Laman

Rabu, 19 Juni 2013

TUJUH PULUH RIBU HIJAB ,,


Betapa jauh perjalanan
tujuhpuluhribu hijab ini ya Allah
betapa tebalnya mega tujuh puluh ribu hijab
menerawangi cahaya-Mu ya Allah

Betapa tak terdaya
untuk menempuh satu makam nafsu ke satu makam nafsu
selaksa tujuhpuluhribu hijab ya Allah
di tengah gurun pasir kafilah
kamilah unta-unta yang bebal dan tersesat
memikul beban dosa, mencari-Mu ya Allah

Di tengah lautan perjuangan
kamilah armada yang tewas
dikeroyok nafsu maha dahsyat maha gelora ya Allah
di manakah tersimpan kunci ajaib
untuk membuka tujuhpuluhribu peti laduni
di dasar langit-Mu ya Allah

Dimanakah taman-taman cahaya
yang bersemadi para kekasih bertasbih memuji-Mu
dalam setiap detik dalam setiap titik
dalam setiap fana dalam setiap syuhud
di sebalik kami yang igau
dalam tembok-tembok penjara dunia
sesempit tujuhpuluhribu hijab ini ya Allah

Ya Allah, betapa rindunya kami kepada-Mu
terasing siang dan malam
tanpa bicara tanpa pendengaran tanpa penglihatan
terkambus asyik di syurga kencana
lepaskan kami ya Allah
dari tujuhpuluhribu pintu gerbang
yang menutupi mata hati kami

Ya Allah, betapa jahilnya kami tidak mengenal-Mu
dalam pernafasan tujuhpuluhribu hijab
yang kami sedut yang kami hembuskan
dari setiap denyutan nadi

Ya Allah, betapa kami ini buta huruf
kami sebenarnya tak mampu mengeja
tujuhpuluhribu huruf maknawi
yang terhijab pada nama-nama-Mu

Ya Allah, betapa dekatnya Kau
lebih dekat dari urat leher kami
namun kami masih engkar mencari-Mu
di luar diri kami yang tujuhpuluhribu hijab

DO'A AGAR DIBERI KEMUDAHAN SAAT HISAB



Bismillahirrahmannirahim,


SEBUAH do'a yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih kemudahan saat dihisab di akhirat kelak.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ »


Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,

« اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا »
"Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).

” Ketika beliau berpaling saya bekata, "Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?" Beliau bersabda, "Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya." [HR. Ahmad]


Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu.


Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, "Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?" Ibnu Umar menjawab,

يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

"Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, "Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?" Hamba itu menjawab, "Ya, benar." Dia berfirman lagi, "Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?" Hamba itu menjawab, "Ya, benar." Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu." [HR. Bukhari]


Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan.


Semoga Allah memudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab , mengampuni dosa-dosa kita dan membukakan pintu Rahmat Nya di akhirat kelak... Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’.



Wallahu a'lam bishawab

:: KEAGUNGAN KALIMAT LAA'ILAAHA'ILALLAH



Bismillahirrahmannirahim,

1. Dari Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Ketika Adam as telah berbuat suatu dosa, maka saat ia menengadahkan kepalanya ke langit, ia berkata, “Aku memohon kepada-Mu, dengan wasilah Muhammad, ampunilah diriku.”
Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Siapakah Muhammad?”
Adam as menjawab, “Maha Berkah Nama-Mu, ketika Engkau ciptakan daku, aku tengadahkan kepalaku ke Arsy-Mu dan ternyata tertulis di dalamnya ‘Laa ilaaha illallaahu Muhammadur Rasulullaah.’
Maka kuketahui bahwa Muhammad itu seseorang yang derajatnya tiada seorang pun yang sederajat dengannya, sehingga Engkau letakkan namanya berdampingan dengan nama-Mu.”
Lalu Allah menurunkan wahyu padanya, “Wahai Adam, sesungguhnya ia adalah Nabi yang terakhir dari anak keturunanmu.
Seandainya tidak karena ia, maka tidak Ku ciptakan dirimu.”
(HR. Thabrani, Hakim, Abu Nu’aim, Baihaqi).


2. Dari Muadz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda, “Kunci-kunci surga ialah ucapan syahadat, Laa ilaaha illallaah.” (HR. Ahmad).


3. Dari Abu Dzar ra, berkata, Nabi saw bersabda, “Tidak ada seorang hambapun yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah kemudian dia mati diatas keyakinan tersebut kecuali dia masuk surga.” (HR. Bukhari).


4. Dari Amru ra, katanya, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang jika seorang hamba membacanya dengan dibenarkan oleh hatinya, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan itu, kecuali ia akan diharamkan dari Neraka, yaitu Laa ilaaha illallaah.” (HR. Hakim).


5. Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan pada Neraka , orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illaallaah’ semata-mata mengharapkan ridha Allah Subhana wa Ta'ala .” (HR. Bukhari, Muslim).


6. Dari Ali ra, berkata Rasulullah saw kepadaku, “Jibril as berkata, Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya Akulah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, maka ia masuk dalam lindungan-Ku. Dan barangsiapa masuk dalam lindungan-Ku, maka ia aman dari siksa-Ku.” (HR. Abu Nuaim).


7. Dari Zaid bin Arqam ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaahu’ dengan ikhlas, pasti masuk surga.” Seseorang berkata, “Apa ikhlasnya?” Jawab Nabi saw, “Kalimah itu menjauhkannya dari segala yang diharamkan Allah.” (HR. Thabrani).


8., Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang hamba membaca Laa ilaaha illallaah, kecuali akan dibukakan baginya pintu langit hingga Arsy, selama ia menghindarkan diri dari dosa-dosa besar.” (HR. Tirmidzi).


9. Abu Hurairah ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan memperoleh syafaatmu pada hari Kiamat kelak?” Beliau menjawab, “Aku telah mendugamu, wahai Abu Hurairah, bahwa kulihat keinginan besarmu terhadap hadits. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari Kiamat ialah orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari).


10. Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki sebuah tiang yang terbuat dari Nur terletak di hadapan Arsy-Nya, jika ada seorang hamba yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’, maka bergetarlah tiang itu.
Allah berfirman, “Berhentilah.”
(tiang itu) menjawab, “Bagaimana aku dapat berhenti, sedangkan Engkau belum mengampuni orang yang mengucapkannya?”
Firman Allah, “Sesungguhnya Aku telah mengampuninya.”
Maka barulah tiang itu berhenti.” (HR. Al Bazzar).


11. Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memanggil salah seorang umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat dan dihadapkan kepadanya 99 catatannya.
Setiap catatan besarnya sejauh mata memandang, dan ia akan berkata, “Apakah kamu ingkari (dosa) ini? Atau para pencatat itu telah menzalimimu?”
akan dijawab, “Tidak, Wahai Rabbku.”
Allah berkata, “Apakah kamu punya alasan udzur?”
Dijawab, “Tidak, wahai Rabbku.”
Allah berfirman, “Baiklah, sesungguhnya di sisi Kami, kamu memiliki kebaikan, dan sesungguhnya tiada kezhaliman atas dirimu pada hari ini.” Maka disodorkan kepadanya sebuah kertas yang tertulis di dalamnya, ‘Asyhadu an-laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh’ maka dikatakan kepadanya, “Pergilah kamu dan timbanglah kertas ini.”
Jawabnya, “Wahai Rabku, apakah nilai kertas ini dibandingkan catatan lainnya?”
Dikatakan, “Pada hari ini sesungguhnya kamu tidak akan dianiaya.”
Maka ditimbanglah semua catatan tadi di sebelah timbangan, dan kertas tadi diletakkan di timbangan lainnya.
Dan beratlah timbangan kertas yang tertulis kalimat tadi.
Selain Allah, tiada satupun yang dapat menandingi-Nya.” (HR. Tirmidzi).


12. Dari Yahya bin Thalhah bin Abdullah ra bercerita, “Suatu ketika, terlihat Thalhah bersedih, maka orang-orang bertanya, “Mengapa kamu bersedih?”
Ia menjawab, “Sesungguhnya kudengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang tiada seorang hamba membacanya menjelang mautnya, kecuali akan Allah hindarkan darinya segala penderitaannya dan wajahnya akan bersinar, dan akan ia lihat apa yang mengembirakannya.”
Namun belum sempat kutanyai beliau kalimat apakah itu hingga wafatnya.”
Umar ra berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui kalimat itu.”
Ia menyahut, “Apa itu?”
Ia berkata, “Aku tidak mengetahui sebuah kalimat yang lebih agung daripada kalimat yang ia perintahkan pamannya dengannya, yaitu ‘Laa ilaaha illallaah’
ia berkata, “Demi Allah, itulah kalimatnya. Demi Allah itulah kalimatnya.” (HR. Baihaqi).


13. Dari Anas ra, sesungguhnya Abu Bakar ra menjumpai Nabi saw dalam keadaan bersedih.
Nabi saw bertanya, “Mengapa kamu nampak sedih?”
Jawab Abu Bakar ra “Ya Rasulullah, kemarin malam keponakanku hampir meninggal dunia.”
Lalu beliau bersabda, “Apakah engkau telah mentalqinkannya dengan Laa ilaaha illallaah?”
Sahut Abu Bakar ra “Ya, sudah kulakukan.”
Sabda beliau, “Apakah ia membacanya?”
Jawabnya, “Ya, ia membacanya.”
Sabda beliau, “Ia wajib masuk surga.”
Abu Bakar ra bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana jika orang hidup membaca kalimat ini?”
Beliau bersabda, “Ia lebih menghapuskan dosa-dosanya. Ia lebih menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Dailami).


14. Dari Abu Said Al Khudri ra, Nabi saw bersabda, “Musa as berkata, “Wahai Tuhanku, ajarkanlah aku sesuatu yang aku dapat mengingat-Mu dengannya, dan berdoa kepada-Mu dengannya.”
Allah berfirman, “Ucapkanlah ‘Laa ilaaha illallaah’.”
Musa as berkata, “Ya Tuhan, setiap hamba-Mu mengucapkannya”
Allah berfirman lagi, “Ucapkanlah ‘Laa ilaaha illallaah’.”
Musa as berkata, “Aku ingin sesuatu yang Engkau khususkan bagiku dengannya.”
Allah berfirman, “Wahai Musa, Jika tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan di suatu timbangan dan ‘Laa ilaaha illallaah’ dalam timbangan lainnya, maka timbangan yang berisi ‘Laa ilaaha illallaah’ akan lebih berat.” (HR. Nasa’i, Ibnu Majah, Hakim).


15. Dari Anas ra, sabda Rasulullah saw “Tiada seorang hamba pun yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah pada suatu waktu, malam atau siang hari, kecuali akan dihapuskan dari catatannya amal-amal buruknya, bahkan keburukan itu diganti dengan kebaikan.” (HR. Abu Ya’la).


16. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Perbaharuilah iman kalian.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana memperbaharui iman kami?” Sabda beliau, “Perbanyaklah ucapan, ‘Laa ilaaha illallaah.” (HR. Bukhari).


17. Dari Abu Darda ra, Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ seratus kali, kecuali Allah akan membangkitkannya pada hari Kiamat dengan wajah seperti bulan purnama. Dan tiada seorang pun yang melebihi amalannya pada hari itu kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia lakukan atau melebihinya.” (HR. Thabrani).


18. Dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kalimat Laa ilaaha illallaah akan selalu memberi manfaat bagi orang yang mengucapkannya dan akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana, selama mereka tidak mengabaikan hak-haknya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan mengabaikan hak-haknya?” Jawab beliau, “Kemaksiatan kepada Allah telah dilakukan terang-terangan, tetapi tidak dicegah dan dirubah.” (HR. Al Ashbahani).


19. Dari Jabir ra, Nabi saw bersabda, “Dzikir yang paling utama ialah ‘Laa ilaaha illallaah’ dan doa yang paling utama adalah ‘Alhamdulillaah’.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).


20. Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Bukanlah atas ahli Laa ilaaha illallaah kegelapan di kubur mereka dan juga tidak di Mahsyar. Seakan-akan aku melihat ahli Laa ilaaha illallaah bangkit dari kuburnya sambil mengibaskan debu dari kepalanya lalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjauhkan kami dari kesedihan.” Riwayat lain menyebutkan bahwa ahli Laa ilaaha illallaah tak akan mengalami kegelapan saat mati, atau saat di kubur.” (HR. Thabrani, Baihaqi).


Ya Allah .. Tiada Illah selain MU ..
Ampuni , sayangi dan rahmatilah kami ..
Cukuplah Engkau bagi kami ..
Dan Engkaulah Pemilik segala Kebesaran & Kemuliaan ..

Limpahkanlah shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad kekasih Allah, dan keluarganya beserta para sahabat . Aamiin.



Wallahu a'lam bishawab

:: TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH ..




Bismillahirrahmannirahim,

Sahabat fillah, tentunya kita semua ingin meninggal kelak dalam keadaan husnul khatimah, tapi apakah tanda-tanda yang menunjukkan husnul khatimahnya kematian seseorang ?

Syaikh Albani rahimahullah telah mengumpulkan dalam kitabnya ( Ahkamul Janaiz) tanda-tanda ini dari Al Qur’an dan Sunah , beliau mendapatinya ada beberapa tanda, berikut ini ringkasannya:

Sesungghnya Dzat Yang Mensyariatkan telah menjadikan beberapa tanda yang jelas untuk menunjukkan husnul khatimah – Allah Ta’alaa telah menetapkannya dengan karunia dan kenikmatanNya – maka siapa saja yang meninggal dengan memiliki salah satu tandanya maka itu merupakan berita gembira:


1. Dapat mengucapkan syahadat menjelang kematian sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang shahih diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang ucapan terakhirnya Laa ilaaha illallah maka dia masuk surga) ( hadits hasan).


2. Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat berdasarkan hadits Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu:

Dari Buraidah bin Khusaib radhiallahu anhu: ( bahwa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata: Allahu Akbar, aku mendngar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( kematian seorang mukmin disertai keringat dikeningnya ) ( hadits shahih ).


3. Meninggal pada malam jum’at atau siangnya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ( hadits dengan seluruh jalurnya hasan atau shahih )

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( tidaklah seorang muslim yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Allah Melindunginya dari siksa kubur ).


4. Meninggal dalam keadaan syahid dimedan perang sebagaimana firman Allah Ta’alaa :

Artinya: ( dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh dijalan Allah mati, tetapi mereka hidup diberi rizki disisi Tuhan mereka (169) Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang belum mengikuti mereka dibelakang janganlah mereka takut dan sedih (170) Mereka memberi khabar gembira dengan kenikmatan dari Allah dan karuniaNya dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang beriman) (QS Ali Imran :169-171).


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( orang yang syahid mendapatkan enam perkara: diampuni dosanya sejak tetesan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya dalam surga, dijauhkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat dihari kiamat, dipakaikan mahkota keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya) (hadits shahih).


5. Meninggal ketika berjuang dijalan Allah (bukan terbunuh) berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( apa yang kalian nilai sebagai syahid diantara kalian ?) mereka berkata: Ya Rasulullah siapa yang terbunuh dijalan Allah maka dia syahid. Beliau berkata: ( jadi sesungguhnya para syuhada umatku sedikit ). Mereka berkata: lalu siapa mereka Ya Rasulullah ? Beliau berkata: ( barang siapa yang terbunuh dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati karena wabah thaun syahid, barangsiapa yang mati karena penyakit perut syahid, dan orang yang tenggelam syahid).


6. Mati karena satu wabah penyakit tha’un, berdasarkan beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( wabah tha’un merupakan kesyahidan bagi setiap muslim).( hadits shahih)


7. Mati karena penyakit dalam perut berdasarkan hadits diatas.


8. Mati karena tenggelam dan terkena reruntuhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( syuhada ada lima: yang mati karena wabah tha’un, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena reruntuhan, dan yang syahid dijalan Allah) ( hadits shahih).


9. Matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya:

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk Abdullah bin Rawahah dan berkata: beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata: tahukah kamu siapa syuhada dari umatku ? mereka berkata: terbunuhnya seorang muslim adalah syahid. Beliau berkata: ( jadi sesungguhnya para syuhada umatku, terbunuhnya seorang muslim syahid, mati karena wabah tha’un syahid, wanita yang mati karena janinnya syahid [ditarik oleh anaknya dengan tali arinya kesurga]) ( hadits shahih ).


10. Mati karena terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada ditulang rusuk, ada beberapa hadits yang terkait yang paling masyhur:

Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’ : ( syuhada ada tujuh selain terbunuh dijalan Allah: yang matu karena wabah tha’un syahid, yang tenggelam syahid, yang mati karena sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid, yang sakit perut syahid, yang mati terbakar syahid, yang mati terkena reruntuhan syahid, dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid) (hadits shahih).


11. Mati karena sakit TBC berdasarkan hadits :

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( terbunuh dijalan Allah syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tenggelam syahid, dan yang mati karena sakit TBC syahid, yang mati karena sakit perut syahid) (hadits hasan).


12. Mati karena mempertahankan hartanya yang hendak dirampas. Dalam hal itu ada beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang terbunuh karena hartanya ( dalam riwayat: barangsiapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh) maka dia syahid)
(hadits shahih).


13. Mati karena mempertahankan agama dan dirinya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang terbunuh karena hartanya syahid, barangsiapa yang terbunuh karena keluarganya syahid, barangsiapa yang terbunuh karena agamanya syahid, barangsiapa yang terbunuh karena darahnya syahid) ( hadits shahih).


14. Mati dalam keadaan ribath (berjaga diperbatasan) dijalan Allah. Ada dua hadits dalam hal itu salah satunya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamul lail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rizkinya dan diamankan dari fitnah) ( hadits shahih).


15. Mati ketika melakukan amal shalih berdasarkan hadits:


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga)
( hadits shahih).


16.Orang yang dibunuh penguasa yang dhalim karena dia mendatanginya dan menasihatinya:


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muththalib dan seseorang yang mendatangi penguasa yang dhalim lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang mungkar lalu dia dibunuhnya) Hadits dikeluarkan oleh Al Hakim dan dishahihkannya dan Al Khatib.


Ya Allah,
Jadikanlah amal terbaik kami pada penutupnya,
Jadikan sebaik-baik umur kami pada saat kami mengakhirinya, dan jadikan hari terbaik kami pada saat kami bertemu dengan-Mu ... Aamiin Allahumma amin.



Wallahu A’lam bishowab

::: MENCARI KARUNIA ALLAH ..



Bismillahirrahmannirahim,

Allah SW.T. berfirman:

"Apabila salat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS al-Jum-ah : 10)

"Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik." (QS al-Kahfi : 30)

Bekerja merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah SWT, selain untuk memenuhi kebutuhan duniawi, bekerja bisa menjadi ladang amal yang subur apabila kita memanfaatkannya dengan baik, jujur dan halal. Ikhlas mengharapkan keridhoaan Allah akan menjadi sebuah keberkahan pada rezeki yang kita terima dari bekerja.


Bagaimana cara memotivasi dan menyalakan semangat dalam diri , sehingga menghasilkan produktivitas yang baik. ?


ETOS KERJA DALAM ISLAM

1. Selalu Melakukan Perhitungan dan Perencanaan.

Tanpa rencana, sudah bisa dipastikan hal atau pekerjaan yang kita kerjakan menjadi tidak maksimal dan tidak terarah. Namun kita tetap harus pandai jangan sampai terjebak pada perhitungan dan rencana-rencana saja tanpa melakukan sesuatu. Perjalanan seribu mil itu dimulai dengan langkah pertama.



Disipin dalam bekerja, dan tepat waktu dalam ibadah, adalah perencanaan yang seimbang. Bukankah setiap rizki yang kita usahakan , tetaplah Allah yang membukakan.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,
dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".
(QS 59:18).



2. Menghargai Waktu.

Waktu pemegang peranan penting untuk meraih keberhasilan. Jika tak pandai memanfaatkan waktu, tentu saja kita jauh dari istilah keberhasilan. Kita bisa lihat orang yang sukses selalu memanfaatkan setiap detik waktunya dengan hal-hal lebih bermanfaat.


Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (QS 103:1-3).


3. Selalu Ingin Yang Terbaik.

Bekerjalah dengan kemampuan terbaik. Meskipun tidak ada yang melihat. Siapa yang menanam dialah yang menuai. Kalau kita menginginkan yang terbaik maka mulailah dengan usaha yang terbaik
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS 94:7).


4. Fastabiqul Khairat.

Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebajikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 2:148).


5. Bersikap Mandiri dan Tawakal kepada Allah

Jangan pernah bergantung sesuatu hal pun kepada orang lain kecuali pada Allah. Karena bergantung dengan orang/makhluk bisa kecewa.
Kemandirian ekonomi ini dicontohkan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf yang tidak mau diberi setengah harta dari Sa’ad bin Rabi di Madinah.


6. Senantiasa istiqomah dalam beribadah kepada Allah dan memperbanyak sedekah sebagai ungkapan rasa syukur


7. Jangan berlebih-lebihan dan berbuat kerusakan

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
[QS. Al Qoshosh (28) : 77]


Katakanlah : Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hambanya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah (semuanya) itu untuk orang-orang yang beriman (saja) dalam kehidupan dunia dan tertentu untuk mereka saja pada hari kiamat . Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui ,

.... pakailah perhiasanmu pada setiap memasuki mesjid, makan dan minumlah , tapi jangan berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan QS Al A'raaf : 31-32)

Rasulullah saw telah bersabda dalam sebuah hadisnya, "Tidak ada satu pun makanan yang lebih baik dibandingkan makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangan sendiri."

Bekerjalah .. karena sesungguhnya muslim yang kuat lebih Allah sukai daripada muslim yang lemah.




Wallahu a'lam bishawab,

22 TANDA IMAN KITA SEDANG SEDANG LEMAH ..




Bismillahirrahmannirahim,

Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:



1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah,  Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.


Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)


Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

 

2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)

 

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

 

4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)
Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”
Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

 

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

 

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.
Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

 

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.
Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).
Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

 

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!
Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)
 

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)
 

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)
“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).
 

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)
“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

 

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

 

11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2-3)
Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

 

12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.
Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)
 

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

 

13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! 
Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)
Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

 

14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

 

15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

 

16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

 

17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

 

 18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut:2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)


 

19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

 

20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

 

21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)
Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash:55)


Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

 

22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.
Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)
Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

 


Wallahu a'lam bishawab,

: RAHMAT ALLAH SANGATLAH LUAS, MELIPUTI SEGALA SESUATU ..



Bismillahirrahmannirahim,

Ketika jiwa merenung ,
Diantara tiang-tiang yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan jiwa adalah kesadaran bahwa di sana ada Rabb yang menyayangi setiap makhluk, mengampuni dan memaafkan orang yang memohon maaf. Karena itu , bergembiralah dengan rahmat Rabb yang luasnya meliputi langit dan bumi,

" Dan, rahmat Ku meliputi segala sesuatu " (QS Al A'raf : 156)

Dalam sebuah hadist sahih, diceritakan ketika seorang arab Badui tengah shalat berjamaah bersama Nabi. Pada saat tasyahud ia berkata : Ya Allah , berikanlah rahmat Mu kepada ku dan kepada Muhammad . Dan janganlah Engkau berikan rahmat kepada selain kami"

Seusai shalat, Rasul berkata : " Engkau telah membuat sesuatu yang luas menjadi sempit. Sesungguhnya rahmat Allah itu sangatlah luas , meliputi segala sesuatu. "


Kemudian dalam kisah yang lain , seorang ibu yang menjadi tawanan , lari sambil memeluk erat dan melindungi anaknya. Melihat hal itu , Rasul berkata : " Sesungguhnya Allah lebih menyayangi hamba-hamba Nya daripada (kasih sayang ) seorang Ibu terhadap anaknya"

Subhanallah ..

Allah subhana wa Ta'ala berfirman :

" Dan, adapun orang-orang yang takut kepada Kebesaran Rabb nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya (QS An Nazi'at 40-41)


Dalam sebuah hadist qudsi, diceritakan ada seorang yang sangat takut kepada Allah. Sebelum meninggal ia berpesan kepada keluarganya agar membakar jasad nya dan menyebarkan abunya di tanah, karena saking takutnya kepada Allah. Tapi kemudian Allah mengumpulkan abunya itu dan kemudian bertanya :

" Wahai hamba Ku, apa yang membuatmu melakukan semua ini ? "

Orang itu menjawab : Wahai Rabb ku, aku sangat takut kepada Mu, dan aku takut akan dosa-dosaku"

Maka kemudian Allah pun memasukkan nya ke surga.

Subhanallah ..


Kemudian , diceritakan pula sebuah kisah. Ketika ada seorang hamba yang berbuat melebihi batas, namun ia mentauhidkan Allah. Tak satupun kebaikan pada dirinya. Pekerjaannya selama di dunia adalah berdagang dan meleburkan hutang orang yang susah dan tidak mampu membayar. Maka Allah pun berkata :

" Aku lebih berhak untuk dermawan daripada Engkau. Ampunilah dia !" Dan kemudian Allah pun memasukkan nya ke dalam surga.

Subhanallah ..


Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah sedang melakukan shalat berjamaah. Seusai shalat, ada seseorang yang yang berdiri dan berkata : " Saya berhak dijatuhi hukuman, maka jatuhkanlah hukuman itu kepadaku "

Rasulullah bertanya : " Apakah tadi engkau shalat bersama kami "

"Ya" jawab orang itu

Rasulullah pun berkata : " Pergilah, Allah telah mengampunimu "


" Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah "
(QS Az Zumar : 53)

" Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya diri sendiri, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang " (QS An Nisa : 110)


Subhanallah .. Maha Besar dan penuh rahmat Nya Allah kepada hamba-hamba Nya ..



Wallahu a'lam bishawab,

DOA MEMOHON AGAR KELAK MENINGGAL KHUSNUL KHATIMAH.

♡ ”Bissmillahirrah­manirrahim


Sebaik-baik umur adalah yang dipanjangkan umur tetapi penuh dengan taat kepada Allah dan amal sholeh.

Seburuk-buruk umur adalah yang panjang umurnya tetapi penuh dengan dosa dan maksiat kepada Allah.

Orang yang akan selamat di alam akhirat adalah yang selamat di alam kubur. Orang yang selamat di alam kubur adalah orang yang selamat ketika di akhir hidupnya.

Akhir hidup yang baik sulit didapat jika kita sehari-harinya tidak taat kepada Allah dan taat kepada Rasul. Oleh karena itu, supaya akhir hidup kita menjadi baik (husnul-khatimah) maka mulai sekarang kita harus menjadi orang yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan selalu beramal sholeh.

Orang yang doanya akan dimakbul oleh Allah adalah mereka yang beriman,taat, mengamalkan sunnah Rasul,banyak beramal sholeh, banyak berjasa kepada orang lain dan menjauhi dosa dan maksiat kepada Allah.

Mintalah kepada Allah untuk akhir hidup kita yang baik dengan doa-doa di bawah ini :

ربﻫَﺐْ ﻟِﻲ ﺣُﻜْﻤًﺎ ﻭَﺃَﻟْﺤِﻘْﻨِﻲ ﺑِﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ

Rabbi Hablii hukmaw wa al hiqniy bish shoolihiin

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh”(Q.S. Asy-Sy’araa: 83)

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻞ ﺧﻴﺮ ﻋﻤﺮﻱ ﺃﺧﺮﻩ ﻭ ﺧﻴﺮ
ﻋﻤﻠﻲ ﺧﻮﺍﺗﻴﻤﻪ ﻭ ﺧﻴﺮ ﺃﻳﺎﻣﻲ ﻳﻮﻡ ﻟﻘﺎﺋﻚ

Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika

“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan (jadikanlah) sebaik-baik hariku yaitu hari ketika aku bertemu dengan_Mu (di hari kiamat)” (H.R. Ibnus Sunny)

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺧﺘﻢ ﻟﻨﺎ ﺑﺤﺴـﻦ ﺍﻟﺨﺎﺗﻤﺔ ﻭﻻ ﺗﺨﺘﻢ
ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺴـﻮﺀ ﺍﻟﺨﺎﺗﻤﺔ

“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul-khatimah (akhir yang baik), dan jangan KAU akhiri hidup kami dengan suu-ul- khatimah (akhir yang buruk)”

˚ ∕̴Ɩαmiiin.. Âamϊĭή γαα RÕϐϐαl ∕̴Ɩĺαάmïп˚

Satu kebaikan yang kita sebarkan melalui kata-kata kita, kemudian orang lain ikut melaksanakan, maka pahalanya akan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya­ sedikit pun. Apalagi jika kebaikan itu terus menyebar dan dilaksanakan oleh banyak orang, terus dan terus.

Semoga ALLAH Subhanahu wata'ala akan membalas sekecil apapun amal baik kalian.

Gelar Buat Ali bin Abi Thalib

A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma’in.
Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.

Gelar Buat Ali bin Abi Thalib

Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan “gerbang ilmu” dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, “Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?”
“Setuju!” jawab mereka serentak.
“Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja”, saran yang lain.
“Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas.”
“Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!” sahut yang lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Tentu saja lebih utama ilmu,” jawab Ali tegas.
“Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud dan lain-lainnya, ” Ali menerangkan.
Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri.
Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Lebih utama ilmu dibanding harta,” jawab Ali.
“Mengapa?”
“Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya.”
Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.
“Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?”
Ali kemudian menjawab bahwa, “Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?”
“Mengapa bisa demikian tuan?” tanya orang itu penasaran.
“Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya.”

Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, “Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu.”
“Apa yang menyebabkan demikian?” tanya orang itu mendesak.
“Karena bila engkau pergunakan harta,” jawab Ali, “jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak.”
Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, “Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani.”
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, “Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu.”
Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, “Pemilik ilmu akan diberi syafa’at oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak.”
Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, “Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?”
“Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu,” jawab Ali.
“Kenapa begitu?” tanyanya lagi.
“Dalam waktu yang lama,” kata Ali menerangkan, “harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi.”
Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. “Seseorang yang banyak harta”, jawab Ali pada orang ini, “akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual. “
Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, “Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya.”
Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, “Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup.”
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas mendapat julukan “gerbang ilmu”. Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi
Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!