mekah  harus dikembalikan, dipaksa meninggalkan agama itu. Kemudian  mereka disiksa, dianiaya. Juga ia mengetahui, bahwa orang-orang  musyrik itu berkumpul di DarunNadwah, berkomplot hendak  membunuh Muhammad. Kalau ia menemani Muhammad dalam  hijrahnya itu lalu Kuraisy bertindak membunuh Muhammad, tidak  bisa tidak Abu Bakr juga pasti dibunuhnya. Sungguhpun begitu,  ketika ia oleh Muhammad diminta menunda, ia pun tidak ragu.  Bahkan ia merasa sangat gembira, dan yakin benar ia bahwa kalau ia  hijrah bersama Rasulullah, Allah akan memberikan pahala dan ini  suatu kebanggaan yang tiada taranya. Kalau sampai ia mati terbunuh  bersama dia, itu adalah mati syahid yang akan mendapat surga.
Sejak itu Abu Bakr sudah menyiapkan dua ekor unta sambil  menunggu perkembangan lebih lanjut bersama kawannya itu. Sementara sore itu ia di rumah tiba-tiba datang Muhammad  seperti biasa tiap sore. Ia memberitahukan bahwa Allah telah  mengizinkan ia hijrah ke Yasrib. Abu Bakr menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah sekiranya dapat menemaninya dalam hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun dikabulkan.
Khawatir Muhammad akan melarikan diri sesudah kembali ke rumahnya, pemuda-pemuda Kuraisy segera mengepungnya.  Muhammad membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya ia  mengenakan mantel Hadramautnya yang hijau dan berbaring di tempat  tidurnya. Hal itu dilakukan oleh Ali. Lewat tengah malam, dengan  tidak setahu pemudapemuda Kuraisy ia keluar pergi ke rumah Abu  Bakr. Ternyata Abu Bakr memang sedang jaga menunggunya. Kedua  orang itu kemudian keluar dari celah pintu belakang dan bertolak ke  arah selatan menuju Gua Saur. Di dalam gua itulah mereka bersembunyi. Pemuda-pemuda Kuraisy itu segera bergegas ke setiap lembah  dan gunung mencari Muhammad untuk dibunuh. Sampai di Gua Saur salah seorang dari mereka naik ke atas gua  itu kalau-kalau dapat menemukan jejaknya. Saat itu Abu Bakr sudah  mandi keringat ketika terdengar suara mereka memanggil-manggil. Ia  menahan nafas, tidak bergerak dan hanya menyerahkan nasib kepada  Allah. Tetapi Muhammad masih tetap berzikir dan berdoa kepada  Allah. Abu Bakr makin merapatkan diri ke dekat kawannya itu, dan  Muhammad berbisik di telinganya:
"Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita."
Pemuda-pemuda Kuraisy itu melihat ke sekeliling gua dan yang  dilihatnya hanya laba-laba yang sedang menganyam sarangnya di mulut gua itu. la kembali ke tempat teman-temannya dan mereka bertanya kenapa ia tidak masuk. "Ada laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir." Dengan perasaan  dongkol pemuda-pemuda itu pergi meninggalkan tempat tersebut.  Setelah mereka menjauh Muhammad berseru: "Alhamdulillah, Allahu  Akbar!" Apa yang disaksikan Abu Bakr itu sungguh makin  menambah  kekuatan imannya.

Apa penyebab ketakutan Abu Bakr ketlka dalam gua?
Adakah rasa takut pada Abu Bakr itu sampai ia bermandi  keringat dan merapatkan diri kepada Rasulullah karena ia sangat  mendambakan kehidupan dunia, takut nasibnya ditimpa bencana? Atau  karena ia tidak memikirkan dirinya lagi tapi yang dipikirkannya hanya  Rasulullah dan jika mungkin ia akan mengorbankan diri demi  Rasulullah? Bersumber dari Hasan bin Abil-Hasan al-Basri, Ibn  Hisyam  menuturkan: "Ketika malam itu Rasulullah Sallallahu  'alaihi  wasallam dan Abu Bakr memasuki gua, Abu Bakr  radiallahu   'anhu  masuk lebih dulu  sebelum Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam sambil meraba-raba gua itu untuk mengetahui kalau-kalau di tempat itu ada binatang buas atau  ular.  Ia mau melindungi Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dengan  dirinya."
Begitu juga sikapnya ketika dalam keadaan begitu genting demikian terdengar suara pemuda-pemuda Kuraisy, ia berbisik di telinga Nabi: "Kalau saja mereka ada yang menjenguk ke bawah, pasti  mereka melihat kita." Pikirannya bukan apa yang akan menimpa  dirinya, tetapi yang dipikirkannya Rasulullah dan perkembangan  agama,  yang untuk itu ia berdakwah atas perintah Allah, kalau  sampai  pemuda-pemuda itu berhasil membunuhnya. Bahkan barangkali  pada saat itu tiada lain yang dipikirkannya, seperti seorang ibu yang  khawatir akan keselamatan anaknya. Ia gemetar ketakutan, ia gelisah.  Tak lagi ia dapat berpikir. Bila ada bahaya mengancam, ia akan terjun  melemparkan diri ke dalam bahaya itu, sebab ia ingin melindungi  atau  mati demi anaknya itu. Ataukah Abu Bakr memang lebih gelisah  dari ibu itu, lebih menganggap enteng segala bahaya yang datang,  karena imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah memang sudah  lebih kuat dari cintanya kepada kehidupan dunia, dari naluri seorang  ibu dan dari segala yang dapat dirasakan oleh perasaan kita dan apa  yang terlintas dalam pikiran kita?! Coba kita bayangkan, betapa iman  itu menjelma di depannya, dalam diri Rasulullah, dan dengan itu  segala makna yang kudus menjelma pula dalam bentuk kekudusan dan  kerohaniannya yang agung dan cemerlang!
Saat ini saya membayangkan Abu Bakr sedang duduk dan  Rasulullah di sampingnya. Juga saya membayangkan bahaya yang  sedang mengancam kedua orang  itu.  Imajinasi  saya tak dapat  membantu  mengugkapkan segala yang terkandung dalam lukisan  hidup yang luar biasa ini, tak ada bandingannya dalam bentuk yang  bagaimanapun.

Apa artinya pengorbanan raja-raja dan para pemimpin  dibandingkan dengan pengorbanan Rasulullah
Sejarah menceritakan kepada kita kisah orang-orang yang telah  mengorbankan diri demi seorang pemimpin atau raja. Dan pada  zaman kita ini pun banyak pemimpin yang dikultuskan orang. Mereka  lebih dicintai daripada diri mereka sendiri. Tetapi keadaan Abu Bakr  dalam gua jauh berbeda. Para pakar psikologi perlu sekali membuat  analisis yang cermat tentang dia, dan yang benar-benar dapat  melukiskan keadaannya itu. Apa artinya keyakinan orang kepada  seorang pemimpin dan raja dibandingkan dengan keyakinan Abu Bakr  kepada Rasulullah yang telah menjadi pilihan Allah dan  mewahyukannya dengan agama yang benar!? Dan apa pula artinya  pengorbanan orang untuk pemimpin-pemimpin dan raja-raja itu dibandingkan dengan apa yang  berkecamuk dalam pikiran Abu Bakr saat itu, yang begitu khawatir  terjadi bahaya menimpa keselamatan Rasulullah. Lebih-lebih lagi jika  tak sampai dapat menolak bahaya itu. Inilah keagungan yang sungguh  cemerlang, yang rasanya sudah tak mungkin dapat dilukiskan lagi.  Itulah sebabnya penulis-penulis biografi tak ada yang menyinggung  soal ini.
Setelah putus asa mereka mencari dua orang itu, keduanya  keluar dari tempat persembunyian  dan  meneruskan perjalanan.  Dalam   perjalanan itu pun bahaya yang mereka hadapi tidak kurang pula  dari bahaya yang mengancam mereka selama di dalam gua.
Abu Bakr masih dapat membawa sisa laba perdagangannya sebanyak lima ribu dirham. Setiba di Medinah dan orang menyambut  Rasulullah begitu meriah, Abu Bakr memulai hidupnya di kota itu  seperti halnya dengan  kaum Muhajirin  yang  lain,  meskipun   kedudukannya tetap di samping Rasulullah, kedudukan sebagai  khalil,   sebagai  asSiddlq dan sebagai menteri penasehat.

Abu Bakr di Madinah
Abu Bakr tinggal di Sunh di pinggiran kota Medinah, pada keluarga Kharijah bin Zaid dari Banu al-Haris dari suku Khazraj.  Ketika Nabi mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Ansar Abu  Bakr dipersaudarakan dengan Kharijah. Abu Bakr kemudian disusul  oleh keluarganya dan anaknya yang tinggal di Mekah. la mengurus  keperluan hidup mereka. Keluarganya mengerjakan pertanian — seperti  juga keluarga Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib — di tanah  orang-orang Ansar bersama-sama dengan pemiliknya. Bolehjadi  Kharijah bin Zaid ini salah seorang pemiliknya. Hubungan orang ini  lambat laun makin dekat dengan Abu Bakr. Abu Bakr kawin dengan  putrinya — Habibah — dan dari perkawinan ini kemudian lahir Umm Kulsum, yang ditinggalkan wafat oleh Abu Bakr ketika ia sedang dalam  kandungan  Habibah. Keluarga Abu Bakr tidak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh, tetapi Umm Ruman dan putrinya Aisyah serta keluarga Abu Bakr yang lain tinggal di Medinah, di sebuah rumah  berdekatan dengan rumah Abu Ayyub al-Ansari, tempat Nabi tinggal.  Ia mundarmandir ke tempat mereka, tetapi lebih banyak di tinggal  di  Sunh, tempat istrinya yang baru.

Terserang demam
Tak lama tinggal di Medinah ia mendapat serangan demam, yang juga banyak menyerang penduduk Mekah yang baru hijrah ke  Medinah, disebabkan oleh perbedaan iklim udara tempat kelahiran  mereka dengan udara tempat tinggal yang sekarang. Udara Mekah adalah udara  Sahara, kering, sedang udara Medinah lembab, karena cukup air dan  pepohonan. Menurut sumber dari Aisyah disebutkan bahwa demam  yang menimpa ayahnya cukup berat, sehingga ia mengigau. Setelah puas dengan tempat tinggal yang baru ini, dan setelah  bekerja keras sehingga keluarganya sudah tidak memerlukan lagi  bantuan Ansar, seluruh perhatiannya sekarang dicurahkan untuk  membantu Rasulullah dalam memperkuat Muslimin, tak peduli  betapa  beratnya pekerjaan itu dan besarnya pengorbanan.

Kemarahan Abu Bakr
Orang  yang begitu damai  dan tenang ini tak pernah  mengenal marah, kecuali ketika melihat musuh-musuh dakwah yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan kaum Munafik itu mulai berolok-olok dan  main tipu muslihat. Rasulullah dan kaum Muslimin dengan pihak  Yahudi sudah membuat perjanjian, masing-masing menjamin  kebebasan  menjalankan dakwah agamanya serta bebas melaksanakan  upacara-upacara keagamaannya masing-masing. Orang-orang Yahudi  itu pada mulanya mengira bahwa mereka mampu mengambil  keuntungan dari kaum Muslimin yang datang dari Mekah dalam  menghadapi Aus dan Khazraj. Tetapi setelah ternyata tak berhasil  mereka memecah belah kaum Muhajirin dengan kaum Ansar, mulailah  mereka menjalankan tipu muslihat dan memperolok agama. Beberapa  orang Yahudi berkumpul mengerumuni salah seorang dari mereka yang  bernama Finhas. Dia adalah pendeta dan pemuka agama mereka. Ketika Abu Bakr datang dan melihat mereka, ia berkata kepada Finhas ini:  "Finhas, takutlah engkau kepada Allah dan terimalah Islam. Engkau  tahu bukan bahwa Muhammad Rasulullah. Dia telah datang kepada kita dengan sebenarnya sebagai utusan Allah. Kalian akan melihat itu  dalam Taurat dan Injil."
Dengan berolok dan senyum mengejek di bibir Finhas berkata:
"Abu Bakr, bukan kita yang memerlukan Tuhan, tapi Dia yang  memerlukan kita. Bukan kita yang meminta-minta kepada-Nya,  tetapi  Dia yang meminta-minta kepada kita. Kita tidak  memerlukan-Nya,  tapi Dialah yang memerlukan kita. Kalau Dia  kaya,  tentu tidak akan minta dipinjami harta kita, seperti yang  didakwakan oleh pemimpinmu itu. Ia melarang kalian menjalankan  riba, tapi kita akan diberi jasa. Kalau Ia kaya, tentu Ia tidak akan  menjalankan ini."
Yang dimaksud oleh kata-kata Finhas itu firman Allah:

Siapakah  yang  hendak  meminjamkan  kepada  Allah  pinjaman yang baik, yang akan Ia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya." (Qur'an, 2. 245).

Setelah Abu Bakr melihat orang ini memperolok firman Allah  serta wahyu-Nya kepada Nabi, ia tak dapat menahan diri, dipukulnya  muka Finhas itu keras-keras seraya katanya:
"Demi Allah,  kalau tidak karena adanya perjanjian  antara kami dengan kamu sekalian, kupukul kepalamu. Engkaulah musuh Tuhan!"
Bukanlah aneh juga Abu Bakr menjadi begitu keras, orang yang begitu tenang, damai dan rendah hati itu. Ia menjadi sedemikian rupa padahal usianya sudah melampaui lima puluh tahun!
Kemarahannya kepada Finhas ini mengingatkan kita kepada  kemarahan yang sama lebih sepuluh tahun yang silam, yaitu ketika  Persia mengalahkan Rumawi, Persia Majusi dan Rumawi Ahli Kitab.  Kaum Muslimin ketika itu merasa sedih karena diejek kaum musyrik  yang menduga bahwa pihak Rumawi kalah karena juga Ahli Kitab  seperti mereka. Ada seorang musyrik menyinggung soal ini di depan  Abu Bakr dengan begitu bersemangat bicaranya, sehingga Abu Bakr  naik pitam. Diajaknya orang itu bertaruh dengan sepuluh ekor unta  bahwa kelak Rumawi yang akan mengalahkan pihak Majusi sebelum  habis tahun itu. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakr akan sangat  marah jika sudah mengenai akidah dan keimanannya yang begitu  tulus  kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikapnya tatkala ia berusia  empat puluh, dan tetap itu juga setelah sekarang usianya lima puluh  tahun sampai kemudian ketika ia sudah menjadi Khalifah dan  memegang pimpinan kaum Muslimin.


Kekuasaan iman pada Abu Bakr
Keimanan yang tulus inilah yang menguasai Abu Bakr,  menguasai segala perasaannya, sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi  pengikut Rasulullah. Orang akan dapat menganalisis segala peristiwa  kejiwaannya dan perbuatannya serta segala tingkah lakunya itu kalau  orang mau melihatnya dari segi moral. Sebaliknya, semua yang di luar  itu, tak ada pengaruhnya dan segala keinginan yang biasa  mempengaruhi hidup manusia, dan banyak juga kaum Muslimin ketika  itu yang terpengaruh, buat dia tak ada artinya. Yang berkuasa terhadap  dirinya — hati nuraninya, pikiran dan jiwanya — semua  hanyalah demi Allah dan Rasul-Nya. Semua itu adalah iman, iman  yang sudah mencapai tingkat tertinggi, tingkat siddiqin, yang sudah  begitu baik tempatnya.
Ketika Rasulullah di Badr
Kemudian kita lihat apa yang terjadi dalam perang Badr. Pihak Mekah sudah menyusun barisan, Nabi pun sudah pula mengatur  kaum Muslimin siap menghadapi perang. Seperti diusulkan oleh Sa'd  bin Mu'az, ketika itu pihak Muslimin membangun sebuah dangau di  barisan belakang, sehingga jika nanti kemenangan berada di pihak  mereka, Rasulullah dapat kembali ke Medinah. Abu Bakr dan Nabi tinggal dalam dangau itu sambil mengawasi jalannya pertempuran. Dan bila pertempuran dimulai dan Muhammad melihat jumlah pihak musuh yang begitu besar sedang anak buahnya hanya sedikit, ia berpaling ke arah kiblat, menghadapkan diri dengan seluruh hati sanubarinya kepada Allah. Ia mengimbau Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia membisikkan permohonan  dalam hatinya agar Allah memberikan pertolongan, sambil katanya:
"Allahumma ya Allah! Inilah Kuraisy sekarang datang dengan  segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya  Allah, pertolongan-Mu juga yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah,  jika  pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadah kepada-Mu."
Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu,  mantelnya terjatuh.  Dalam keadaan serupa itu ia terangguk sejenak terbawa kantuk, dan ketika  itu juga tampak olehnya pertolongan Allah itu datang. Ia sadar  kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira. Ia keluar  menemui sahabat-sahabatnya sambil berkata kepada mereka:
"Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap seorang  yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus  maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan  menempatkannya di dalam surga."

Abu Bakr di Badr
Demikianlah keadaan Rasulullah. Tidak yakin akan kemenangan anak buahnya yang hanya sedikit itu dalam menghadapi lawan yang iauh lebih banyak, dengan diam-diam jiwanya mengadakan hubungan dengan Allah memohon pertolongan. Kemudian terbuka di  hadapannya tabir hari yang amat menentukan itu dalam sejarah Islam.
Abu Bakr, ia tetap di samping Rasulullah. Dengan penuh iman  ia percaya bahwa Allah pasti akan menolong agama-Nya, dan dengan  hati penuh kepercayaan akan datangnya pertolongan itu, dengan penuh kekaguman akan Rasulullah dalam imbauannya kepada Allah, dengan perasaan terharu kepada Rasulullah karena kekhawatiran yang begitu besar  menghadapi  nasib  yang  akan  terjadi  hari  itu,  ketika  itulah Rasulullah berdoa, mengimbau, bermohon dan meminta kepada Allah akan memenuhi janji-Nya. Itulah yang diulangnya, diulang sekali  lagi, hingga mantelnya terjatuh, Itulah yang membuatnya mengimbau  sambil ia mengembalikan mantel itu ke bahu Nabi: "Rasulullah,  dengan  doamu Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu."

Kebenaran dan kasih sayang menyatu dalam dirinya
Banyak orang yang sudah biasa dengan suatu kepercayaan sudah tak ragu lagi, sampai-sampai ia jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi melihat muka orang yang berbeda kepercayaan. Mereka menganggap bahwa iman yang sebenarnya harus fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakr, dengan keimanannya yang begitu agung dan begitu teguh, tak pernah  ia goyah dan ragu, jauh dari sikap kasar. Sikapnya lebih lunak, penuh  pemaaf, penuh kasih bila iman itu sudah mendapat kemenangan.  Dengan begitu, dalam hatinya terpadu dua prinsip kemanusiaan yang  paling mendasari: mencintai kebenaran, dan penuh kasih sayang.  Demi  kebenaran itu segalanya bukan apa-apa baginya, terutama  masalah  hidup duniawi.» Apabila kebenaran  itu  sudah dijunjung  tinggi,   maka lahir pula rasa kasih sayang, dan ia akan berpegang teguh  pada prinsip ini seperti pada yang pertama. Terasa lemah ia  menghadapi  semua itu sehingga matanya basah oleh air mata yang deras  mengalir.

Sikapnya terhadap tawanan Badr
Setelah mendapat kemenangan di Badr, kaum Muslimin kembali  ke Medinah dengan membawa tawanan perang Kuraisy. Mereka ini  masih ingin hidup, ingin kembali ke Mekah, meskipun dengan  tebusan  yang mahal. Tetapi mereka masih khawatir Muhammad akan  bersikap keras kepada mereka mengingat gangguan mereka terhadap  sahabat-sahabatnya selama beberapa tahun dahulu yang berada di  tengah-tengah mereka. Mereka berkata satu sama lain: "Sebaiknya kita  mengutus orang kepada Abu Bakr. Ia paling menyukai silaturahmi  dengan Kuraisy, paling punya rasa belas kasihan, dan kita tidak  melihat Muhammad menyukai yang lain lebih dari dia." Mereka lalu  mengirim delegasi kepada Abu Bakr.
"Abu Bakr," kata mereka kemudian, "di antara kita ada yang  masih pernah orangtua, saudara, paman atau mamak kita serta saudara  sepupu kita. Orang yang jauh dari kita pun masih kerabat kita.  Bicarakanlah dengan sahabatmu itu supaya ia bermurah hati kepada  kami atau menerima tebusan kami."
Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan berusaha. Tetapi mereka masih khawatir Umar bin Khattab akan mempersulit urusan mereka ini. Lalu mereka juga bicara dengan Umar seperti pcmbicaraannya dengan Abu Bakr. Tetapi Umar menatap muka mereka dengan mata penuh curiga tanpa memberi jawaban. Kemudian Abu Bakr sendiri yang bertindak sebagai perantara kepada Rasulullah mewakili orang-orang Kuraisy musyrik itu. la mcngharapkan belas kasihannya dan sikap yang lebih lunak terhadap  mereka. la menolak alasan-alasan Umar yang mau main keras  terhadap  mereka. Diingatkannya pertalian kerabat antara mereka  dengan  Nabi. Apa yang dilakukannya itu sebenarnya karena memang  sudah bawaannya sebagai orang yang lembut hati, dan kasih sayang  baginya sama dengan keimanannya pada kebenaran dan keadilan.  Barangkali dengan mata hati nuraninya ia melihat peranan kasih  sayang itu juga yang akhirnya akan menang. Manusia akan menuruti  kodrat yang ada dalam dirinya dan dalam keyakinannya sclama ia  melihat sifat kasih sayang itu adalah peri kemanusiaan yang agung,  jauh daii segala sifat lcmah dan hawa nafsu. Yang menggerakkan  hatinya hanyalah kekuatan dan kemampuan. Atau, kekuasaan  manusia  terhadap dirinya ialah kckuasaan yang dapat meredam  bengisnya kekuatan, dapat melunakkan kejamnya kekuasaan.

Arah hidupnya sesudah Badr
Sebenarnya Perang Badr itu merupakan permulaan hidup baru  buat kaum Muslimin, juga merupakan permulaan arah baru dalam  hidup Abu Bakr. Kaum Muslimin mulai mengatur siasat dalam  menghadapi Kuraisy dan kabilah-kabilah sekitarnya yang melawan  mereka.  Abu Bakr mulai bekerja dengan Nabi dalam mengatur siasat  itu berlipat ganda ketika masih tinggal di Mckah dulu dalam  melindungi kaum Muslimin. Pihak Muslimin semua sudah tahu,  bahwa  Kuraisy tidak akan tinggal diam sebelum mereka dapat  membalas dendam kejadian di Badr itu. Juga mereka mengetahui  bahwa dakwah yang baru tumbuh ini perlu sekali mendapat perlindungan  dan perlu mempertahankan diri dari segala scrangan terhadap mereka itu. Jadi harus ada perhitungan,  hams ada pengaturan siasat. Dengan posisinya di samping Rasulullah seperti yang sudah kita lihat, Abu Bakr tak akan dapat bekerja tanpa adanya perhitungaji dan pengaturan serupa itu, supaya jangan timbul kekacauan di dalam kota Medinah atas hasutan pihak Yahudi dan golongan munafik, dan  supaya jangan ada serangan pihak luar ke Madinah.
Abu Bakr dan Umar; pembantu Rasulullah
Kemenangan Muslimin di Badr itu juga sebenarnya telah mengangkat martabat mereka. Inilah yang telah menimbulkan kedengkian  di pihak lawan. Pada pihak Yahudi timbul rasa sakit hati yang  tadinya biasa-biasa saja. Dalam hati kabilah-kabilah di sekitar  Medinah  yang tadinya merasa aman kini timbul rasa khawatir. Tidak  bisa lain, untuk mencegah apa yang mungkin timbul dari mereka itu,  diperlukan suatu siasat yang mantap, suatu perhitungan yang saksama.  Musyawarah yang terus-menerus antara Nabi dengan sahabat-sahabat  telah diadakan. Abu Bakr dan Umar oleh Nabi diambil sebagai  pembantu dekat (wazir) guna mengatur siasat baru, yang sekaligus  merupakan batu penguji mengingat adanya perbedaan watak pada  kedua orang itu, meskipun mereka sama-sama jujur dan ikhlas dalam  bermusyawarah. Di samping dengan mereka ia juga bermusyawarah  dengan kaum Muslimin yang lain. Musyawarah ini memberi pengaruh  besar dalam arti persatuan dan pembagian tanggung jawab demikian,  sehingga masing-masing mereka merasa turut memberikan saham.
Sebagai penangkal akibat dendam kesumat pihak Yahudi itu  kaum Muslimin sekarang mengepung Banu Qainuqa' dan  mengeluarkan  mereka dari  Medinah. Begitu juga akibat rasa  kekhawatiran kabilah-kabilah yang berada di sekeliling Medinah,  mereka berkumpul hendak mengadakan serangan ke dalam kota.  Tetapi begitu mendengar Muhammad keluar hendak menyongsong  mereka, mereka sudah lari ketakutan.

Dalam perang Uhud
Berita-berita demikian itu tentu sampai juga ke Mekah, dan ini  tidak menutup pikiran Kuraisy hendak membalas dendam atas  kekalahan mereka di Badr itu. Dalam upaya mereka hendak menuntut  balas itu mereka akan berhadapan dengan pihak Muslimin di Uhud.  Di  sinilah terjadi pertempuran hebat. Tetapi hari itu kaum Muslimin  mengalami bencana tatkala pasukan pemanah melanggar perintah Nabi.  Mereka meninggalkan posnya, pergi memperebutkan harta rampasan  perang. Saat itu Khalid bin Walid mengambil kesempatan, Kuraisy  segera mengadakan serangan dan kaum Muslimin mengalami  kekacauan. Waktu itulah Nabi terkena lemparan batu yang dilakukan  oleh kaum musyrik. Lemparan itu mengenai pipi dan wajahnya,  sehingga Kuraisy berteriakteriak mengatakan Nabi sudah meninggal.  Kalau tidak karena pahlawanpahlawan Islam ketika itu segera  mengelilinginya, dengan mengorbankan diri dan nyawa mereka, tentu  Allah waktu itu sudah akan menentukan nasib lain terhadap mereka.
Sejak itu Abu Bakr lebih sering lagi mendampingi Nabi, baik  dalam peperangan maupun ketika di dalam kota di Medinah.
Orang masih ingat sejarah Muslimin — sampai keadaan jadi  stabil sesudah  pembebasan  Mekah  dan  masuknya Banu  Saqif di   Ta'if ke dalam pangkuan Islam — penuh tantangan berupa  peristiwa-peristiwa perang, atau dalam usaha mencegah perang atau  untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Belum lagi  peristiwa-peristiwa kecil lainnya dalam bentuk ekspedisi-ekspedisi atau  patroli. Waktu itu orang-orang Yahudi — dipimpin oleh Huyai bin  Akhtab — tak henti-hentinya menghasut kaum Muslimin.  Begitu  juga  Kuraisy,  mereka berusaha matimatian mau melemahkan dan  menghancurkan kekuatan Islam. Terjadinya perang Banu Nadir,   Khandaq dan Banu Quraizah dan diselang seling dengan  bentrokan-bentrokan lain, semua itu akibat politik Yahudi dan  kedengkian Kuraisy.
Dalam semua peristiwa dan kegiatan itu Abu Bakr lebih banyak mendampingi Nabi. Dialah yang paling kuat kepercayaannya pada  ajaran Nabi. Setelah Rasulullah merasa aman melihat ketahanan Medinah, dan tiba waktunya untuk mengarahkan langkah ke arah yang baru — semoga Allah  membukakan jalannya untuk menyempurnakan   agama-Nya — maka peranan yang dipegang Abu Bakr itu telah  menambah keyakinan kaum Muslimin bahwa sesudah Rasulullah,  dialah  orang yang punya tempat dalam hati mereka, orang yang sangat mereka hargai.

Sikapnya di Hudaibiyah
Enam tahun setelah hijrah kaum Muslimin ke Medinah  Muhammad mengumumkan kepada orang banyak untuk mengerjakan  ibadah haji ke Mekah. Berita perjalanan jemaah ini sampai juga kepada  Kuraisy. Mereka bersumpah tidak akan membiarkan Muhammad  memasuki Mekah secara paksa. Maka Muhammad dan para sahabat  pun tinggal di Hudaibiyah, di pinggiran kota Mekah. Ia berpegang  teguh pada perdamaian dan ia menolak setiap usaha yang akan  menimbulkan bentrokan dengan Kuraisy. Diumumkannya bahwa  kedatangannya adalah akan menunaikan ibadah haji, bukan untuk  berperang. Kemudian dilakukan tukar-menukar delegasi dengan  pihak  Kuraisy, yang berakhir dengan persetujuan, bahwa tahun ini ia harus pulang dan boleh kembali lagi tahun depan.
Kaum Muslimin banyak yang marah, termasuk Umar bin  Khattab, karena harus mengalah dan harus pulang. Mereka  berpendapat,  isi perjanjian ini merendahkan martabat agama mereka.  Tetapi Abu Bakr langsung percaya dan yakin akan kebijaksanaan  Rasulullah. Setelah kemudian turun Surah Fath (48) bahwa persetujuan Hudaibiyah itu  adalah suatu kemenangan yang nyata, dan Abu Bakr dalam hal ini,  seperti juga dalam peristiwa-peristiwa lain, ialah  as-Siddiq,  yang  tulus  hati, yang segera percaya.

Kekuatan Muslimin dan mengalirnya para utusan
Integritas dakwah Islam makin hari makin kuat. Kedudukan  Muslimin  di Medinah juga makin  kuat.  Salah  satu  manifestasi   kekuatan mereka, mereka telah mampu mengepung pihak Yahudi di   Khaibar, Fadak dan Taima', dan mereka menyerah pada kekuasaan  Muslimin, sebagai pendahuluan untuk kemudian mereka dikeluarkan  dari tanah Arab. Di samping itu, manifestasi lain kuatnya Muslimin  waktu itu serta tanda kukuhnya dakwah Islam ialah dengan dikirimnya  surat-surat oleh Muhammad kepada raja-raja dan para amir  (penguasa)  di Persia, Bizantium, Mesir, Hira, Yaman dan  negeri-negeri  Arab di sekitarnya atau yang termasuk amirat-nya..
Adapun gejala yang paling menonjol tentang sempurna dan kuatnya dakwah itu ialah bebasnya Mekah dan pengepungan Ta'if.  Dengan itu cahaya agama yang baru ini sekarang sudah bersinar ke  seluruh Semenanjung, sampai ke perbatasan kedua imperium besar  yang memegang tampuk pimpinan dunia ketika itu: Rumawi dan  Persia. Dengan demikian Rasulullah dan kaum Muslimin sudah merasa  lega atas pertolongan Allah itu, meskipun tetap harus waspada  terhadap  kemungkinan adanya serangan dari pihak-pihak yang ingin  memadamkan cahaya agama yang baru ini.

Bersinarnya cahaya Islam
Setelah orang-orang Arab melihat adanya kekuatan  ini delegasi mereka datang berturut-turut dari segenap Semenanjung, menyatakan keimanannya pada agama baru ini. Bukankah pembawa dakwah ini pada mulanya hanya seorang diri?! Sekarang ia sudah dapat  mengalahkan Yahudi, Nasrani, Majusi dan kaum musyrik. Bukankah  hanya kebenaran yang akan mendapat kemenangan? Adakah tanda  yang lebih jelas bahwa memang dakwahnya itulah yang benar, yang mutlak mendapat kemenangan atas mereka semua itu? Ia tidak  bermaksud menguasai mereka. Yang dimintanya hanyalah beriman  kepada Allah, dan berbuat segala yang baik. Inilah logika yang amat  manusiawi, diakui oleh umat manusia pada setiap zaman dan mereka  beriman di mana pun mereka berada. Ini juga logika yang diakui oleh  akal pikiran manusia. Kekuatan argumentasinya yang tak dapat  dikalahkan itu sudah dibuktikan oleh sejarah.
Abu Bakr memimpin jamaah haji
Allah telah  mengizinkan kaum Muslimin melengkapi kewajiban agamanya,  dan  ibadah  haji  itulah  kelengkapannya.  Oleh  karena  itu dengan adanya delegasi yang berturut-turut itu tidak  memungkinkan Rasulullah meninggalkan Medinah pergi ke Baitullah.  Maka dimintanya Abu Bakr memimpin jamaah pergi menunaikan  ibadah  haji. la berangkat bersama tiga ratus orang. Mereka  melaksanakan ibadah itu, melaksanakan tawaf dan sai. Dalam musim  haji inilah Ali bin Abi Talib mengumumkan — sumber lain   menyebutkan  Abu  Bakr yang mengumumkan — bahwa sesudah  tahun  itu tak boleh lagi kaum musyrik ikut berhaji. Kemudian orang  menunda empat bulan lagi supaya setiap golongan dapat kembali ke tempat tinggal dan negeri masing-masing. Sejak hari itu, sampai sekarang, dan sampai waktu yang  dikehendaki Allah, tak akan ada lagi orang musyrik pergi berhaji  ke  Baitullah, dan tidak akan ada.

Haji Perpisahan dan keberangkatan Usamah
Tahun kesepuluh Hijri Rasulullah melaksanakan ibadah haji perpisahan. Abu Bakr juga ikut serta. Rasulullah  Sallallahu  'alaihi wasallam berangkat bersama semua istrinya, yang juga diikuti oleh  seratus ribu orang Arab atau lebih. Sepulang dari melaksanakan  ibadah  haji, Nabi tidak lama lagi tinggal di Medinah. Ketika itu  dikeluarkannya perintah supaya satu pasukan besar disiapkan  berangkat ke Syam, terdiri dari kaum Muhajirin yang mula-mula,  termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan itu sudah bermarkas di Jurf  (tidak jauh dari Medinah) tatkala tersiar berita, bahwa Rasulullah jatuh  sakit. Perjalanan itu tidak diteruskan dan karena sakit Rasulullah  bertambah keras, orang makin cemas.

Abu Bakr memimpin salat
Karena sakit bertambah berat juga maka Nabi meminta Abu Bakr memimpin sembahyang. Disebutkan bahwa Aisyah pernah  mengatakan: "Setelah sakit Rasulullah  Sallallahu  'alaihi wasallam  semakin berat Bilal datang mengajak bersembayang: 'Suruh Abu Bakr  memimpin salat!' Kataku: Rasulullah, Abu Bakr cepat terharu dan  mudah menangis. Kalau dia menggantikanmu suaranya tak akan  terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar saja! Katanya:  'Suruh Abu Bakr memimpin sembahyang!' Lalu kataku kepada  Hafsah: Beritahukanlah kepadanya bahwa Abu  Bakr orang  yang   cepat terharu dan  kalau  dia menggantikanmu suaranya tak akan  terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar saja! Usul itu  disampaikan oleh Hafsah. Tetapi kata Nabi lagi: Kamu seperti perempuan-perempuan yang di  sekeliling Yusuf. Suruhlah Abu Bakr memimpin sembahyang. Kemudian  kata Hafsah kepada Aisyah: Usahaku tidak lebih baik dari yang  kaulakukan."
Sekarang Abu Bakr bertindak memimpin salat sesuai dengan perintah Nabi. Suatu hari, karena Abu Bakr tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umar yang  diminta mengimami salat. Suara Umar cukup lantang, sehingga ketika  mengucapkan takbir di mesjid terdengar oleh Muhammad dari rumah  Aisyah, maka katanya:
"Mana Abu Bakr? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."
Dengan itu orang menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakr sebagai penggantinya kelak, karena memimpin orang-orang salat merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.
Sementara masih dalam sakitnya itu suatu hari Muhammad  keluar ke tengah-tengah kaum Muslimin di mesjid, dan antara lain ia  berkata:
"Seorang hamba oleh Allah disuruh memilih tinggal di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia memilih berada di sisi Allah." Kemudian diam. Abu Bakr segera mengerti, bahwa yang dimaksud oleh Nabi  dirinya. Ia tak dapat menahan air mata dan ia menangis, seraya katanya:
"Kami akan menebus Tuan dengan jiwa kami dan anak-anak kami." Setelah itu Muhammad minta semua pintu mesjid ditutup kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakr. Kemudian katanya sambil menunjuk kepada Abu Bakr: "Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman) maka Abu Bakr-lah khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya."
Pada hari ketika ajal Nabi tiba ia keluar waktu subuh ke mesjid sambil bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadl bin al-Abbas.  Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang.  Ketika kaum Muslimin melihat kehadiran Nabi, mereka bergembira  luar biasa. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan  salat. Abu Bakr merasa bahwa mereka berlaku demikian karena ada  Rasulullah. Abu Bakr surut dari tempatnya. Tetapi Nabi memberi  isyarat agar diteruskan. Lalu Rasulullah duduk di sebelah Abu Bakr,  salat sambil duduk.
Lepas salat Nabi kembali ke rumah Aisyah. Tetapi tak lama kemudian demamnya kambuh lagi. Ia minta dibawakan sebuah  bejana berisi air dingin. Diletakkannya tangannya ke dalam bejana itu  dan dengan begini ia mengusap air ke wajahnya. Tak lama kemudian ia telah  kembali kepada Zat Maha Tinggi, kembali ke sisi Allah.
Rasulullah telah meninggalkan dunia kita setelah Allah menyempurnakan agama ini bagi umat manusia, dan melengkapi kenikmatan hidup bagi mereka. Apa pulakah yang dilakukan orang-orang Arab  itu kemudian? Ia tidak meninggalkan seorang pengganti, juga tidak  membuat suatu sistem hukum negara yang terinci. Hendaklah  mereka  berusaha (berijtihad) sendiri. Setiap orang yang berijtihad  akan mendapat bagian.

Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)?

by SufiMuda

Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :
Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu
kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat
maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya
Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan
Sebab menentang berarti melawan
Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan
Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya
Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam
Dan seseorang dapat menghunus pedangnya
Maka Musa pun meminta maaf
Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi
 
Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.
Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita bisa merasakan nikmatnya beragama.
Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pasantren, IAIN bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.
Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang bisa berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja membutuhkan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”
Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.
Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”
Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.
Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih membutuhkan lagi.”
Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).
Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.
Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak bisa menjawab karena kawatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.
Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.
Seorang penyair sufi berkata :
Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar
Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.
Ali al Khawas berkata dalam syairnya,
Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,
Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.
Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.
Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.
Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan
Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar
Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan
Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu
Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali
Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.