Laman

Kamis, 23 Maret 2017

HATI, DIRI, DAN JIWA


TBS (ta’awud [Audzubillah…], Basmalah ,
Shalawat..)
Bismillah awal wal akhir..
Seseorang terpuaskan dengan penderitaan, seorang lainnya dengan kesenangan; Seseorang
terpuaskan dengan persatuan, seseorang dengan perpisahan; Aku terpuaskan oleh segala
kehendak Yang Maha Tercinta. Baik kesenangan atau penderitaan, penyatuan atau
perpisahah…-BABA TAHER
Kesadaran batiniah (jiwa rahasia) adalah…secara khusus diberikan pada kesatuan yang lahir
pada saat mengalami Kesatuan Ilahiah yang kreatif…Karenanya, telah dikatakan bahwa hanya
Tuhanlah yang mengetahui, mencintai, mencari tuhan, karena kesadaran batiniahlah yang
mencari mencintai.., dan mengenal Tuhan. Sebagaimana dituturkan Baginda Junjungan Alam
Rasulullah Muhammad saw, “Aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku”
Ego adalah budak yang baik, namun tuan yg sangat buruk. Latihan zikir para sufi pada satu
sisi bertujuan untuk belajar mendengar suara samar2 dari sang pemilik, dengn kata lain,
yakni suara hati yang lebih tinggi dan suara Tuhan (hati nurani) di dalam diri kita.
Dengan latihan, maka suara dari sifat keilahian kita yang terdalam menjadi lebih jelas dn
keras, seta lebih mudah untuk dipahami…
Ali Krw, menantu Nabi Muhammad saw, dikenal dengan julukan ‘Singa Islam‘. Pada salah satu
perang dalam pempertahankan Islam, Ali Krw menjatuhkan pedang (jadi inget cersil ‘RAJA
PEDANG’nya KPH neeh hihi..huhu..hu
Allah) seorang tentara orang kafir.Ali mengangkat
pedangnya dan nyaris menebas leher tentara itu ketika pria tersebut tiba2 meludahi
wajahnya. Ali Krw. melangkah mundur, menyarungkan pedangnya dan berkata “Kau boleh pergi!
Nyawamu diharamkan untukku saat ini.” Tentara yang tersungkur itu pun bertanya, “Apa
maksudmu…?”
Ali menjawab “Aku berperang demi Allah, dan mungkin saja aku ingin membunuhmu di tengah
pertempuran, bertarung demi agamaku. Tapi ketika kau meludahiku, kau membuatku marah. Aku
akan bertempur dan bahkan membunuh karena Allah, namun aku tidak akan menjadi pembunuh
karena nafs-ku.” Pejuang tersebut merasa sangat tersentuh dan menjadi seorang muslim…

Pemalas Atas Nama Tawakal


“ENTAR, kalau urusan saya masih saja kesandung-sandung saya baru tawakal Dul…” ucap Pardi pagi itu.
Dulkamdi tahu Pardi banyak masalah akhir-akhir ini.
“Baguslah kamu masih ingat Allah. Masih bisa tawakal…”
“Tapi tawakal itu harus mendahului niat dan ikhtiar. Jangan setelah mentok baru tawakal. Itu salah”, celetuk Kang Soleh.
“Wah, ini pemahaman baru kang. Selama ini saya usaha dulu baru kalau gagal tawakal…”
“Tawakal itu tempatnya di hati, bukan di akal dan pikiran, bukan di fisik kita. Kalau tawakalmu di fisik, pikiran, dan akalmu, itu bukan orang tawakal tapi orang males mengatasnamakan tawakal. Itu tawakal pada keadaan, bukan pada Allah. Padahal Allah menyebutkan “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” (Q.s. Ibrahim: 12). Setelah Allah menyebutkan tawakalnya semua orang yang bertawakal (secara umum), kemudian mengkhususkan tawakalnya orang-orang mukminin,
kemudian berikut ini Allah menyebutkan tawakalnya orang-orang yang sangat khusus:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“ (Q.s. ath-Thalaq: 3). Allah tidak mengembalikan mereka pada sesuatu selain Dia sendiri”
“Iya… yah… Kalau saya tahu sejak dulu begitu Kang, wah… saya tak pernah frustasi, tak pernah putus asa, apalagi mengeluh Kang…”
“Ya jelas. Kamu akan menjadi pekerja yang keras, tanpa beban. Kamu akan menghadapi dunia ini dengan jiwa merdeka. Karena hatimu bersama Allah, pikiranmu saja yang melihat dan menganalisa dunia. Jadi tidak boleh dicampur aduk. Allah ya Gusti Allah, manusia ya urusan manusia. Itu wasiat dari beliau Syeikh Abul Hasan asy-Sy-adzily…”
“Untung sampean beri penjelasan begitu. Kalau tidak…?”
“Memang kenapa kamu…?”
“Wah, hampir-hampir aku kejebur jurang Kang…”
“Lha… kok?’
“Saya itu maunya pasrah bongkokan saja, berhenti kerja, diam saja dirumah, tawakal penuh saja pada Allah. Ooenak tenan… karena orang tawakal sudah dijamin semuanya…”
“Lha, itu yang tawakal bukan hatimu. Tapi nafsumu yang bicara. Nafsu hanya ingin bebas dari beban, tanggung jawab, tugas dan kebaikan… Atas nama tawakal, nafsu pengin berselingkuh dengan bebasnya beban. Wah… setan bisa bertempik-sorak itu Di…”
“Bener Kang. Adhuh… untung sampean jelaskan…”
“Saya bukan menjelaskan. Saya hanya mengalihkan bahasa para ulama sufi dulu tentang hakikat tawakal.”
“Ukuran suksesnya tawakal itu apa sih Kang?”
“Jika hatimu sudah tidak menjenguk lagi pada hiruk-pikuk, sebab akibat, ini dan itu dunia… Jika hatimu sudah seperti sajadah yang kau gelar di hadapan Allah. Nah… anda baru tawakal…”

HATI SANUBARI DAN HATI NURANI

Hati terbahagi kepada 3 jenis iaitu:
1 Hati sanubari iaitu mereka ini adalah yang mencintai dunia (Hubbu Dunia)
2 Hati sanubari dan Hati Nurani iaitu mereka yang mempunyai dua hati iaitu di antara Hati Sanubari dan Hati Nurani, juga masih kasih kepada dunia
3 Hati Nurani ialah mereka yang tidak mencintai dunia
Adapun hati sanubari atau jantung Sanubari itu, adalah terkletak 2” di bawah tetek kiri dan 90 darjah letaknya di sebelah kiri. Ia termasuk sanubari yang dimiliki pleh semua manusia dan binatang.
Hati Sanaburi ini di kaitkan kepada dua iaitu:
a) Bangsa Haiwan
b) Bangsa Syaitan.
Adapun bangsa haiwan atau jiwa kotor itu ialah di kenali dengan:
a) Nafsu Ammarah – rupanya anjing hitam
b) Nafsu Lawammah- rupanaya babi
c) Nafsu sawiah – rupanya kambing
Adapun bangsa syaitan itu ialah:
a) Namanya Ajmaun
b) Namanya Hawa
c) Namanya Syahwat dll
Adapun orang-orang yang hanya mempunyai hati sanubari itu mempunyai derejat:
a) taraf Haiwan
b) taraf Iblis
Adapun isi dan sifat hati sanubari itu ialah:
a) Biadap
b) Bohong
c) Chuvenisme
d) Darah hitam
e) Dengki
f) Dusta
g) Egoisme
h) Hawa
i) Lawammah
j) Loba
k) Mungkir janji
l) Tamak
Maka hati sanubari ini adalah semulajadi
yang bernama makhluk. Ia boleh dilapah dan dimakan, kerana seketul daging zahir tempat nafsu yang hina.
Hati Nurani
Hati Nurani itu tidak dimiliki oleh mana-mana makhluk, tetapi dikehendaki manusia bersifat demikian rupa. Hati nurani atau hati jamal (Mukmin) ini dikenali dengan nama-nama seperti:
a) Nafsu Mulhimah ialah menjadi perangai malaikat dan nyawa malaikat
b) Nafsu Mutmainnah atau Roh Mutamainnah yang tarafnya jadi jadi nafsu nabi dan perangainya jadi perangai nabi.
Maka Hati Nurani inilah yang dikehendaki kepada tiap-tiap muslim yang mengucap kalimah Allah.
Hati manusia ini, ia diibaratkan sebagai sebuah negeri yang ada dua raja. Bila hati itu baik dinamakan Hati Malaikat. Bila jahat dinamakan hati iblis. Alangkah susahnya kalau satu negeri ada dua raja, maka jadilah hati itu berbolak-balik kerana diperintah oleh dua raja, maka di sinilah dikatakan perang Fisabilillah , kerana nilai manusia di sisi Allah ialah hati Nurani yang bersih yang tidak setititk pun terdapat noda-noda hitam.
Firman Allah Taala:
” Hari yang tidak ada gunanya harta dan anak-anak, hanya yang Allah anugerahkan kepada Hati Yang Salim (hati Nurani)”
Sabda Rasulullah saw:
”Bahawasnya Allah tidak memandang kepada pakaian dan rupa paras kamu, melainkan memandang hati kamu yang bersih (hati nurani)”
Maka untuk mengenali hati dan hati supaya jadi nurani atau hati Mukmin Rumah Allah, terpaksalah dengan adanya Ilmu hati yang dinamakan Ilmu tasawwuf, tanpa ilmu tasawwuf, hati seseorang itu tidak akan bersih, kerana tiap-tiap satu ilmu yang jadi rahsia Tuhan adalah mempunyai tingkat-tingkat dan aturan-aturan menurut pelajaran Ilmu rahsia Tuhan.
Maka asas ilmu rahsia Tuhan ialah menegnali Ilmu Rohani yang sebenar-benar Rohani yang suci yangr bertaraf Amar rabbi.
Sebagaimana yang di nyatakan dalam Firman Allah Taala:
”Bertanya mereka itu orang-orang yahudi kepada engkau daripada Roh, katakanlah oleh mu Ya Muhammad, bagi ”roh itu adalah urusan Tuhan ku”
Barangsiapa yang tidak memahami dan mengalami apa dia Rohani, iaitu Dirinya yang menjadi hakikat itu, tentulah tidak akan melangkah ke hadapan.
Bahawa dengan mengetahui Rohani yang sebenar-benarnya , maka tidak ada lagi tereqat padanya, kerana tareqat itu hanya jalan, maka jalan itu membawa kepada tempat yang di tuju, maka tempat yang dituju itu ialah hakikat diri masing-masing.
Dengan mengenal Rohani yang sebenar-benarnya dan Rohani yang sempurna yang dinamakan A’ayan sabitah, maka seseorang itu akan maju lagi selangkah ke depan berkenaan Ilmu tauhid kepada Allah Taala yang sebenar benar tauhid. Bukan tauhid pada orang –orang awam atau ahli-ahli syari’at atau ahli-ahli tareqat. Maka setelah menegenal rohnya maka di sanalah mendapat hasil dinamakan hakikat dan makrifat.
Celik hati
1 Orang-orang yang mempunyai hati Fu’ad adalah taraf Islam. Dan inamakan ahli makrifat Fu’ad. Itu adalah adalah ahti yang benar
2 Orang-orang yang mempunyai hati Kalbun adalah tarafnya Mukmin. Dan dinamakan makrifat Kalbun. Hatinya adalah suci.
3 Orang-orang yang mempunyai kalbi.
Tarafnya Mukmin, dinamakan ahli makrifat Kalbun. Hatinya adalah terlebih suci.
4 Orang-orang yang mempunyai hati rohani adalah orang mukmin atau dinamakan Ahli makriftat Roh, bilangan ahli Syurga, sebagaiamna mereka yang telah ada mempunyai dua mata hati yang celik atau dinamakan hati yang celik
5 Orang yang mempunyai hati Roh Rabbani, tarafnya ahli sufi, itulah yang semulia-mulianya.

Zikir Meliputi Perkataan, Perbuatan Dan Perasaan

Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada Tuhan melainkan Aku! Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 : Surah Taha )
Sembahyang mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan
dan penyertaan hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga. Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna. Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir. Sekalian maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam sembahyang menggabungkan pengakuan bahawa yang diingatkan itu adalah Allah s.w.t; bahawa Allah s.w.t yang diingati itu adalah Tuhan; bahawa tiada Tuhan melainkan Dia; bahawa Allah adalah Tuhan yang disembah; bahawa menyembah Allah s.w.t adalah dengan perkataan, perbuatan dan perasaan; bahawa apa sahaja yang dilakukan adalah kerana mentaati-Nya dan kerana ingat kepada-Nya.
Zikir yang di dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang. Menyebut nama-nama Allah s.w.t adalah zikir. Perkataan yang baik-baik diucapkan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Nasihat menasihati kerana Allah s.w.t adalah zikir. Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir. Semua itu merupakan zikir perkataan. Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah s.w.t. Berdiri, rukuk dan sujud dalam sembahyang adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi peraturan yang Allah s.w.t turunkan, adalah zikir. Mengalihkan duri dari jalan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Apa juga perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat kerana Allah s.w.t maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir. Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian kerana Allah s.w.t. Semua itu menjadi zikir jika dibuat kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi perintah-Nya, kerana mencari keredaan-Nya dan kerana ingat kepada-Nya. Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir. Ia hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah s.w.t, ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, kerana setiap amalan digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.
Zikir adalah mengingati Allah s.w.t sebaik dan seikhlas mungkin. Mengingati nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir. Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah s.w.t adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah s.w.t adalah zikir juga namanya. Jadi, zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi. Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan sesuatu tentang Allah s.w.t.
Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t. Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mahu meminum racun tersebut. Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak kecil yang mahu meminum racun itu. Perpindahan perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah s.w.t. Dia menyebut nama Tuhan kerana ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu kerana mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia pada sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkekalan atau zikir daim.
Zikir daim sukar diperolehi. Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah s.w.t dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya. Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir daim. Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah s.w.t. Ia membuka kesedaran-kesedaran dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas kerana Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya. Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.
Zikir atau mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud: “Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”
Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh syaitan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih mempunyai kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang selain Allah s.w.t. Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah s.w.t tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan, hiburan dan lain-lain. Beginilah tahap orang Islam biasa. Orang yang berada pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya kerana jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian. Tanpa ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai. Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang menutupi hati. Tenaga syaitan akan mencuba untuk menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati. Tindakan syaitan itu membuatkan orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk. Oleh yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang lidah daripada berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan. Tenaga zikir yang berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati. Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan. Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi. Lidah tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melazatkan. Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah kedudukan orang yang beriman.
Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap masa dan suasana. Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada Tuhan. Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.
Zikir yang diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan. Bagi sebahagian manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir. Zikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati. Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.
Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk. Zauk itu terjadi kerana kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati. Ingatan dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu menjadi pengsan kerana takutnya hati kepada keperkasaan Allah s.w.t. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.
Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima ‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati. Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa. Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.
Pada tahap kesedaran yang paling dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah s.w.t, yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan dan ibarat. Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal menghuraikan tentang Allah s.w.t. makrifat gagal memperkenalkan Allah s.w.t. Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya tersungkur di hadapan Hadrat Allah s.w.t, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah s.w.t, Dia Maha Esa. Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah s.w.t benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah s.w.t. Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t, Tuhan Maha Mencipta. Baharulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.
Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir. Roh yang baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah s.w.t yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua roh-roh yang lain. Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki. Pada roh tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.
Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min
Roh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki. Roh Islam mengeluarkan yang Islam sahaja. Jiwanya Islam, perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala-gala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.
Zikir memainkan peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang inginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah s.w.t sebanyak mungkin.
Lantas apabila kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah s.w.t sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu. Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), kerana sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya. ( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )
Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau. Lantaran itu peliharakanlah kami daripada seksa neraka”. ( Ayat 191 : Surah a-Li ‘Imran ) Setiap Muslim seharusnya mencari kehidupan berzikir; berzikir sambil duduk dan sambil berbaring; bekerja di dalam berzikir; berehat di dalam berzikir dan tidur di dalam berzikir. Lidah berzikir, anggota tubuh berzikir dan hati berzikir. Tentera Islam yang sedang berperang dengan musuh pun dituntut berzikir, apa lagi kaum Muslimin yang berada dalam suasana aman. Muslim sejati sentiasa berzikir, mengingati dan mentaati Allah s.w.t.

Rabu, 22 Maret 2017

Engkau Wahai Guruku…


Dulu, aku hanyalah seorang anak muda putus asa akibat patah hati, hidup tidak punya arah dan nyaris ingin mengakhiri hidup, kemudian aku datang kepadamu menyerahkan diri untuk dibimbing menjadi orang yang berguna. Datang dengan niat untuk mengobati luka hati yang tercampakkan oleh dunia yang kejam. Masih aku ingat malam itu, Engkau wahai Guruku membentakku dengan keras karena aku tidak setuju dengan Tarekat karena bagiku Tarekat itu sebuah kata yang tabu, sebuah aliran yang penuh bid’ah dan kesesatan. Hampir saja Engkau mengusirku dan syukur sekali malam itu aku bertahan dan tidak keluar dari Suraumu. Mengingat kenangan itu, aku ingin selalu menangis, air mataku mengalir tanpa bisa tertahan, syukur kepada Tuhan yang Maha Pemurah telah memperkenalkan dirimu wahai Guruku, kekasih Allah dimuka bumi. Sungguh, andai malam itu aku merajuk dan keluar dari suraumu, saat ini aku tidak tahu menjadi apa. Menjadi hamba setan dan Yang pasti aku menjadi orang yang menyembah Tuhan tanpa pernah kenal dengan Tuhan yang disembah. Seperti sindiranmu kepadaku, “menyembah tuhan kira-kira”.
Aku datang kepadamu, wahai Guruku, dengan kubangan dosa dan masih tersisa lumpur-lumpur kenistaan. Aku tahu jubahmu terpecik oleh kenistaanku dan yang membuat aku selalu menangis karena Engkau berkenan menerima diri hina ini. Menerima manusia yang sakit jasmani dan rohani. Ampuni aku Wahai Guruku, karena malam itu aku berbohong padamu. Karena ketika engkau bertanya, “apakah niat kamu menempuh jalan ini karena Allah?”. Aku jawab, “Iya”, padahal jujur wahai Guru, niat aku malam itu hanya untuk berobat saja. Maka aku bisa menerima bentakanmu karena niatku memang tidak tulus.
Syukur kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, yang telah memperkenalkan dirimu Wahai Guruku, karena kemudian setelah Allah berkenan membukakan hijabnya, ternyata aku baru sadar bahwa engkau adalah Guru Sejati, Wali Qutub, pemimpin para Wali dan cuma ada satu orang disetiap zaman. Sungguh syukur yang tidak terhingga karena engkau yang sungguh teramat mulia berkenan menerima aku sebagai muridmu. Maka disetiap langkah hidup ini, ketika ada yang menanyakan kepadaku apa kebahagiaan dan kemulyaan paling tinggi didunia ini? Tanpa ragu aku jawab, “kebahagiaan dan kemulyaan tertinggi bagiku adalah diterima menjadi murid wali, diterima menjadi muridmu wahai guruku”.
Wahai Guruku teramat mulia, sungguh dirimu adalah kekasih yang disembunyikan Allah sehingga manusia akan terhijab oleh kesederhanaanmu. Manusia pastilah mencari Guru yang jenggotnya panjang, jubahnya meriah sampai ke tanah dan surbannya tebal serta bahasa Arabnya lebih fasih dari orang Arab. Orang pasti mencari kekasih Allah dalam wujud orang yang suka pamer ilmu dan pamer ayat bahkan tanpa sadar menjual ayat-ayat Tuhan.
Engkau wahai Guruku, benar-benar sosok yang selalu menjaga kesucian jiwa, tidak ingin disanjung dan dihormati oleh manusia. Engkau hadir ditengah-tengah manusia layaknya mereka sehingga kami selalu merasa damai bersamamu. Engkau benar-benar sosok yang kami kenal, bukan sosok suci yang menjauh dari kehidupan duniawi.
Engkau Wahai Guruku, mengingatkan aku akan Rasulullah SAW, junjungan alam, yang dalam dirinya tersempunyi Nur Allah yang lewat Beliau para sahabatnya bisa berhubungan dengan Allah SWT. Dalam dirimu aku temukan getaran itu. Getaran yang membuat roh ini melayang sampai kehadirat Allah SWT.
Engkau wahai Guruku, mengingatkan aku akan Imam Para Sufi, Saidina Abu Bakar As-Shiddiq yang sangat dermawan yang seluruh harta dan hidupnya diserahkan untuk kejayaan Islam. Dirimu wahai Guruku mengabdi 50 tahun kepada jalan kebenaran ini tanpa memperdulikan harta bahkan selama puluhan tahun engkau tidak mempunyai tempat tinggal sama sekali sampai engkau menjadi Guru Sejati.
Engkau wahai Guruku, mengingatkan aku kepada kemegahan Islam, Saidina Umar bin Khattab yang gagah berani mempertahankan agama Islam. Dalam dirimu aku temukan keberanian Umar, yang tidak pernah mengenal kata menyerah dan putus asa.
Engkau Wahai Guruku, mengingatkan aku akan Sang Corong Ilmu, Saidina Ali bin Abi Thalib Karamalluhu wajhah. Setiap kata yang kau ucapkan penuh makna dan sarat dengan hakikat ketuhanan. Belum pernah engkau tidak bisa menjawab pertanyaanku bahkan sebelum aku bertanyapun telah engkau jawab.
Engkau wahai Guruku, mengingatkan aku akan Syekh Abu Yazid Al-Bisthami yang sempurna wahdatul wujudnya dan setiap ucapannya bisa membuat orang awam geram dan menuduh sesat. Dalam dirimu aku temukan sosok Abu Yazid, karena setiap ucapanmu tidak lain keluar dari mulutmu yang telah menyatu dengan Allah SWT.
Engkau wahai Guruku, mengingatkan aku akan kisah Syekh Amir Kulal yang masa mudanya gagah berani, tidak pernah kalah dalam bermain gulat sampai bertemu dengan Syekh Muhammad Baba Samasi. Engkaupun di masa mudamu gagah perkasa tak tertandingi.
Engkau wahai Guruku, mengingatkan aku kepada Syekh Bahauddin Naqsyabandi yang selalu disalahkan oleh teman-teman seperguruan dan dijauhkan dari pergaulan sampai Guru Beliau menganjurkan Bahauddin muda untuk keluar dari tempat wiridnya untuk menyenangkan hati khalifah-khalifah yang lain. Dirimu wahai Guruku yang selalu menjunjung amanah Guru sehingga membuat orang lain iri dan benci kepadamu.
Engkau Wahai Guruku, mengingatkan aku akan Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi, akan keteguhan hati dalam berdakwah tanpa peduli sakit dan terus semangat. Dalam dirimu aku temukan itu Guruku, karena dalam sakitpun engkau tetap membesarkan nama Tuhan.
Engkau wahai Guruku, junjunganku, pujaan hatiku, dalam dirimu bersemayam Nur Muhammad karena itu namamu menjadi Muhammad pula,
Engkau wahai Guruku adalah MUHAMMAD yang selalu pandai Ber-SYUKUR

Jangan Kau Potong Besi Memakai Dzikir!

Ilmu di dunia ini bersifat universal artinya siapapun dengan sungguh-sungguh menekuni akan mencapai hasil sesuai dengan tujuan ilmu tersebut. Fakultas Kedokteran hadir untuk mencetak manusia menjadi dokter sedangkan fakultas Teknik dibuat untuk mencetak manusia menjadi seorang Insyiur, ahli teknologi. Akan keliru jika orang bercita-cita menjadi dokter masuk ke Fakultas Teknik, sesunguh apapun usahanya tidak akan membuat dia menjadi seorang dokter. Pernah suatu hari sambil guyon Guru berkata, “Jangan kau potong besi memakai dzikir!”.
Seorang murid dengan polos bertanya, “Kenapa Guru besi tidak boleh dipotong memakai dzikir?”
Guru tertawa, “Memang bisa putus besi kamu potong dengan dzikir? Besi dipotong dengan gergaji besi sedangkan dzikir untuk membersihkan hati”
Maksud Guru sebenarnya adalah segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya, digunakan menurut fungsi masing-masing. Karena ilmu bersifat universal maka siapa saja yang memenuhi rukun syarat dalam menuntut ilmu akan memperoleh hasil yang sama, siapapun orangnya.
Ada sebuah guyonan dari Almarhum KH, Hasyim Muzadi “Ilmu itu universal, bukan soal agama. Kristen belajar kedokteran ya jadi dokter. Orang NU gak belajar, ya jadi dukun.” Apa yang Beliau sampaikan ada benarnya seperti saya kemukakan di awal tulisa tadi bahwa ilmu itu bersifat universal. Anda rajin belajar akan menjadi pandai sedangkan tidak rajin akan menjadi bodoh, tidak ada hubungan dengan ibadah yang anda lakukan.
Orang rajin ibadah tapi malas bekerja maka hukum alam membuat dia menjadi miskin atau hidup dibawah rata-rata, sedangan orang rajin bekerja dan berusaha andai dia seorang yahudi pun akan menjadi kaya dan sukses. Coba perhatikan orang-orang sukses di dunia, kebanyakan dari kalangan non muslim, bukan faktor agamanya tapi karena kesungguhan. Seorang muslim yang sukses juga banyak, kaya raya juga banyak, mereka mencapainya bukan lewat ibadah dan keshalehan tapi lewat ketekunan.
“Tuhan tidak pernah mau melanggar hukum-Nya” begitu Guru menasehati saya. Tuhan menciptakan hukum yang kita sebut sunatullah, lewat hukum tersebut maka keadilan Tuhan terlaksana dengan seadil-adilnya di dunia ini. Tuhan memberi ilham tentang Hukum Gravitasi kepada Newton, hal yang belum pernah terfikirkan oleh manusia sebelumnya, meskipun berulang kali orang menyaksikan apel jatuh, ini tidak ada hubungan dengan ketaatan.
Kita bangga memiliki Harun Yahya yang sangat tekun menemukan ayat-ayat tentang apapun rahasia alam. Kalau anda nanya ke Harun Yahya tentang dalil komputer di al-Qur’an pasti dia punya ayatnya. Tapi saya pribadi berpendapat bahwa tidak semua fenomena alam harus bisa dijelaskan memakai dalil-dalil karena keduanya memiliki fungsi berbeda. Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk hidup manusia, jalan kepada-Nya, sebagai sumber kebaikan universal, tidak harus disana memuat segala keinginan dan kebutuhan kita, terutama bidang teknologi. Kalau anda cari dalil tentang handphone, laptop, pesawat, internet dan teknologi terbaru lainnya di al-Qur’an, nanti anda hanya sekedar mencocok-cocokkan saja ayatnya, sesuai persepsi anda.
Masyarakat kita terbiasa dengan dalil-dalil tapi terkadang melupakan esensinya. Kebanyakan dari kelompok yang suka membid’ahkan amalan orang lain suka mencari dalil tapi bukan dalil untuk beribadah tapi dalil agar ibadah menjadi ringan atau mencari dalil agar ibadah orang lain menjadi salah. Gus Dur adalah sosok yang suka membicarakan esensi bukan dalil. Ketika ditanya kenapa demikian, dengan santai Beliau bilang “ngapain? lha kok kayak orang Arab saja dikit-dikit ndalil”.
Ketika saya menulis esensi di sufimuda.net ada orang bertanya dimana ayat dan hadistnya? Giliran saya tulis hadist mereka nanya hadis shahih gk? Giliran saya cantumkan hadist Bukhari Muslim yang menurut mereka sangat shahih, mereka kembali ngeyel, “Ah maksud hadits bukan seperti itu”. Makanya saya tidak terlalu meladeni orang-orang yang masih sibuk dengan dalil-dalil.
Imam al-Ghazali berkata, “Kitab ibarat tongkat untuk membantu orang bisa berjalan, ketika sudah pandai berjalan maka tongkat itu akan menjadi penghalang dalam perjalanan”. Maksud imam al-Ghazali, dalil itu berfungsi sebagai langkah awal seorang untuk menempuh jalan kebenaran ketika sudah paham maka yang dilakukan adalah melaksanakannya bukan terlena dengan dalil-dalil.
Pada level terendah sebagai pelaksana, seorang Polantas sangat hapal dengan ayat-ayat KUHP berhubungan dengan pelanggaran di jalan. Ketika anda tidak memakai helm, tanpa membuka buku panduan langsung Pak Polantas berkata,“Mohon Maaf, anda telah melanggar Undang-Undang Pasal 291 ayat 1”. Begitu juga kerja seorang ustad, menghapal dalil-dalil diluar kepala, hanya sampai disitu yang bisa dia lakukan. Seorang prof hukum tidak lagi berbicara tentang pasal-pasal KUHP, dia sudah berbicara esensi dari hukum tersebut. Hukum helm dibuat agar melindungi pengendara dari benturan, menghindari gegar otak, hukum helm suatu saat tidak diperlukan jika kesadaran masyarakat meningkat, itu esensi dari hukum memakai helm, hal yang tidak harus dipahami oleh seorang petugas Kepolisian.
Maka ada sebuah sindiran dikalangan sufi, “Keledai yang membawa tumpukan kitab tetap akan menjadi seorang keledai”. Kalau anda tidak memahami hakikat sesuatu maka dalil-dalil tidak memberikan manfaat kepada anda. Sebagaimana halnya ada ingin membuat kue, dalil-dalil dan petunjuk berguna agar anda bisa membuat kue, tapi kalau anda hanya membaca buku itu berulang-ulang walau seribu kali tanpa mempraktekkan, sampai kiamat pun kue tidak akan pernah terwujud.
Karena ilmu bersifat universal maka ikutilah rukun syarat yang ditetapkan oleh ilmu tersebut. Kalau anda ingin menemukan Allah, selalu beserta dengan Allah, bukan dalil yang diperlukan, tapi seorang pemandu yang telah berjalan bolak-balik kehadirat-Nya, dengan cara itu akan menemukan kepastian. Sebagaimana hadist Nabi, “…Jika engkau belum beserta Allah, jadikanlah dirimu beserta orang yang telah beserta Allah, niscaya dialah yang mengantarkan engkau kehadirat Allah”.
“Ikutilah orang yang tiada meminta upah kepada mu itu, karena mereka mendapat pimpinan yang benar” (Q.S Yasin, 23)
“Mereka itulah orang yang telah diberi Allah petunjuk, maka ikutilah Dia dengan petunjuk itu”. (QS. Al-An Am, 90)
“Dan kami jadikan mereka menjadikan ikutan untuk menunjuki manusia dari perintah Kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami” (QS. Asajadah, 24).
Ayat-ayat diatas adalah petunjuk tentang Ulama Pewaris Nabi, dengan bimbingan Beliau maka manusia akan berhampiran kepada Allah SWT, dalil itu akan tetap menjadi dalil dan tidak memberikan manfaat sama sekali kepada anda, sampai anda menemukan Pembimbing Jalan Kepada-Nya.

Pentingnya seorang Guru

“Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa bimbingan Syekh (Guru Mursyid) maka wajib setan Gurunya” (Abu Yazid al-Bisthami).
Ucapan tokoh besar sufi diatas di khususkan untuk yang berhubungan dengan kerohanian, mistik dimana jika kita belajar tanpa ilmu maka setan akan mudah menyusup dalam setiap ilmu yang kita pelajari. Tidak ada Guru menyebabkan tidak ada yang menegur, membimbing dan mengarahkan agar kita agar tetap berada di jalan yang benar.
Betapa banyak orang menerima ilmu gaib dari sumber-sumber yang tidak jelas, baik Guru maupun asal ilmu. Ada orang menerima ilmu sakti dari mimpi, didatangi sosok yang mengaku sebagai wali Allah kemudian diajarkan ilmu tertentu dan biasanya berupa ayat-ayat yang harus diamalkan, kemudian dia menjadi sakti.
Kesaktian yang diperolehnya tersebut kemudian dibungkus dengan ibadah-ibadah, penampilan yang shaleh, untuk memikat banyak orang agar mau mengikuti jalannya yang keliru. Lebih parah lagi, dia tidak menyadari kalau yang diamalkan itu berasal dari setan.
Ada juga orang yang pengetahuan agamanya luas, karena ingin Nampak ‘keramat”, hebat dan disegani orang, kemudian dia mencari ilmu gaib dari sumber-sumber yang dilarang oleh agama. Bertapa di gunung atau menyendiri di pinggir laut sehingga kemudian dia menjadi orang sakti mandraguna.
Setan sangat mudah memperdaya manusia dengan menawarkan kehebatan-kehebatan karena sifat dasar manusia ingin selalu hebat dan lebih dari yang lain. Setan membuat jebakan-jebakan gaib yang diawalnya Nampak benar tapi akhirnya membawa kita kepada kesesatan.
Manusia suka cepat, instan, tidak perlu bersusah payah langsung ingin dapat hasil. Karena itu setan menawarkan bukan yang instan juga, tidak perlu bersusah payah zikir di tarekat tapi langsung menawarkan kepada makrifat. Makrifat yang instan itu perlu dipertanyakan kebenarannya. Jangan anda silap, Iblis sebagai mantab malaikat bukan hanya bisa keluar masuk surga tapi bahkan dia bisa mengcopy paste bentuk surga dan kemudian menawarkan kepada manusia.
Ada yang memperoleh kesaktian dari amalan-amalan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti mengamalkan Ayat Kursi dan lain-lain. Apakah kehebatan yang dia peroleh tersebut murni? Atau kekuatan yang diperolehnya melalui setan?
Disinilah pentingnya kita mempunyai Guru Pembimbing, yang sudah mencapai tahap Makrifatullah, seorang Guru yang Arifbillah, sudah sangat berpengalaman melewati jalan kepada Tuhan sehingga bisa memberikan kepada kita pentunjuk agar bisa selamat sampai ke tujuan. Tidak cukup hanya dengan mambaca AL-Qur’an dan menghapal hadist serta memiliki kecerdasan untuk bisa berkenalan dengan Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa Allah ada diperlukan dalil Aqli (Akal) dan Dalil Naqli (Ayat-ayat) akan tetapi untuk bisa sampai kehadirat-Nya tidak cukup hanya dengan dalil, anda memerlukan pembimbing rohani yang akan membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya.
Itulah sebabnya kenapa orang yang hanya belajar dari bacaan akan memperoleh hasil berupa bacaan pula. Sementara orang yang belajar dari seorang Guru yang Ahli akan memperoleh hasil yang berwujud, sesuai dengan apa yang telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur’an.
Jangankan ilmu berkomunikasi dengan Allah, ilmu makrifatullah yang sangat halus dan tak terhingga hebatnya, ilmu biasapun anda harus mempunyai Guru yang ahli. Anda bisa mempelajari ilmu ekonomi dari bacaan akan tetapi anda tidak akan bisa menjadi seorang sarjana ekonomi hanya dengan membaca. Anda memerlukan Guru (Dosen) yang akan membimbing, menguji, sehingga anda diakui sebagai seorang Sarjana. Begitu juga dengan ilmu kedokteran, anda bisa memperoleh ilmu-ilmu tentang kedokteran dengan cara membaca buku-buku yang diajarkan di fakultas kedokteran, akan tetapi anda tidak akan pernah bisa menjadi dokter atau diakui sebagai dokter jika anda tidak mempunyai Guru (dosen) yang akan membimbing dan menguji anda. Kalau anda memaksakan diri menjadi dokter (tanpa menuntut ilmu dari yang ahli) maka anda akan menjadi dokter gadungan yang akan menyusahkan banyak orang.
Orang yang mengatakan bisa makrifatullah (mengenal Allah) hanya dengan membaca saja dan kemudian mengingkari posisi penting Guru Mursyid tidak lain karena kesombongannya semata. Memang anda akan mengetahui banyak ilmu tentang ayat-ayat, dalil-dalil, teori-teori akan tetapi anda tidak akan bisa memperoleh “rasa” bertuhan hanya dengan sekedar membaca.
Guru Mursyid yang akan membimbing anda adalah orang yang telah memperoleh pengakuan dari Guru sebelumnya, dan Guru sebelumnya telah memperoleh juga pengakuan dari Guru sebelumnya, secara sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW. Hakikatnya, Rasulullah SAW lah atas izin Allah yang memberikan ijazah kepada Guru Mursyid untuk mengajar para murid-muridnya diseluruh dunia agar bisa mengenal Allah dengan sebenar kenal sebagaimana Rasulullah membimbing ummat di zaman ketika Beliau masih hidup.
Terakhir, anda bisa mengetahui tentang riwayat hidup Rasulullah SAW dengan membaca hadist-hadist dan sejarah hidup Beliau yang banyak ditulis oleh para ahli, akan tetapi untuk bisa berhampiran, akrab dan mesra dengan Rasulullah, rohani anda harus ada yang menuntun berhampiran dengan rohani Rasulullah yang hidup disisi Allah, sehingga setiap saat Rasul begitu dekat dengan anda, mengisi hidup anda dan selalu dihati anda walaupun jarak antara kita dengan Rasulullah dipisah berabad-abad.