Laman

Sabtu, 27 Agustus 2016

GOLONGAN JIN MENGENAL ORANG MUKMIN DARI CAHAYA YANG MEMANCAR


Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An Nur 35)
Orang beriman adalah orang yang berada dalam naungan cahaya Allah, wajah dan hatinya diliputi cahaya yang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya. Kata katanya menentramkan dan menyejukan hati, perilaku dan ahlaknya menyenangkan orang disekitarnya. Dimanapun ia berada selalu mendatangkan kedamaian dan ketenangan. Orang yang peka dan terang hatinya dapat melihat cahaya yang terpancar dari wajah orang Mukmin ini.
Sebaliknya orang yang tidak beriman pada Allah berada dalam kegelapan. Wajah dan hatinya diliputi kegelapan diatas kegelapan. Kata katanya menyakitkan hati, perilaku dan ahlaknya menimbulkan keresahan bagi orang disekitarnya. Hidupnya penuh kebohongan dan tipuan, kesana kemari mengumbar syahwat dan kesenangan fatamorgana. Orang yang mengikutinya sering terjebak kesenangan semu, yang berakhir dengan kesengsaraan dan derita. Orang yang peka dan terang hatinya dapat melihat kegelapan wajah orang ini.
Tanda tanda orang beriman yang bermandikan dan berselimut cahaya itu adalah mereka yang disebutkan dalam surat An Nur ayat 36:
36. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, 37. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (An Nur 36-37)
Mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dan urusan dunia dalam berzikir mengingat Allah, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan mereka takut akan datangnya suatau hari yang hati dan penglihatan manusia bergoncang (kiamat). Mereka selalu bertasbih mensucikan dan menganggungkan kebesaran Allah dimasjid masjid pada waktu pagi dan petang hari.
Cahaya yang memancar dari wajah dan tubuh orang beriman ini dapat dilihat oleh golongan Jin
Jin fasik dan kafir tidak berani mendekat orang yang taat beribadah, mereka merasa panas berada didekatnya. Cahaya yang memancar dari tubuh orang mukmin ahli ibadah dapat membakar mereka. Orang yang tidak beriman tidak memiliki cahaya seperti itu, mereka jadi bulan bulanan tipu daya jin dan syetan dalam kehidupan dunia ini. Allah juga menyebutkan hal ini dalam surat an Nahl ayat 99 dan 100. Bahwa syetan dan jin tidak punya kekuasaan dan kekuatan terhadap orang yang beriman dan bertawakal pada Allah, mereka hanya sekutu Allah.
Salah satu shabat yang ditakuti oleh golongan jin dan syetan adalah Umar bin Khatab, dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Rasulullah bersabda pada Umar bin Khatab: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu di suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan yang lain dari jalanmu.” (HR. Bukhari, no.3480). Golongan Jin dan syetan bisa mengenal orang mukmin dari jauh dari cahaya yang memancar dari wajah dan tubuhnya. Mereka selalu menghindar dari pertemuan dengan orang seperti ini.
Cahaya orang Mukmin di Padang Mahsyar
Banyak ayat Qur’an yang menceritakan bahwa kelak dihari berbangkit orang beriman dikenal dengan cahaya yang mengiringinya didepan , belakang, kiri dan kanannya. Tubuhnya bermandikan cahaya. Mereka dapat dikenal dengan mudah dari cahaya yang memancar disekitar tubuhnya. Allah menyebutkan hal itu dalam surat al hadit ayat 12 :
12. (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” ( Al Hadit 12 )
Hal yang sama disebutkan Allah dalam surat at Tahrim ayat 8:
8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At Tahrim 8 )

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim Rasulullah mengajarkan kita untuk berdoa memohon cahaya pada Allah sebagai berikut:
Allahummaj al fii Qolbi nuron, wafii lisaani nuuron, wafii sam’i nuron, wafii bashorii nuron, wamin fawqii nuron, wamin tahtii nuuron, wa an yamiinii nuron, wa an syamaali nuron, wamin amaamii nuron, wamin kholfii nuuron, wajj al fii nafsii nuron, wa a’dzimlii nuuron, wa adzzim lii nuuron, wajj allii nuuron, wajj alni nuron, Allahumma a’thinii nuuron, wajj al fii ashobii nuron, wafii lahmi nuuron, wafii damii nuuron, wa fii sya’rii nuuron, wafii basyarii nuuron, ..
“Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatan-ku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, per-besarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untuk-ku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku” (Hal ini semuanya disebutkan dalam Al-Bukhari 11/116 no.6316, dan Muslim 1/526, 529, 530, no. 763)
Demikianlah Allah memberikan cahayaNya pada orang yang beriman berupa Aura Nur Ilahi ketika hidup didunia dan ketika berada di Padang Mahsyar kelak. Mintalah kepada Allah agar Dia menambahkan cahayanya pada kita masing masing.

*CERITA ALAM BARZAKH*

Barzakh bermaksud TABIR. Tabir bermaksud tapisan yang menghalang atau yang memisahkan sesuatu.
Makanya, Alam Barzakh bermaksud, alam yang dipisahkan oleh satu tabir.
Dalam konteks agama, alam Barzakh merujuk kepada alam kubur (kiamat kecil) yang menjadi alam 'perbicaraan awal' yang MENAPIS semua amalan manusia sementara menunggu datangnya kiamat besar.

Kebanyakan sistem agama dan kepercayaan yang wujud sebelum Islam, ada menceritakan kisah Alam Barzakh. Fahaman orang Mesir purba yang terkenal dengan kisah Pharaoh (Firaun/Raja) juga ada menceritakan perihal AMENTI (alam Barzakh) dan OMEGA POINT (Syurga/kebebasan sepenuhnya).
Dalam konteks sains, Alam Barzakh merujuk kepada LAPISAN ELEKROMAGNET yang menutupi bumi. Lapisan elektromagnet ini merupakan satu gelombang tenaga yang jika dilihat dari angkasa, ia kelihatan seperti satu lapisan kabus putih yang menutupi keseluruhan planet bumi.
PERUMPAMAAN
Roh manusia itu IBARAT 'Gas' yang bertebaran di seluruh alam.
Bila seseorang manusia 'mati', GAS itu akan terpisah dari jasad dan kembali bertebaran di bumi. Bagi diri yang MENGENAL (berilmu) GAS itu akan menjadi RINGAN. Makin banyak ilmu yang difahami, dikenali dan dimanfaatkan, maka makin ringan GAS seseorang itu.
Contoh :
Gas karbon dioksida bersifat lebih berat dari gas lain, makanya ia akan sentiasa mendap ke bawah. Gas oksigen yang lebih ringan akan terapung lebih tinggi, hidrogen yang lebih ringan akan lebih tinggi dan helium yang lebih ringan akan lebih-lebih tinggi dan begitulah seterusnya.
Makanya, bagi diri yang MENGENAL, GAS itu akan menjadi ringan dan bila ringan, GAS ini akan terapung lebih tinggi dan lebih jauh ke angkasaraya. Hanya GAS yang sangat-sangat ringan dan halus saja boleh naik tinggi, secara L-U-R-U-S hingga menembusi MEDAN ELEKROMAGNET bumi. Bila GAS ini sudah melepasi MEDAN ELEKROMAGNET bumi, makanya GAS ini dikatakan sudah berjaya melepasI ALAM BARZAKH.
Itu sebab dikatakan Roh orang-orang Mukminin (yang benar) dan Roh para Arifbillah (Mengenal Allah) menuju syurga dengan bergerak sepantas kilat MENYEBERANGI Siratul Mustakim (Jalan Yang L-U-R-U-S).
GAS yang sangat ringan ini bergerak melebihi ribuan kali kelajuan cahaya di angkasa. Bermula di alam Biosfera/Jasad (Langit Pertama) kemudian sepantas kilat berada di Hydrosfera ( Langit ke 2), kemudian dengan laju MENYEBERANG ke Trofosfera ( Langit Ketiga), kemudian MENYEBERANG ke Stratosfera (Langit Keempat), kemudian MENYEBERANG ke Mesosfera ( Langit Kelima) kemudian makin pantas MENYEBERANG ke Thermosfera (Langit ke Enam) kemudian MENYEBERANG lagi ke alam yang tidak berkesudahan di Exosfera ( Langit ke Tujuh).
Akhirnya di satu alam bergelar Ghaibul Ghuyub, alam kosong yang tidak dapat dijangkau dek akal manusia, di PUNCAK TERTINGGI (Sidratul Muntaha), GAS ini akan kembali menjadi KUNHI ZAT (TENAGA MURNI) yang tidak terfikirkan dek akal dan tidak terjangkau dek perasaan.
BAGAIMANA MENJADI GAS YANG RINGAN?
GAS yang paling ringan adalah Gas Murni yang tidak bercampur dengan apa-apa gas yang lain. Dalam konteks manusia, Roh yang paling ringan adalah Roh yang ASLI yang tidak bercampur sedikit pun apa-apa unsur lain.
Roh yang ringan adalah Roh yang sentiasa CINTA melakukan IHSAN dengan IKHLAS dalam setiap detik dan ketika kepada seluruh makhluk zahir dan batin.
Roh itu ada beratnya tersendiri. Satu kajian sains yang dilakukan oleh Dr. Duncan MacDougall dari Universiti Harvenhill mendapati berat badan mayat-mayat yang dikaji akan turun beberapa gram dan miligram sebaik saja nyawa keluar dari badan.
KESIMPULAN
Ringankanlah rohmu dengan sentiasa CINTA melakukan IHSAN yang IKHLAS dalam setiap detik dan ketika kepada seluruh makhluk zahir dan batin agar Ia bisa pulang ke kampung halamannya di alam Ghaibul Ghuyub dan kembali bersatu menjadi Kunhi Zat.



We all know it’s coming, sooner or hopefully later! Death is just one of those…
worldtruth.tv|Oleh Eddie Levin

Kamis, 25 Agustus 2016

(BABUL HAQ)

بسم الله الرحمن الرحيم
Adapun badan Ruhani itu ialah Allah,
dan Allah itu jangan dicari lagi,
karena Allah Ta'ala sudah menjadi segala Nyawa, jangan engkau cari lagi,
karena Allah Ta'ala itu LAISA KAMISLlHI.
Penjelasan :
Engkau itu adalah RahsiaKu,
maka rahasia itulah yang menuju kepada Aku,
sehingga engkau itu adalah pendengaranku dan penglihatanku dan kesemuanya itu terhimpun di dalam Rahasia Ku maupun di dalam atau di luar.
Sehingga engkau Fana Ul Fana dan tiada mempunyai daya upaya,
sehingga batin engkau itulah yang dikatakan Ta'ala.
Jikalau engkau hilangkan tubuh menjadi Nur sehingga tubuh engkau menjadi Ruh,
maka hilangkan tubuh engkau itu menjadi titik,
maka titik itulah yang disebut Kaca Putih,
yaitulah asal-asalnya kejadian Alif,
maka Alif itulah bergerak di dalam laut rahasia,
itulah yang disebut Hayat maka hiduplah dan bergeraklah tubuhnya,
itulah yang dinamakan sifatNya yang ada di dalam tubuh engkau itu,
itulah namanya itulah dirinya.
Maka AKUlah yang Laisa dan jangan dicari lagi. Itulah yang disebut sudah menjadi Nyawa.
Kalau engkau kosongkan maka yang berbunyi AKU itu Wujudku,
kalau engkau keluarkan maka berbunyi Rahasia.
Maka kalau engkau naikkan nafas engkau maka berbunyi,
Wujud Idafi.
Nafas itu adalah Rahasia antara turun naik,
itulah yang berkata AKU ADALAH ENGKAU dan ENGKAU ADALAH AKU.
Disitulah engkau di dalam diriNya,
naik berbunyi Wujudku dan turun berbunyi ZatKu,
disitulah engkau mengetahui atau yang berkata disebut Rahasia di dalam Rahasia,
maka hilanglah Rahasia itu,
yang ada hanyalah Wujudku.
Disitulah engkau Mi'raj,
pertemuan dalam HadiratKu dan apabila engkau turun maka wajiblah engkau mengerjakan perintahku,
sehingga engkau cinta kepadaKu dan engkau jauhilah segala yang AKU haramkan.
Engkau lihatlah Syahadat,
disitulah engkau menyempurnakan segala- galanya, berpeganglah kepadanya,
karena jikalau tidak maka engkau itu adalah sesat, maka selalulah engkau wajib mengerjakan perintahKU.
Syahadat itu adalah tubuh engkau.
Alhamdu itu AKU dengan engkau.
Ingat itu adalah RahasiaKU Kepada engkau.
Jikalau engkau tiada berpegang pada yang diajarkan Nabi kita itu maka engkau sesat lagi kafir.
Oleh sebab itu wajiblah engkau mengerjakan perintahnya dan taat kepadanya,
dan hendaklah engkau Khauf dan cinta dan jangan engkau lupa setiap saat.
Jikalau engkau lupa maka AKU lebih jauh dan kalau engkau dekat maka AKU lebih hampir dan kalau engkau hampir maka AKUlah dirimu dan diriKu adalah LAISA KAMISLIHI, disitulah engkau zauk.
Marilah kita bersama-sama memperbanyak amaliah sehingga terbukalah bagi engkau satu dinding rahasia atau hijab yang dikatakan NUR ALA NURIN.
Maka Nur itu "tajallilah kepada dirinya,
sehingga engkau ghaib maka engkau adalah di dalam WUJUD-HAQ.
Kita sebut kalimah zikir LA ILAHA ILLA ALLAH satu nafas itulah yang disebut KALAMULLAH.
Jikalau engkau naikkan nafas engkau itu AKU atau HU,
maka itulah yang dinamakan WujudKU yang Laisa, ialah yang tiada Huruf dan tiada suara. Jikalau engkau zahirkan suara engkau itu maka zahirlah sifatku, Jikalau tiada engkau zahirkan maka engkau ghaib di dalam Wujud Idafi.
Wujud itu Laisa Idafi,
itu suci murni dan bersih.
Itulah yang disebut Nur dan itulah yang dinamaKan AHMAD dan juga adalah dinamakan Nur-Zat.
Maka zat itulah yang disebut engkau,
barulah itu dikatakan Fana UL Fana atau yang disebut karam dan engkau itu sampailah sudah kepada Baqa UL Baqa.
Disitulah engkau melalui segala-galanya yang disebut NUR ALA NURIN atau ghaib dengan ghaib sampai Haq kepada Haq.
Marilah kita kembali kepada asalnya AL FATIHAH,
Aku Laisa,
di dalam Aku engkau maka disitulah engkau naikkan nafas engkau kepadanya.
Kalau engkau turunkan ke bumi atau ke dalam jasad,
jasad itulah yang berbunyi ALLAH hurufnya.
Jikalau engkau hilangkan huruf ALLAH itu menjadi HU itulah yang disebut kosong,
tiada tahu lagi akan dirinya,
hanya yang ada Wujud saja lagi.
Maka engkau tiadalah berujud lagi dan sifat bersifat lagi,
dan tiada nama bernama dan tiada buat berbuat.
Maka disitulah engkau karam di dalam Kalimah ini,
barulah engk
au itu hilang semuanya,
yang ada hanya Wujud saja lagi semata-mata,
disitulah engkau bernama NUK atau NUKTAH.
Maka NUKTAH ini ialah satu-satunya yang menjadi awal sekalian yang ada ini,
Maka selalulah engkau taat akan segala perintahnya,
ingatlah selalu akan kataNya :
Esakan Aku, esakan Aku atau sempurnakan Aku.
Jika engkau sempurnakan maka engkau itu yang bernama Insan,
jikalau engkau manusia maka DIAlah manusia Insan-Kamil.
Sebenar-benarnya diri itu Ruh,
sebenar-benarnya Ruh itu Sir.
Sebenar-benarnya Sir itu Rahasia.
Sebenar-benarnya Nur Muhammad itu Sifat,
sebenar-benarnya Sifat itu Zat.
Sebenar-benarnya Zat itu Sir.
Maka Sir itulah yang disebut Aku Laisa Kamislihi Syai'un.
Sudahkah engkau membaca Zikrullah ?
Sudahkah engkau membaca Tasbih?
Sudahkah engkau membaca Qul Huwallahu Ahad ?
Sudahkah engkau membaca Yasin ?
Sudahkah engkau membaca Suratul Fatihah?
Maka marilah menghilangkan tubuh kita sampai menjadi misra apa yang disebut di atas itu dan bagaimana jalannya itu?
Jikalau engkau sudah misrakan,
maka rindulah engkau kepadaNya,
sebab dengan rindu itulah orang baru sampai kepadaNya.
Maka jadikanlah darah engkau itu Kalimah Zikrullah.
Jadikanlah tubuh engkau itu Tasbih.
Jadikanlah tubuh engkau itu Qul Huwallahhu Ahad,
atau Hilangkan tubuh engkau itu menjadi wujud yang hakiki.
Dengan Yasin jadikanlah tubuh engkau itu Nur Muhammad.
Jadikanlah Al Fatihah itu wujud yang maha suci.
Maka dengan demikian itu adalah kita di dalam RahasiaNya.
Adapun artinya Qul Huwallahhu Ahad itu ialah :
Berkata Allah: Esakan Aku.
Maka oleh itu supaya engkau mendapat satu rahasia,
karena di dalam kalimat Qul Huwallahhu Ahad itu terkandung lima rahasia;
satu di dalam Rahima Kumullah, kedua dalam Rahim ibu,
ketiga dalam liang lahat,
keempat di Yaumil Mahsyar dan kelima di Hadratullah.
Telah berkata Allah, bahwasanya siapa hambaku yang sarnpai di maqam ini maka Aku adalah engkau, engkau adalah Aku.
Marilah kita bersama-sama membersihkan tubuh kita yang kotor ini,
sebab tubuhlah yang mengandung maka jadikanlah tubuh engkau itu seperti kaca yang terang benderang dan cahaya itulah yang disebut NurKu.
Maka Alhamdu ialah perkataan yang mula-mula,
sebab dialah yang maha suci Itulah yang dikatakan bacalah dengan namaKu yang menjadikan engkau BA ( ﺏ ).
Itulah yang menimbulkan satu rahasia atau Nur,
itulah yang memuji kepada dirinya, sebab disitulah kejadian asal dari pada Kun.
Adapun Kun itu ghaib atau Laisa, maka jadilah satu titik atau menjadi huruf BA (ﺏ ).
Maka BA itulah yang berbunyi namaKu atau yang berbunyi = ﻮﻫ ﺏ = yang dua kata itu yang berbunyi : bacalah dengan namaKu
Maka BA itulah yang disebut bathin, maka tubuh engkau itu karamkan atau hancurkan atau leburkan atau binasakan, barulah engkau bertubuh Nur saja lagi, sebab tubuh atau jasad engkau itu yang berbunyi :
(Lahawla wala quwwata illa billah)
Maka kembalilah kita kepada mula-mula asal Ruh yang tiada lupa kepadanya, sebab tiada lupa itulah darah engkau menjadi kalimah zikir dan Tasbih,
itulah cahayanya sehingga engkau adalah Aku.
Sebab itu berhati hatilah engkau jangan sampai lupa kepadaNya. Kalau engkau lupa kepadaNya,
Dia lebih jauh.
Kalau engkau hampir,
Dia lebih dekat.
Kalau engkau dekat maka Akulah pendengarnya,
Akulah penglihatnya dan
Akulah yang meliputinya, sehingga engkau misra dalam Wujud-Haqiqi.
U Pasal : U Inilah satu uraian huruf yang bernama dan berbunyi ALIF, maka Alif itu ialah yang dikatakan Esa. Alif adalah termasuk rahasia diriNya, sebab DIAlah yang ada sendirinya. Kemudian lalu Alif itu bergerak, maka gerak itulah yang berbunyi HAQ, itulah yang dikatakan atau yang berbunyi Wahdatul-Wujud, maka Laisalah diriNya itu,
atas yang dikatakan ghaib,
di dalam laut Ghaibul-Ghuyub atau Bahrul Butun.
Maka di dalam laut titik itulah yang dikatakan atau yang bernama NURULLAH ialah juga yang disebut NUR ZAT,
maka ghaiblah Nur Zat itu menjadi Roh Idafi, dan Roh idafi itu disebut AHMAD,
maka Ahmad itulah yang bernama ZATUL BUTHI.
Itulah namanya yang tiada rosak dan hancur.
Jadikanlah jasad dan tubuh engkau atau diri engkau itu semuanya karam di dalam KalimahKu.
Maka engkaupun tiada

Sabtu, 20 Agustus 2016

PENGENALAN JATI DIRI

BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM

SALAM TRISULA AKBAR

Hakekat Neng, Ning, Nung, Nang : PENGENALAN JATI DIRI

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia ? Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan. Tuan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhlukNya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahamiNya sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak samasekali.
Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.
Unsur Bumi
Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan). Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni ; daging, tulang, sungsum dan darah. Sedangkan unsur udara akan berproses menjadi kegiatan bernafas, lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad, tenaga, energi magnetis, dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.
Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa’), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.
Unsur Tuhan
Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus). Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia (Baca Posting; Mengungkap Misteri Tuhan). Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus), tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi. Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama.
Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan
Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).
Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa, sukma, roh, dan nyawa. Ini sekaligus membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan. Karena obyeknya bersifat gaib, bukan obyek material. Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda, menimbulkan konsekuensi beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif. Dengan alasan tersebut akan saya paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika, dan intuisi, agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama. Dengan asumsi tersebut diperlukan perspektif yang sederhana namun mudah dipahami. Kami akan memaparkan melalui perspektif Javanism atau kejawen, dengan cara penulisan yang sederhana dan “membumi”.
Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi dalam Laku Prihatin
Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” keduniawian. Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh (spirit). Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.
Hawa Nafsu ; Ibarat Satu Keping Mata Uang
Hawa (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan hawa (nafs) yang disebut nafsu positif –meminjam istilah Arab— sebagai an-nafs al-muthmainah.. Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsu amarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan psikis; contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji). Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.
Manusia Bebas Mencoblos Memilih
Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur duniawi). Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal (akhirat), bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia. Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah. Sumber dari ilmu dan “rumus Tuhan” (qodratullah) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita, yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati).
Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani. Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.
Laku Prihatin adalah Jihad Sejati
“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi. Dengan kata lain yakni penundukan unsur “Tuhan” terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa / rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif). Segenap upaya yang mendukung proses “penundukan” unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif. Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian. Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara tentara Muslim nafsu positif melawan tentara Amerika nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif) dalam hati kita. “Bahan peledaknya” bernama C4 dan TNT laku prihatin dan olah batin (wara’ dan amr ma’ruf nahi munkar).
Target Utama dalam “Berjihad” (Laku Prihatin)
Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma’ruf). Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh kasampurnaning gesang, (untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.
Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.
Menjadi Pribadi yang Menang
Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.
Kemenangan Pendawa Lima diraih tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah. Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.
1. Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi. Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Tuhan.
2. Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga” kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.
3. Nung; artinya kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.
4. Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya. sehingga amal perbuatan baik yang tak terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).
Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu).

SALAM TRISULA AKBAR

ALHAMDULILLAHIROBBILAALAMIIN

Dalam Diam Aku Bersaksi

BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM

SALAM TRISULA AKBAR


“Jangan bertanya, Jangan memuja nabi dan wali-wali, Jangan mengaku Tuhan, Jangan mengira tidak ada padahal ada, Sebaiknya diam, Jangan sampai digoncang oleh kebingungan…”
Kenapa kita disarankan oleh Sunan Bonang untuk diam khususnya saat membicarakan soal-soal makrifatullah sebagaimana yang tertera dalam suluk Jebeng? Sebab, daripada sesat karena bila belum mengalami sendiri keadaan makrifat, maka yang biasa terjadi adalah saling beradu argumentasi untuk nggolek benere dhewe, nggolek menange dhewe padahal kasunyatannya tidak seperti yang digambarkan masing-masing orang…

Maka, kita diminta untuk diam dan suatu saat semoga kita mampu untuk menyaksikan sendiri dan membuat kesaksian terhadap eksistensi-Nya yang maha tidak terhingga atau diistilahkan oleh Sunan Bonang sebagai SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini adalah pemberian Tuhan kepada seseorang yang diistimewakannya sehingga ia mampu menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan. Marilah kita mencebur lebih dalam hal ini….

Agama dari langit sudah sangat lengkap memadukan aspek lahiriah (syariat/aturan/hukum/fiqih yang mengikat tubuhnya) dan juga aspek perjalanan batin manusia menuju kebersatuan dengan Tuhan Semesta Alam. Memahami dari aspek lahir saja, tidak akan mampu memberikan kedalaman pengalaman batin manusia. Sebaliknya, agama yang dipahami dari sisi batin saja, biasanya cenderung mengabaikan aturan dan hukum kemasyarakatan sehingga bisa jadi dianggap sesat oleh masyarakat.

Yang ideal memang memahami agama sebagai jalan yang lapang menuju Tuhan secara sempurna dengan tidak mengabaikan salah satu aspek, apakah itu aspek lahir maupun aspek batin. Bila aspek lahir dipelajari dalam disiplin ilmu syariat/fiqih/hukum serta ilmu logika/mantiq dan lainnya. Maka aspek batiniah digeluti dengan pendekatan ilmu tasawuf. Bila kita belajar ilmu tasawuf, maka tidak bisa tidak kita akan mempelajari sejarah tasawuf dari masa ke masa, riwayat hidup para sufi dan istilah-istilah ruhaniah manusia.

Tidak mudah untuk belajar tasawuf. Berbeda dengan belajar syariat/fiqih/hukum maupun filsafat yang dasarnya adalah olah pikir atau logika, maka tasawuf dasarnya adalah olah rasa untuk menyelami sesuatu yang metafisis dan abstrak. Kita tidak mampu menggali kedalaman samudera tasawuf jika tidak menyelami sendiri dimensi-dimensi batiniah manusia.

Tasawuf bukanlah ilmu yang teoritis, melainkan praktek (ngelmu)…. Bisa dengan dzikir sejuta kali di mulut, bisa juga dengan dzikir semilyar kali di batin siang malam tanpa henti…. Ini tidak lain untuk menghancurkan kerak-kerak hati yang lalai dan kemudian digelontor dengan puji-pujian kepada-Nya dan seterusnya…. Ini hanya satu latihan ruhani yang harus dilakoni pejalan mistik saja, substansinya justru bukan dzikir atau mengingat-Nya saja. Melainkan bagaimana setelah mengingat-Nya, dan mendapatkan kesaksian akan kebenaran absolut-Nya, seseorang itu kemudian mampu berbuat sesuatu sesuai dengan iradat-Nya!!!

Dimensi batiniah manusia bisa diketahui dari bagaimana seseorang itu menempuh jalan spiritual yang melewati melalui berbagai tahapan (maqom). Dalam setiap tahapan, seseorang akan mengalami keadaan ruhani tertentu, sebelum akhirnya penglihatan batinnya terbuka terang benderang yang dalam khasanah tasawuf disebut disebut makrifat secara mendalam tanpa keraguan.

RASA BATIN yang sering disebut dalam tasawuf yang ialah: • tahap pertama WAJD (EKSTASE seperti Musa AS), selanjutnya • DZAUQ (RASA MENDALAM terhadap kehadiran-Nya), • kemudian SUKUR (KEGAIRAHAN MISTIS untuk bermesraan dengan-Nya), • berlanjut ke perasaan FANA atau menghilangnya diri yang benda lahir, • BAKA (kekekalan di dalam Dzat-Nya kemudian • FAKIR.

Apa itu FAKIR? yaitu adalah keadaan ruhani dimana pejalan spiritual menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali dimiliki-Nya. Seorang fakir tidak memiliki kemelekatan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan diri jasmani dan kebendaan. Namun demikian, dia tetap tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Inilah esensi Tauhid: Yaitu Tiada Tuhan Selain Allah…

Kita bisa memahami bagaimana hakikat kefakiran itu dari apa yang disampaikan para pejalan spiritual. Sekarang, marilah kita sedikit membuka berbagai karya para pejalan spiritual yang disebut Suluk yaitu satu jenis hasil olah rasa berbentuk prosa atau puisi yang dibuat kaum mistikus Jawa, yang berisi pengalaman perjalanan ruhani saat bercinta dengan Dzat-nya.

Karya Sunan Bonang yang penting untuk menggali bagaimana keadaan atau suasana kesadaran tertinggi kaum sufi yaitu SULUK GENTUR. Gentur berarti teguh dan giat, yaitu sebuah bentuk aktivitas ruhanian yang paling sempurna. Di suluk itu digambarkan bahwa seorang penempuh jalan tasawuf harus melaksanakan SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini berupa KESAKSIAN DALAM DIAM, TANPA BICARA. NAMUN BATINNYA MEMBERIKAN KESAKSIAN BAHWA EKSISTENSI DIRINYA ADA KARENA ADA-NYA.

Permisalan yang mudah adalah persenyawaan antara dua dzat. Salah satu dzat tidak akan otomatis hilang, namun masing-masing berdiri sendiri. sebagaimana Kawulo tetap kawulo dan Gusti tetap Gusti. Yang lenyap dalam persenyawaan dua dzat itu hanyalah kesadaran sang kawulo akan keberadaannya yang TIDAK ADA.

Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah ‘keadaan dapat MERASAKAN DALAM BATINNYA kebenaran hakiki sebagaimana dalam kitab suci: “SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA”.

Bonang dalam suluknya ini berpesan bahwa, bahwa Hati yang merupakan “RUMAH/DALEM/AKU-NYA TUHAN”. Kehadiran-Nya bisa dirasakan bila hati itu ikhlas, nrimo dan sumarah. Di dalam hati yang seperti itu, antara Kawulo dan Gusti lenyap. Yang terasa adalah kesadaran bahwa sejatinya manusia (obyek) selalu diawasi oleh Tuhan (subyek), yang menyebabkan dia tidak lalai sedetikpun kepada Nya.

Dan terakhir, ….Bonang berpesan: “Pencapaian sempurna bagaikan orang yang sedang tidur dengan seorang perempuan, kala bercinta… Mereka karam dalam asyik, terlena hanyut dalam berahi… Anakku, terimalah dan pahami dengan baik. Akan Ilmu ini.

SALAM TRISULA AKBAR

ALHAMDULILLAHHIROBBILAALAMIIN

Jumat, 19 Agustus 2016

Mengenal 20 SIFAT DIDALAM DIRI.


1 WUJUD
Badan Insan SIFATKU mula jadi menanggung didalam dunia.
.
2 KIDAM
RUH JASMANI kulitku mula jadi meliputi sekalian alam diri

3 BAQA
RUHANI dagingku mula jadi mnanggung RAHASIA didalam DIRI.
.
4 MUKHALAFATUHU LIL
HAWADITS
RUH NABATI darahku mula menjadi meliputi Alam Sendiri
.
5 QIYAMUHU BINAFSIHI
RUH INSAN nafasku mula jadi berjalan ucapan didalam DIRI
.
6 WAHDANIAT
RUH RABBANI hatiku asal mula jadi TAHU didalam DIRI
.
7 KUDRAT
RUH QUDUS urat putihku
yang tidak berdarah berjalan setiap dalam DIRI-ku
.
8 IRADAT
RUH KAHFI tulangku asal mula jadi menguatkan Alam
Sendiri
.
9 ILMU
RUH IDHAFI benihku asal mula jadi YANG NYATA didalam CERMIN HAQ
.
10 HAYAT
RUH NURANI uratku yang meliputi didalam tubuh aku yang hidup alam sendiri.
.
11 SAMA’
BESI KURSANI pende ngaranku asal semula jadi
.
12 BASAR
PANCARAN MA’NIKAM kalam aku berkata-kata dengan sendiri
.
13 KALAM
RUH MANIKAM mnzahir kan perkataan didalam dunia
.
14 QADIRUN
WUJUD MANIKAM tali Ruhku KUNHI DZAT dengan Sifatku
.
15 MURIDUN
ILMU ALLAH badanku asal mula jadi KALIMAH didalam diriku
.
16 'ALIMUN
DARJAT ALLAH kebesaran ku asal mula jadi duduk didalam otak yang putih
.
17 HAYYUN
Amalan terlebih suci ialah amalan Kalimah Aku asal mula jadi alam diriku
.
18 SAMI'UN
Bersama ZAT & SIFAT
WAHDAH didalam Kalimah iman diriku
19 BASIRUN
.
RAHSIA NYAWA dengan
BADANWAHIDAH bersamalah dzat dengan badan tidak bercerai dunia akhirat
.
20 MUTAKALLIMUN
Ghaib didalam Ka’bah Ghaib aku didalam Ka’bah Kaca Arasy yang putih titik didalam Kalimah.
.
AWALUDDIN MAKRIFATULLAH
Permulaan agama mestilah MENGENAL ALLAH.
.
Firman allah :-
Ya Muhammad kenalilah
DIRI mu sebelum kamu
Mengenali Aku dan sebenar benar kenal Diri kamu ialah Engakau Kenal Aku
.
Wassalam.

Sabtu, 13 Agustus 2016

ILMU TASAWUF, ILMU HAKIKAT ATAU ILMU BATIN


Sebenarnya ilmu rohaniah itu adalah ilmu tasawuf atau dikatakan juga sebagai ilmu hakikat atau ilmu batin. Mengapa ilmu ini dikatakan ilmu rohani? Ini kerana perbahasannya adalah mengenai roh. Mengapa pula ia juga dikatakan ilmu tasawuf? Jika kita lihat perbincangan para ulama termasuk ulama moden, perkataan tasawuf itu diambil daripada bermacam-macam perkataan. Tetapi di sini saya hanya memilih salah satu daripadanya iaitu dari perkataan sofa’ bermakna bersih atau murni.
Tegasnya, ilmu tasawuf itu adalah ilmu bagaimana hendak membersihkan atau memurnikan roh (hati) atau nafsu. Agar dari dorongan hati yang bersih itu dapat membersihkan pula anggota lahir daripada melakukan kemungkaran dan kesalahan. Oleh itu, ilmu tasawuf itu adalah ilmu mengenai cara-cara membersihkan lahir dan batin daripada dosa dan kesalahan. Bahkan kesalahan lahir ini berpunca dari kesalahan batin. Dosa lahir ini berlaku setelah berlakunya dosa batin. Maka sebab itulah ia dikatakan ilmu tasawuf.
Kenapa pula ilmu ini juga dikatakan ilmu batin? Ini kerana roh atau hati memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. Maka ilmu ini dinamakan ilmu batin kerana ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Mengikut pandangan umum masyarakat sekarang, bila disebut ilmu batin, mereka menganggap itu adalah ilmu pengasih atau ilmu kebal. Orang yang belajar ilmu batin bermakna dia belajar ilmu kebal atau belajar ilmu pengasih. Sebenarnya orang itu belajar ilmu kebudayaan Melayu, yang mana ilmu itu ada dicampur dengan ayat-ayat Al Quran. Kebal juga adalah satu juzuk daripada kebudayaan orang Melayu yang sudah disandarkan dengan Islam. Kalau kita hendak mempelajarinya tidak salah jika tidak ada unsur-unsur syirik. Tetapi itu bukan ilmu tasawuf atau ilmu kerohanian seperti apa yang kita bahaskan di sini.
Adakalanya ilmu tasawuf dipanggil juga ilmu hakikat. Ini kerana hakikat manusia itu yang sebenarnya adalah rohnya. Yang menjadikan manusia itu hidup dan berfungsi adalah rohnya. Yang menjadikan mereka mukalaf disebabkan adanya roh. Yang merasa senang dan susah adalah rohnya. Yang akan ditanya di Akhirat adalah rohnya. Hati atau roh itu tidak mati sewaktu jasad manusia mati. Cuma ia berpindah ke alam Barzakh dan terus ke Akhirat.
Jadi hakikat manusia itu adalah roh. Roh itulah yang kekal. Sebab itu ia dikatakan ilmu hakikat.
Oleh yang demikian apabila kita mempelajari sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga kita berjaya membersihkan hati, waktu itu yang hanya kita miliki adalah sifat-sifat mahmudah iaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat mazmumah iaitu sifat-sifat terkeji sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT di dunia dan Akhirat. Kebersihan hati inilah yang akan menjadi pandangan Allah.
Maksudnya, bila hati bersih, sembahyangnya diterima oleh Allah SWT. Bila hati bersih, puasanya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, perjuangannya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, wirid dan zikirnya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, pengorbanannya diterima oleh Allah. Tetapi bila hati tidak bersih, seluruh amalan lahirnya tidak akan diterima.
Itulah yang dimaksudkan di dalam ajaran Islam bahawa walaupun kedua-dua amalan lahir dan amalan batin diperintahkan melaksanakannya tetapi penilaiannya adalah amalan roh atau hatinya. Ini sesuai dengan Hadis yang bermaksud: “Cukup sembahyang sunat dua rakaat daripada hati yang bertaqwa.” Maknanya dua rakaat sembahyang seorang yang bertaqwa itu lebih baik daripada seorang yang banyak sembahyang tetapi hati masih kotor. Selain sembahyang itu diterima, dua rakaat sembahyang dari hati yang bertaqwa itu akan memberi kesan kepada kehidupan seseorang itu. Sembahyangnya itu boleh mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran dan kemaksiatan, lahir dan batin.
Berdasarkan Hadis di atas, kita cukup bimbang kerana selama ini kita telah mengerjakan sembahyang, sudah lama berjuang, sedikit sebanyak sudah berkorban, sudah habiskan masa untuk berdakwah, sembahyang berjemaah, ikut jemaah Islamiah, yang mana ini semua adalah amalan lahir, rupa-rupanya Allah tidak terima semua amalan itu disebabkan hati kita masih kotor. Roh kita masih tidak bersih. Oleh itu dalam kita menunaikan kewajipan yang lahir ini, jangan lupa kita memikirkan roh kita. Kerana roh yang kotor itulah yang akan mencacatkan amalan lahir, mencacatkan sembahyang, mencacatkan segala ibadah dan mencacatkan pahala seluruh kebaikan kita.
Orang yang banyak amal ibadah, di langit yang pertama sudah tercampak amalannya. Kalaupun boleh naik, di langit yang kedua pula tersekat. Begitulah seterusnya di pintu-pintu langit yang lain hingga sampai ke pintu langit yang ketujuh, tersangkut lagi. Itu bagi orang yang beramal, masih tertolak amalannya. Bagaimana agaknya kalau orang yang tidak beramal langsung?
Mengapa amalan lahir itu tersangkut? Tersangkutnya amalan itu kerana ia ada hubungan dengan penyakit batin atau roh (hati) kita yang masih kotor. Orang yang mengumpat umpamanya, kerana hatinya sakit. Walaupun mengumpat itu nampaknya amalan lahir, mulutnya yang bercakap tetapi ia datang dari hati yang kotor. Sebenarnya hati itulah yang mengumpat.
Hasad dengki, riyak, kibir, sombong dan sebagainya, itu semua amalan hati. Rupa-rupanya yang menghijab amalan lahir ini adalah mazmumah hati. Amalan hati (roh) ini hendaklah dijaga kerana mazmumah hati inilah yang membatalkan pahala amalan-amalan lahir.
Ditegaskan sekali lagi, ilmu rohani adalah ilmu yang mengesan tabiat roh atau hati sama ada yang mazmumah atau mahmudahnya. Bukan untuk mengetahui hakikat zat roh itu sendiri. Hakikat roh itu sendiri tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala atau tidak akan dapat dibahaskan. Tetapi apa yang hendak dibahaskan adalah sifat-sifatnya sahaja supaya kita dapat mengenal sifat-sifat roh atau hati kita yang semula jadi itu. Mana-mana yang mahmudahnya (positif) hendak dipersuburkan dan dipertajamkan. Kita pertahankannya kerana itu adalah diperintah oleh syariat, diperintah oleh Allah dan Rasul dan digemari oleh manusia. Mana-mana yang mazmumahnya (negatif) hendaklah ditumpaskan kerana sifat-sifat negatif itu dimurkai oleh Allah dan Rasul serta juga dibenci oleh manusia.
Oleh yang demikian, sesiapa yang memiliki ilmu tentang roh ini, mudahlah dia mengesan sifat-sifat semula jadi yang ada pada roh itu. Mahmudahnya dapat disuburkan dan yang mazmumahnya dapat ditumpaskan. Maka jadilah roh atau hati seseorang itu bersih dan murni.
Sedangkan hati adalah raja dalam kerajaan diri. Bila raja dalam kerajaan diri ini sudah bersih, baik, adil, takut kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul, maka sudah tentu dia akan mendorong rakyat dalam dirinya iaitu anggota (jawarih) ini untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Mudah untuk membangunkan syariat dan Sunnah Rasulullah SAW serta mudah berbuat bermacam-macam bentuk kebaikan lagi.
Maka kebaikan anggota lahir inilah yang merupakan buah daripada kebersihan jiwa itu sendiri. Jadi kebersihan jiwa itulah pokok yang melahirkan kebaikan kepada tangan, mulut, mata, telinga, kaki dan seluruh tindakan lahir kita ini. Maka bila roh sudah baik, akan jadi baiklah seluruh lahir dan batin manusia. Bila baik lahir batin manusia, dia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Bila dia telah menjadi orang yang bertaqwa, maka dia dapat pembelaan dari Allah sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Selagi belum menjadi manusia yang bertaqwa, tidak ada jaminan dari Allah akan dibela sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Kalau sekadar menjadi orang Islam, tidak ada jaminan dari Allah untuk dibela.
Dalam Al Quran, Allah tidak mengatakan akan membela orang Islam. Tidak ada satu ayat pun yang Allah berjanji hendak membantu orang Islam. Tetapi yang ada dalam ayat Al Quran mahupun dalam Hadis, Allah hanya membantu orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jadi bila jiwa sudah bersih, maka akan bersih lahir dan batin, maknanya orang itu sudah memiliki sifatsifat taqwa. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Al Quran: “Hendaklah kamu berbekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)
Bila seseorang itu sudah dapat berbekal dengan sifat-sifat taqwa, maka dia akan dapat pembelaan dari Allah SWT. Pembelaan di dunia mahupun di Akhirat. Sebenarnya, di sinilah rahsia kejayaan dan kemenangan umat Islam. Juga rahsia kehebatan umat Islam hingga berjaya menumpaskan musuh-musuhnya sama ada musuh lahir mahupun musuh batin.