Laman

Kamis, 22 September 2016

La Maujuda Ilallah

Barangsiapa mengenal Al-Haq niscaya dia melihatNya dalam tiap-tiap sesuatu...
Barangsiapa yang Fana terhadapNya maka lenyaplah dari tiap sesuatu selain Allah...
Barangsiapa yang mencintai Allah niscaya tidak ada sesuatu apa pun yang mempengaruhinya...

Ma'rifatul haq ialah melihat ketuhanan Allah dengan hati, dengan Rasa dan penghayatan lahir dan batin. Maka lenyapnya selain Allah dengan sebab penglihatan qalbu ini dan perasaan yang penuh dengan penghayatan, yang demikian mendalam terhadap keesaan Allah SWT.
Siapa yang benar-benar mengenal Allah dengan imannya, penglihatan hatinya dan perasaannya lahir batin, Insya Allah dia akan melihat Allah pada setiap sesuatu yang dia lihat, baik itu melihat Allah dalam arti Dzatnya yang tidak serupa dengan sesuatu atau dia melihat Allah dalam arti melihat kekuasaanNya, melihat cipataanNya, melihat keagunganNya sifat-sifatNya yang Maha Hebat dan Maha Sempurna (bukan dengan mata kasar).
Dan status yang lain ialah Al Fana yang berarti nampaknya kebesaran Allah sehingga menjelmalah hal keadaan ini atas segala-galanya, maka lupalah seseorang itu pada segala-galanya dan hilanglah semua itu darinya selain hanya kepada Allah. Dialah yang nampak, yang terlihat dimana-mana, sebab dia adalah Maha Esa pada Dzat-Nya dan Maha Esa pula pada sifat-sifatnya, Al Fana ialah semata-mata tanpa mahluk besertaNya.

Berbeda dengan Al Baqa yakni kelihatan mahluk sebab melihat Allah. Status ini lebih tinggi dari Al Fana, pada saat Al Fana lah keluarnya kata-kata syatahat : Ana al Haq....La maujud illalah.

Jadi barangsiapa fana kepada Allah maka Allah menarik (majzub) orang tsb. kepadaNya. Hilanglah perasaannya karena rindu dan asyik masyuk dengan Allah sehingga dia tidak melihat lagi alam mahluk ini.

Keadaan fana bergantung kepada maqam yang diperkenalkan Allah.
Fana fi Af'al, bila Allah membukakan kepada Tauhidul Af'al, maknanya pada peringkat ini ia tidak melihat lagi perbuatan selain perbuatan Allah. La Af'al Illalah.

Fana fi Asma, bila Allah membukakan/mentajalikan Asmanya, Saat itu semua nama sudah kembali kepada yang haq tidak ada yang lain lagi melainkan Dia. Inilah yang menjadi Ana Al Haq seperti apa yang terjadi pada Al Hallaj.

Fana fi Sifat, bila Allah mentajalikan sifatNya yang Maha Sempurna.
Bila keadaan berlaku, segala sifat-sifat sudah dikembalikan pada yang empunya.
terasalah pendengaran itu pendengaran Allah, dan segala-galanya milik Allah.

Fana fi Dzat yatiu fana pada menyatakan Keesaan Allah pada DzatNya. Maqom ini adalah yang tertinggi pada peringkat jenis Fana. Pada tingkatan ini akan dapat dirasakan suatu kenikmatan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata dan suara oleh huruf dan angka karena asyik dengan "Yang tidak menyerupai sesuatupun".

Maka pada tahap inilah Abu Yazid Al Bustami berkata "Subha inni", Mahasuci Aku.
Inilah sebenarnya pengakuan paling tawadhu bagi yang mengerti dan bagi yang tidak mengerti maka akan dianggap sebagai pengakuan arogan.

Semua ini berkaitan dengan Dzauq yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri, maka dengan ini jualah yang dikatakan Wahdatul Wujud. Wahdatul Wujud didalam Wahdatul Syuhud. Malah ada juga yang membeda-bedakannya. Semuanya bergantung kepada faham dan rasa masing-masing.

Wahdatul Wujud adalah berbeda dengan politeisme. Bahkan apa yang hendak di uraikan oleh Ibnu Arabi pun sangatlah halus dan masih jauh dari hakikat sebenarnya, namun beliau mencoba memanifestasikan dengan kata-kata qiyas dan ibarat demi untuk menjelaskan yang tersirat.

Selain dari ke empat jenis FANA diatas masih ada lagi yaitu BAQA. Maqam Baqa ini adalah maqam yang sempurna. Ibarat bisa melihat dua alam yaitu Lahir dan Bathin.
Melihat yang lahir tapi tidak terhijab dari melihat yang hakikat.

Seperti halnya Fana, Baqa pun mempunyai empat tahap yaitu Af'al, Asma, Sifat dan Dzat. Bila sudah sempurna semua maka saat itulah akan terasa La Maujud Illalah. Dan syahadat pada peringkat inilah syahadat paing tinggi dan utama, karena sudah dinafi dengan La. Termasuk diri sendiri sudah tak ada maka jadilah "Dia menyaksi diri sendiri". Di peringkat inilah yang dikatakan "Aku Menyembah Aku".

Tapi perlu diingat ini semua adalah Dzauqiah atau Rasa yang dicampakan kedalam qalbu oleh Allah SWT bukan pengakuan yang sengaja dibuat di dalam kesadaran biasa, maka bila terdengar oleh yang kurang faham jadilah fitnah. Hamba tetap hamba, khalik tetap khalik. Tapi bila sudah mabuk tak dapatlah membedakan mana gelas mana arak..itulah gila birahi mabuk hakiki.

Barang siapa mengenal akan Tuhannya maka binasalah dirinya. Inilah yang dimaksudkan Hanya Allah yang wajibal wujud...yang lain binasa...

Latihan kearah memfanakan diri inilah yang mesti diamalkan sehingga sampai ke tujuan Hanya Allah, Karena Allah, Demi Allah....

La Maujudan memberi maksud ujud pada tahap hakikat, inilah tahap yang hendak dicapai atau dihayati sewaktu menyebutnya. Secara umum menafikan keujudan semua ini (termasuk kita). Jadi yang ada hanyalah Allah semata-mata yaitu Af'al, Asma, Sifat dan Dzat. Maka inilah yang kita kenal sebagai Tauhid.

Diperingkat inilah ahli hakikat dan ma'rifat mengalami atau merasakan apa yang dikatakan binasa atau fana itu dan karam didalam kebesaran Allah SWT.

Sabtu, 27 Agustus 2016

*CERITA ALAM BARZAKH*

Barzakh bermaksud TABIR. Tabir bermaksud tapisan yang menghalang atau yang memisahkan sesuatu.
Makanya, Alam Barzakh bermaksud, alam yang dipisahkan oleh satu tabir.
Dalam konteks agama, alam Barzakh merujuk kepada alam kubur (kiamat kecil) yang menjadi alam 'perbicaraan awal' yang MENAPIS semua amalan manusia sementara menunggu datangnya kiamat besar.

Kebanyakan sistem agama dan kepercayaan yang wujud sebelum Islam, ada menceritakan kisah Alam Barzakh. Fahaman orang Mesir purba yang terkenal dengan kisah Pharaoh (Firaun/Raja) juga ada menceritakan perihal AMENTI (alam Barzakh) dan OMEGA POINT (Syurga/kebebasan sepenuhnya).
Dalam konteks sains, Alam Barzakh merujuk kepada LAPISAN ELEKROMAGNET yang menutupi bumi. Lapisan elektromagnet ini merupakan satu gelombang tenaga yang jika dilihat dari angkasa, ia kelihatan seperti satu lapisan kabus putih yang menutupi keseluruhan planet bumi.
PERUMPAMAAN
Roh manusia itu IBARAT 'Gas' yang bertebaran di seluruh alam.
Bila seseorang manusia 'mati', GAS itu akan terpisah dari jasad dan kembali bertebaran di bumi. Bagi diri yang MENGENAL (berilmu) GAS itu akan menjadi RINGAN. Makin banyak ilmu yang difahami, dikenali dan dimanfaatkan, maka makin ringan GAS seseorang itu.
Contoh :
Gas karbon dioksida bersifat lebih berat dari gas lain, makanya ia akan sentiasa mendap ke bawah. Gas oksigen yang lebih ringan akan terapung lebih tinggi, hidrogen yang lebih ringan akan lebih tinggi dan helium yang lebih ringan akan lebih-lebih tinggi dan begitulah seterusnya.
Makanya, bagi diri yang MENGENAL, GAS itu akan menjadi ringan dan bila ringan, GAS ini akan terapung lebih tinggi dan lebih jauh ke angkasaraya. Hanya GAS yang sangat-sangat ringan dan halus saja boleh naik tinggi, secara L-U-R-U-S hingga menembusi MEDAN ELEKROMAGNET bumi. Bila GAS ini sudah melepasi MEDAN ELEKROMAGNET bumi, makanya GAS ini dikatakan sudah berjaya melepasI ALAM BARZAKH.
Itu sebab dikatakan Roh orang-orang Mukminin (yang benar) dan Roh para Arifbillah (Mengenal Allah) menuju syurga dengan bergerak sepantas kilat MENYEBERANGI Siratul Mustakim (Jalan Yang L-U-R-U-S).
GAS yang sangat ringan ini bergerak melebihi ribuan kali kelajuan cahaya di angkasa. Bermula di alam Biosfera/Jasad (Langit Pertama) kemudian sepantas kilat berada di Hydrosfera ( Langit ke 2), kemudian dengan laju MENYEBERANG ke Trofosfera ( Langit Ketiga), kemudian MENYEBERANG ke Stratosfera (Langit Keempat), kemudian MENYEBERANG ke Mesosfera ( Langit Kelima) kemudian makin pantas MENYEBERANG ke Thermosfera (Langit ke Enam) kemudian MENYEBERANG lagi ke alam yang tidak berkesudahan di Exosfera ( Langit ke Tujuh).
Akhirnya di satu alam bergelar Ghaibul Ghuyub, alam kosong yang tidak dapat dijangkau dek akal manusia, di PUNCAK TERTINGGI (Sidratul Muntaha), GAS ini akan kembali menjadi KUNHI ZAT (TENAGA MURNI) yang tidak terfikirkan dek akal dan tidak terjangkau dek perasaan.
BAGAIMANA MENJADI GAS YANG RINGAN?
GAS yang paling ringan adalah Gas Murni yang tidak bercampur dengan apa-apa gas yang lain. Dalam konteks manusia, Roh yang paling ringan adalah Roh yang ASLI yang tidak bercampur sedikit pun apa-apa unsur lain.
Roh yang ringan adalah Roh yang sentiasa CINTA melakukan IHSAN dengan IKHLAS dalam setiap detik dan ketika kepada seluruh makhluk zahir dan batin.
Roh itu ada beratnya tersendiri. Satu kajian sains yang dilakukan oleh Dr. Duncan MacDougall dari Universiti Harvenhill mendapati berat badan mayat-mayat yang dikaji akan turun beberapa gram dan miligram sebaik saja nyawa keluar dari badan.
KESIMPULAN
Ringankanlah rohmu dengan sentiasa CINTA melakukan IHSAN yang IKHLAS dalam setiap detik dan ketika kepada seluruh makhluk zahir dan batin agar Ia bisa pulang ke kampung halamannya di alam Ghaibul Ghuyub dan kembali bersatu menjadi Kunhi Zat.



We all know it’s coming, sooner or hopefully later! Death is just one of those…
worldtruth.tv|Oleh Eddie Levin

Jumat, 19 Agustus 2016

Mengenal 20 SIFAT DIDALAM DIRI.


1 WUJUD
Badan Insan SIFATKU mula jadi menanggung didalam dunia.
.
2 KIDAM
RUH JASMANI kulitku mula jadi meliputi sekalian alam diri

3 BAQA
RUHANI dagingku mula jadi mnanggung RAHASIA didalam DIRI.
.
4 MUKHALAFATUHU LIL
HAWADITS
RUH NABATI darahku mula menjadi meliputi Alam Sendiri
.
5 QIYAMUHU BINAFSIHI
RUH INSAN nafasku mula jadi berjalan ucapan didalam DIRI
.
6 WAHDANIAT
RUH RABBANI hatiku asal mula jadi TAHU didalam DIRI
.
7 KUDRAT
RUH QUDUS urat putihku
yang tidak berdarah berjalan setiap dalam DIRI-ku
.
8 IRADAT
RUH KAHFI tulangku asal mula jadi menguatkan Alam
Sendiri
.
9 ILMU
RUH IDHAFI benihku asal mula jadi YANG NYATA didalam CERMIN HAQ
.
10 HAYAT
RUH NURANI uratku yang meliputi didalam tubuh aku yang hidup alam sendiri.
.
11 SAMA’
BESI KURSANI pende ngaranku asal semula jadi
.
12 BASAR
PANCARAN MA’NIKAM kalam aku berkata-kata dengan sendiri
.
13 KALAM
RUH MANIKAM mnzahir kan perkataan didalam dunia
.
14 QADIRUN
WUJUD MANIKAM tali Ruhku KUNHI DZAT dengan Sifatku
.
15 MURIDUN
ILMU ALLAH badanku asal mula jadi KALIMAH didalam diriku
.
16 'ALIMUN
DARJAT ALLAH kebesaran ku asal mula jadi duduk didalam otak yang putih
.
17 HAYYUN
Amalan terlebih suci ialah amalan Kalimah Aku asal mula jadi alam diriku
.
18 SAMI'UN
Bersama ZAT & SIFAT
WAHDAH didalam Kalimah iman diriku
19 BASIRUN
.
RAHSIA NYAWA dengan
BADANWAHIDAH bersamalah dzat dengan badan tidak bercerai dunia akhirat
.
20 MUTAKALLIMUN
Ghaib didalam Ka’bah Ghaib aku didalam Ka’bah Kaca Arasy yang putih titik didalam Kalimah.
.
AWALUDDIN MAKRIFATULLAH
Permulaan agama mestilah MENGENAL ALLAH.
.
Firman allah :-
Ya Muhammad kenalilah
DIRI mu sebelum kamu
Mengenali Aku dan sebenar benar kenal Diri kamu ialah Engakau Kenal Aku
.
Wassalam.

Sabtu, 13 Agustus 2016

ILMU TASAWUF, ILMU HAKIKAT ATAU ILMU BATIN


Sebenarnya ilmu rohaniah itu adalah ilmu tasawuf atau dikatakan juga sebagai ilmu hakikat atau ilmu batin. Mengapa ilmu ini dikatakan ilmu rohani? Ini kerana perbahasannya adalah mengenai roh. Mengapa pula ia juga dikatakan ilmu tasawuf? Jika kita lihat perbincangan para ulama termasuk ulama moden, perkataan tasawuf itu diambil daripada bermacam-macam perkataan. Tetapi di sini saya hanya memilih salah satu daripadanya iaitu dari perkataan sofa’ bermakna bersih atau murni.
Tegasnya, ilmu tasawuf itu adalah ilmu bagaimana hendak membersihkan atau memurnikan roh (hati) atau nafsu. Agar dari dorongan hati yang bersih itu dapat membersihkan pula anggota lahir daripada melakukan kemungkaran dan kesalahan. Oleh itu, ilmu tasawuf itu adalah ilmu mengenai cara-cara membersihkan lahir dan batin daripada dosa dan kesalahan. Bahkan kesalahan lahir ini berpunca dari kesalahan batin. Dosa lahir ini berlaku setelah berlakunya dosa batin. Maka sebab itulah ia dikatakan ilmu tasawuf.
Kenapa pula ilmu ini juga dikatakan ilmu batin? Ini kerana roh atau hati memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. Maka ilmu ini dinamakan ilmu batin kerana ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Mengikut pandangan umum masyarakat sekarang, bila disebut ilmu batin, mereka menganggap itu adalah ilmu pengasih atau ilmu kebal. Orang yang belajar ilmu batin bermakna dia belajar ilmu kebal atau belajar ilmu pengasih. Sebenarnya orang itu belajar ilmu kebudayaan Melayu, yang mana ilmu itu ada dicampur dengan ayat-ayat Al Quran. Kebal juga adalah satu juzuk daripada kebudayaan orang Melayu yang sudah disandarkan dengan Islam. Kalau kita hendak mempelajarinya tidak salah jika tidak ada unsur-unsur syirik. Tetapi itu bukan ilmu tasawuf atau ilmu kerohanian seperti apa yang kita bahaskan di sini.
Adakalanya ilmu tasawuf dipanggil juga ilmu hakikat. Ini kerana hakikat manusia itu yang sebenarnya adalah rohnya. Yang menjadikan manusia itu hidup dan berfungsi adalah rohnya. Yang menjadikan mereka mukalaf disebabkan adanya roh. Yang merasa senang dan susah adalah rohnya. Yang akan ditanya di Akhirat adalah rohnya. Hati atau roh itu tidak mati sewaktu jasad manusia mati. Cuma ia berpindah ke alam Barzakh dan terus ke Akhirat.
Jadi hakikat manusia itu adalah roh. Roh itulah yang kekal. Sebab itu ia dikatakan ilmu hakikat.
Oleh yang demikian apabila kita mempelajari sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga kita berjaya membersihkan hati, waktu itu yang hanya kita miliki adalah sifat-sifat mahmudah iaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat mazmumah iaitu sifat-sifat terkeji sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT di dunia dan Akhirat. Kebersihan hati inilah yang akan menjadi pandangan Allah.
Maksudnya, bila hati bersih, sembahyangnya diterima oleh Allah SWT. Bila hati bersih, puasanya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, perjuangannya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, wirid dan zikirnya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, pengorbanannya diterima oleh Allah. Tetapi bila hati tidak bersih, seluruh amalan lahirnya tidak akan diterima.
Itulah yang dimaksudkan di dalam ajaran Islam bahawa walaupun kedua-dua amalan lahir dan amalan batin diperintahkan melaksanakannya tetapi penilaiannya adalah amalan roh atau hatinya. Ini sesuai dengan Hadis yang bermaksud: “Cukup sembahyang sunat dua rakaat daripada hati yang bertaqwa.” Maknanya dua rakaat sembahyang seorang yang bertaqwa itu lebih baik daripada seorang yang banyak sembahyang tetapi hati masih kotor. Selain sembahyang itu diterima, dua rakaat sembahyang dari hati yang bertaqwa itu akan memberi kesan kepada kehidupan seseorang itu. Sembahyangnya itu boleh mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran dan kemaksiatan, lahir dan batin.
Berdasarkan Hadis di atas, kita cukup bimbang kerana selama ini kita telah mengerjakan sembahyang, sudah lama berjuang, sedikit sebanyak sudah berkorban, sudah habiskan masa untuk berdakwah, sembahyang berjemaah, ikut jemaah Islamiah, yang mana ini semua adalah amalan lahir, rupa-rupanya Allah tidak terima semua amalan itu disebabkan hati kita masih kotor. Roh kita masih tidak bersih. Oleh itu dalam kita menunaikan kewajipan yang lahir ini, jangan lupa kita memikirkan roh kita. Kerana roh yang kotor itulah yang akan mencacatkan amalan lahir, mencacatkan sembahyang, mencacatkan segala ibadah dan mencacatkan pahala seluruh kebaikan kita.
Orang yang banyak amal ibadah, di langit yang pertama sudah tercampak amalannya. Kalaupun boleh naik, di langit yang kedua pula tersekat. Begitulah seterusnya di pintu-pintu langit yang lain hingga sampai ke pintu langit yang ketujuh, tersangkut lagi. Itu bagi orang yang beramal, masih tertolak amalannya. Bagaimana agaknya kalau orang yang tidak beramal langsung?
Mengapa amalan lahir itu tersangkut? Tersangkutnya amalan itu kerana ia ada hubungan dengan penyakit batin atau roh (hati) kita yang masih kotor. Orang yang mengumpat umpamanya, kerana hatinya sakit. Walaupun mengumpat itu nampaknya amalan lahir, mulutnya yang bercakap tetapi ia datang dari hati yang kotor. Sebenarnya hati itulah yang mengumpat.
Hasad dengki, riyak, kibir, sombong dan sebagainya, itu semua amalan hati. Rupa-rupanya yang menghijab amalan lahir ini adalah mazmumah hati. Amalan hati (roh) ini hendaklah dijaga kerana mazmumah hati inilah yang membatalkan pahala amalan-amalan lahir.
Ditegaskan sekali lagi, ilmu rohani adalah ilmu yang mengesan tabiat roh atau hati sama ada yang mazmumah atau mahmudahnya. Bukan untuk mengetahui hakikat zat roh itu sendiri. Hakikat roh itu sendiri tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala atau tidak akan dapat dibahaskan. Tetapi apa yang hendak dibahaskan adalah sifat-sifatnya sahaja supaya kita dapat mengenal sifat-sifat roh atau hati kita yang semula jadi itu. Mana-mana yang mahmudahnya (positif) hendak dipersuburkan dan dipertajamkan. Kita pertahankannya kerana itu adalah diperintah oleh syariat, diperintah oleh Allah dan Rasul dan digemari oleh manusia. Mana-mana yang mazmumahnya (negatif) hendaklah ditumpaskan kerana sifat-sifat negatif itu dimurkai oleh Allah dan Rasul serta juga dibenci oleh manusia.
Oleh yang demikian, sesiapa yang memiliki ilmu tentang roh ini, mudahlah dia mengesan sifat-sifat semula jadi yang ada pada roh itu. Mahmudahnya dapat disuburkan dan yang mazmumahnya dapat ditumpaskan. Maka jadilah roh atau hati seseorang itu bersih dan murni.
Sedangkan hati adalah raja dalam kerajaan diri. Bila raja dalam kerajaan diri ini sudah bersih, baik, adil, takut kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul, maka sudah tentu dia akan mendorong rakyat dalam dirinya iaitu anggota (jawarih) ini untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Mudah untuk membangunkan syariat dan Sunnah Rasulullah SAW serta mudah berbuat bermacam-macam bentuk kebaikan lagi.
Maka kebaikan anggota lahir inilah yang merupakan buah daripada kebersihan jiwa itu sendiri. Jadi kebersihan jiwa itulah pokok yang melahirkan kebaikan kepada tangan, mulut, mata, telinga, kaki dan seluruh tindakan lahir kita ini. Maka bila roh sudah baik, akan jadi baiklah seluruh lahir dan batin manusia. Bila baik lahir batin manusia, dia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Bila dia telah menjadi orang yang bertaqwa, maka dia dapat pembelaan dari Allah sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Selagi belum menjadi manusia yang bertaqwa, tidak ada jaminan dari Allah akan dibela sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Kalau sekadar menjadi orang Islam, tidak ada jaminan dari Allah untuk dibela.
Dalam Al Quran, Allah tidak mengatakan akan membela orang Islam. Tidak ada satu ayat pun yang Allah berjanji hendak membantu orang Islam. Tetapi yang ada dalam ayat Al Quran mahupun dalam Hadis, Allah hanya membantu orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jadi bila jiwa sudah bersih, maka akan bersih lahir dan batin, maknanya orang itu sudah memiliki sifatsifat taqwa. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Al Quran: “Hendaklah kamu berbekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)
Bila seseorang itu sudah dapat berbekal dengan sifat-sifat taqwa, maka dia akan dapat pembelaan dari Allah SWT. Pembelaan di dunia mahupun di Akhirat. Sebenarnya, di sinilah rahsia kejayaan dan kemenangan umat Islam. Juga rahsia kehebatan umat Islam hingga berjaya menumpaskan musuh-musuhnya sama ada musuh lahir mahupun musuh batin.


MEMBONGKAR RAHSIA KEHEBATAN ROH


Islam punya kekuatan luarbiasa yg lebih hebat dan tersendiri. Tetapi bila diketengahkan, masyarakat seolah-olah bersikap double standard dalam menerimanya dan mengatakan ini sihir.
1.Tinggi rendahnya manusia di sisi Tuhan adalah dinilai pada kemuliaan dan kesucian rohnya, bukan pada jasad lahirnya. Manusia atau makhluk yang paling hebat dan paling mulia di sisi Tuhan adalah Rasulullah saw.Kehebatan Rasulullah SAW terletak pada kehebatan rohnya.
Makhluk pertama yang Tuhan ciptakan adalah roh Nabi Muhammad saw yang disebut Nur Muhammad. Kerana kemuliaan Nur Muhammad inilah Tuhan ciptakan manusia, langit, bumi dan lain-lain. Begitulah hebatnya roh Rasulullah SAW.Nisbah jasad manusia, Tuhan menciptakan Nabi Adam dahulu. Nisbah roh, Rasulullah diciptakan dahulu.
Sebab itu ketika Nabi Adam diperkenalkan oleh Tuhan tentang ciptaanNya dan ZatNya melalui 99 nama Allah, pengenalan itu tidak sempurna selagi tidak diperkenalkan kepada Nur Muhammad. Tatkala Nabi Adam melihat kalimat Nur Muhammad, dia bertanya kepada Allah, siapakah Muhammad? Maka Tuhan menjawab, itulah penghulu segala Rasul. Walaupun Nabi Adam diciptakan terlebih dahulu, dia tetap akur dengan kehebatan dan kemuliaan roh Rasulullah, malah berselawat dan bertawassul kepadanya.
2. Mengenai roh, Tuhan berfirman yang bermaksud:
"Sesungguhnya roh itu adalah urusanKu"
"Katakanlah, roh itu adalah urusan Tuhanku."
Mengapa Allah berfirman roh itu urusanNya? Padahal semua makhluk ciptaanNya juga mutlak semua urusanNya, semua berada di dalam pemerintahan dan kekuasaanNya. Kesemua ciptaanNya, Dia yang memelihara dan Dia boleh menghancurkannya tanpa campurtangan dari mana-mana pihak. Tetapi tentang roh, Tuhan kata "Ia urusanKu".
Ini menunjukkn daripada keseluruhan ciptaan Tuhan, roh adalah yang paling penting dan istimewa.
3. Mengapa roh istimewa? Sejarah penciptaan roh diceritakan dalam Al Quran. Sewaktu di alam roh, Tuhan telah mengumpulkan kesemua roh manusia dan bertanya,"Bukankah aku Tuhan kamu?"Maka menjawablah kesemua para roh,"Ya, kami naik saksi bahwa Engkaulah Tuhan kami."Itulah kehebatan roh manusia, dia sangat kenal dengan Tuhan.
Asal kejadian roh menerima dan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Sebab itulah fitrah semulajadi semua manusia samada Islam atau tidak adalah baik, mahu kepada Tuhan. Tetapi bila fitrah suci asal yang mengenali Tuhan itu tidak disuburkan, lama kelamaan ia akan rosak.KESAN APABILA ROH TIDAK DISUBURKAN
Bila seorang manusia dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan jauh dari Tuhan, rohnya akan lemah, fitrahnya akan rosak. Akibatnya manusia hanya akan tahu adanya Tuhan melalui akal, tetapi hati atau rohnya tidak ada rasa berTuhan, tiada rasa cinta dan takut pada Tuhan. Ibarat anak angkat, selepas 30 tahun barulah dia tahu, rupa2nya dia ada ibu dan ayah yang lain.
Senangkah dia hendak menyayangi ibu dan ayah kandungnya?Begitulah manusia dengan Tuhan. Rata-rata hari ini, manusia sudah kehilangan Tuhan akibat dari melalaikan penjagaan dan penyuburan rohnya. Bila roh tidak disuburkan, maka lahirlah manusia yang rosak jiwanya. Individu-individu yang rosak jiwanya akan melahirkan masyarakat yang rosak.
Pendidikan hari ini pula sasarannya adalah akal, roh tidak. Jadi berlakulah ketidak seimbangan antara akal dan roh. Hingga kita dapat saksikan satu fenomena seperti di dunia hari ini. Dalam kemajuan, penuh dengan ketakutan, tiada keamanan, perpaduan dan kasih sayang. Makin maju, makin bergaduh dan menipu, berperang, berbunuhan. Makin kaya, jiwa makin menderita.
Apa ertinya hidup dalam kemajuan bersama ketakutan, lebih baik mundur bersama keamanan. Untuk apa kaya dalam penderitaan, lebih baik miskin bersama kasih sayang. Itulah akibat dari gagal menyuburkan roh insan dalam kehidupan. Roh jadi buta daripada mendapat cahaya iman.KESAN APABILA ROH DISUBURKAN
Roh yang disuburkan dengan mengenali dan mencintai Tuhan hingga membawa kepada rasa berTuhan yang mendalam, akan menjadi aktif. Roh yang disucikan ( roh muqaddasah) akan aktif berperanan ( mutassariffah). Peranan roh mutassarifah ini tiada batasan geografi dan masa.
SEJARAH YANG MEMAPARKAN KEHEBATAN ROH INI
1. Saiyidina Umar boleh memberi arahan pada Sariyah, ketua tenteranya ke Palestin. Sedangkan sewaktu itu Saiyidina Umar sedang memberi khutbah di mimbar masjid Madinah. Tiba-tiba dia menjerit.."Hai Sariyah, ubah kedudukan tentera kamu, musuh ada di belakangmu!!"
Begitulah kehebatan roh muqadasah mutasoriffah mampu mendahului masa dan sempadan geografi. Pada hari ini sehebat mana satelit pun tidak mampu hendak mengatasi kepantasan komunikasi roh.
2. Penaklukan Andalusia oleh Tariq ibn Ziyad. Sejarah memaparkan Tariq membakar semua kapal tenteranya dan berkata,"Laut di belakang kamu, musuh di hadapan kamu, pilihlah kematian yang bagaimana yang kamu mahu!!"Orientalis menyembunyikan cerita Tariq beryaqazah dengan Rasulullah. Beliau melihat Rasulullah dan arahan Rasulullah supaya terus mara.
Tariq mendapat suntikan semangat juang yang luar biasa hingga membawa kejayaan kepada tentera Islam menawan Andalusia. Peristiwa bersejarah di Jabal Tariq itu merupakan satu lagi bukti bagaimana peranan roh cukup penting . Di mana di saat logik akal mengatakan sudah tidak ada jalan, tetapi di waktu itu bila bergantung pada kekuatan roh, ia mengatasi logik dan berlaku peristiwa luar biasa yang menyalahi adat, yang diistilahkan sebagai khawariqul adah.
Peristiwa-peristiwa ini merupakan rahsia-rahsia kekuatan umat Islam yg tersembunyi yang tidak dapat dikesan dan dikuasai oleh musuh. Hal-hal seumpama ini sudah jarang dititik beratkan oleh umat Islam hari ini. Umat Islam lebih kagum dengan silap mata Barat, sedangkan Islam punya kekuatan luarbiasa yg lebih hebat dan tersendiri.
Tetapi bila diketengahkan, masyarakat seolah-olah bersikap double standard dalam menerimanya dan mengatakan ini sihir. Sebenarnya ini merupakan usaha-usaha musuh Islam terutama Yahudi yang memang sudah lebih tahu dan faham akan kekuatan umat Islam ini, tetapi mereka menyembunyikan dan menutupnya rapat-rapat.
Oleh kerana besarnya peranan roh, maka munasabahlah Tuhan berkata "Roh itu urusan Aku". Ia sebenarnya adalah satu senjata rahsia yang punya kekuatan luarbiasa yang disimpan untuk orang-orang bertaqwa. Seolah-olah Tuhan berkata, jaga ciptaan Aku ini baik-baik kerana ialah yang akan menentukan nasibmu di dunia dan di akhirat.
KENAPA SELAMA INI ROH TIDAK DIBERI PERHATIAN UTAMA BERBANDING DENGAN AKAL ?
Roh tidak diberi perhatian sebab mereka lebih berminat dengan akal sebab akal gerakannya cepat mendapatkan hasil. Di sini yg membuatkan manusia terkelabu dan terkeliru. Akal nampaknya lebih cepat berjaya dan cepat dapat. Manusia lebih tertarik dengan benda yang cepat. Sebab itulah manusia lebih tertarik dengan dunia daripada Akhirat. Dunia adalah sesuatu yang dekat, manakala akhirat pula yang jauh. Yang paling cepat terpengaruh adalah mata lahir.Oleh sebab itulah setakat untuk mendidik mata, mulut dan akal untuk berperanan, Allah tidak perlu datangkan Rasul. Untuk mendidik akal semata, orang jahat pun boleh mendidik, tetapi untuk mendidik roh, bukan sebarang orang yang mampu. Roh itu istimewa, ahli falsafah tidak mampu mendidik roh. Oleh kerana roh itu urusan Tuhan, maka pemimpin yang mampu untuk mendidik roh pun urusan dan utusan Tuhan juga.
APAKAH FAKTOR YANG MENGHALANG PERANAN ROH?
Di dunia ini, apa sahaja yang kita lakukan samada yang halal, sunat, harus dan lain-lain, jika ianya terputus dengan Tuhan, perkara tersebut akan membinasakan manusia. Apa sahaja yang kita bangunkan, tadbir, jika ia terputus dari Tuhan, iaitu bila ia tidak dihubungkaitkan dengan Tuhan, ia akan merosakkan roh. Manusia hari ini menjadikan akal sebagai tempat rujuk utama.
Sebelum bertindak apa-apa, mesti tanya akal dulu, logik atau tidak, tepat atau tidak? Sedangkan peranan akal bukanlah sandaran utama. Kerana keputusan akal tidak semestinya tepat dengan kehendak Tuhan.Sepatutnya sebelum bertindak dan berbuat sesuatu, terus hubungkan hati dengan Tuhan dahulu. Nanti Allah akan campakkan rasa-rasa di dalam hati sebagai panduan. Gerakan hati inilah satu isyarat keputusan dari Tuhan. Akal hanya mengesahkan sahaja keputusan tersebut. Yang membuat keputusan adalah hati, bukan akal.
APA TANDA ROH ITU HIDUP ?
Roh yang hidup akan berperanan. Untuk menilai samada roh berperanan atau tidak, contohnya apabila seseorang melihat keindahan alam, lautan, bukit bukau dan lain-lain, tetapi hati tiada contact dengan Tuhan, tidak terasa kehebatan dan kebesaran Penciptanya, ini bermakna roh tidak hidup, malah telah rosak. Tetapi kalau melihat benda yang sama, hati merasa kehebatan dan kebesaran Tuhan, itu menunjukkan rohnya hidup, dia mendapat rasa berTuhan, dan mendapat iman.PENTINGNYA MENJAGA ROHPenjagaan roh adalah penentu nasib di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat. Lantaran mengabaikan roh, maka hari ini kita terpaksa akur dengan kelemahan umat Islam dari pelbagai aspek. Belum ada satu bidang yang boleh dibanggakan oleh umat Islam.
Mana mungkin kita mengalahkan musuh dengan menggunakan senjata ciptaan musuh. Mengapa kita tidak merujuk kepada 'senjata luar biasa' yang Allah sediakan khas untuk orang-orang bertaqwa.Cuba lihat kehebatan Nur Muhammad, roh Rasulullah yang aktif berperanan sekalipun setelah baginda wafat. Kehebatan mukjizat Rasulullah terus berlaku iaitu melalui roh muqaddasah mutasorrifah yang sentiasa aktif berparanan. Kalau kita baca kitab-kitab tasawuf, roh orang-orang yg bersih dan disucikan seperti roh para Rasul, wali-wali samada yang masih hidup atau yang telah meninggal, tetap aktif berperanan. Sebab itulah kita boleh bertawassul dengan roh-roh suci ini.
Kita telah melihat pentingnya peranan roh serta kesan luar biasa hasil dari roh muqadasah mutasorrifah. Inilah sebenarnya rahsia kekuatan umat Islam yang Tuhan simpan untuk hamba-hambaNya yg brtaqwa. Rahsia yang cuba diintai oleh musuh tetapi tidak berjaya. Tuhan hanya perturunkan untuk orang-orangNya atau utusanNya. Sebab itulah Rasulullah digelar sirril asror ~ rahsia bagi segala rahsia. Kerana dia berperanan mendidik dan mengendalikan roh manusia di zamannya hinggalah sekarang.

Jumat, 12 Agustus 2016

NABI ALLAH KHAIDIR

Nama Sebenar Nabi Khidir Ialah Balya Bin Malkan Bin Faligh Bin ‘Abir Bin Syalikh Bin Arfakhsyaz Bin Sam Bin Nabi Nuh.
Dan Gelarannya Pula Ialah Abu Al’ Abbas. Beliau Juga Dikenali Dengan Panggilan Khidir Kerana Dua Sebab.
Sebab 1 - Rasulullah S.A.W Bersabda: “Ia Dinamakan Khidir Kerana Ketika Ia Duduk Di Atas Rumput Tiba-Tiba Memancar Cahaya Hijau Dari Arah Belakangnya (Hadis Abi Hurairah Yang Diriwayatkan Oleh Bukhari).
Sebab Ke 2 - Al-Khattaby Berkata : Dia Dinamakan Khidir Kerana Wajahnya Cantik Dan Berseri-Seri (Rujuk Al-Bidayah Wal Nihayah-Ibnu Katsir 1/327).
Malkan Iaitu Ayahanda Kepada Nabi Khidir Adalah Seorang Raja Yang Amat Berpengaruh Dan Terkenal Dengan Kekejamannya. Ketika Nabi Khidir Masih Kecil, Dia Dihantar Belajar Dengan Seorang Guru Yang Berakhlak Mulia. Di Antara Rumah Guru Dan Istana Malkan, Ada Seorang Ahli Ibadah Yang Mana Nabi Khidir Amat Tertarik Dengannya. Maka Dia Belajar Dan Tinggal Bersama Orang Yang Ahli Ibadah Itu. Gurunya Beranggapan Bahawa Nabi Khidir Berada Di Istana Raja Malkan. Manakala, Raja Malkan Pula Beranggapan Bahawa Nabi Khidir Berada Di Rumah Gurunya. Tetapi Sebenarnya, Nabi Khidir Tinggal Dan Belajar Secara Tidak Rasmi Dengan Orang Yang Ahli Ibadah Itu.
Setelah Nabi Khidir Meningkat Dewasa, Pembesar-Pembesar Istana Mencadangkan Supaya Dia Segera Dikahwinkan Untuk Mendapatkan Keturunan Atau Generasi Penerus Kerajaan Raja Malkan. Kemudian Raja Malkan Menawarkan Dan Menyuruh Nabi Khidir Mendirikan Rumahtangga. Bagaimanapun Nabi Khidir Enggan Menerima Tawaran Tersebut. Setelah Berulangkali Disuruh Oleh Ayahandanya, Akhirnya Nabi Khidir Bersetuju Dan Berkahwin Dengan Seorang Puteri Raja.
Setelah Agak Lama Menjadi Pasangan Suami Isteri, Maka Nabi Khidir Memberitahu Isterinya :”Aku Beritahu Kepadamu Tentang Suatu Rahsia Ku, Jika Kamu Rahsiakan, Kamu Akan Selamat Di Dunia Dan Di Akhirat Tetapi Jika Kamu Bocorkan Rahsia Ku Ini, Kamu Akan Disiksa Di Dunia Dan Di Akhirat.” Isterinya Bertanya ”Apakah Rahsia Itu ?” Nabi Khidir Menjawab : “Sesungguhnya Aku Ini Seorang Lelaki Yang Beragama Islam. Bukan Seperti Ayahku Dan Aku Tidak Memerlukan Perempuan Dalam Hidupku. Oleh Itu, Jika Kamu Bersetuju Hidup Bersamaku Dan Mengikut AgamaKu. Maka, Kita Boleh Terus Hidup Bersama. Dan Sekiranya, Kamu Tidak Setuju Dengan Ku, Maka Aku Membenarkan Kamu Pulang Ke Rumah KeluargaMu.” Isteri Nabi Khaidir Membalas ”Aku Akan Terus Setia Bersama Mu.”
Setelah Lama Berumahtangga Dan Tidak Mempunyai Anak Maka Pembesar Negara Dan Orang Ramai Bertanya Kepada Raja Malkan. ”Bahawasanya Anak Kamu Itu Sebenarnya Mandul Dan Tidak Dapat Memperolehi Anak.” Lantas Raja Malkan Bertanya Kepada Nabi Khidir : ”Telah Lama Kamu Berkahwin Tetapi Sehingga Hari Ini Kamu Masih Belum Mempunyai Anak.” Balas Nabi Khidir : ”Hal Ini Bukan Di Bawah KekekuasaanKu Tetapi Di Bawah Kekuasaan TuhanKu Allah SWT. Dia Mengurniakan Anak Kepada Sesiapa Yang DikehendakiNya.” Soalan Yang Sama Ditanya Oleh Raja Malkan Kepada Isteri Nabi Khidir. Jawapan Yang Diperolehi Daripada Isteri Nabi Khidir Adalah Sama Sebagaimana Yang Diperolehi Daripada Nabi Khidir.
Setelah Sekian Lama Telah Berkahwin Tetapi Masih Belum Dikurniakan Anak, Raja Malkan Menyuruh Nabi Khidir Menceraikan Isterinya. Nabi Khidir Enggan Berbuat Demikian Pada Mulanya Tetapi Raja Malkan Terus Memaksa Nabi Khidir Dan
Akhirnya Raja Malkan Memisahkan Antara Nabi Khidir Dan Isterinya. Kemudian Secara Paksa, Raja Malkan Mengahwinkan Nabi Khidir Dengan Seorang Janda Muda Yang Telah Mempunyai Anak Dengan Harapan Mudah-Mudahan Perkahwinan Ini Nanti Akan Membuahkan Hasil, Iaitu Mempunyai Anak Untuk Meneruskan Keturunan Dan Kerajaan Raja Malkan.
Malangnya Keadaan Yang Sama Berlaku. Setelah Lama Berkahwin, Mereka Masih Belum Dikurniakan Anak. Apabila Nabi Khidir Ditanya Tentang Hal Ini, Jawapannya Sama Seperti Dahulu. Kemudian Raja Malkan Bertanya Kepada Isteri Kedua Nabi Khidir : ”Kamu Ini Adalah Janda Muda Yang Sudah Mempunyai Anak Sebelum Kahwin Dengan AnakKu, Kenapa Pula Kamu Tidak Memperolehi Anak Setelah Berkahwin Dengannya ?”
Isteri Kedua Nabi Khidir Pun Menjawab : ”Semenjak Kami Kahwin Sehingga Sekarang, Saya Tidak Pernah Disentuh Sama Sekali Oleh Beliau.” Kemudian Isteri Pertama Nabi Khaidir Dipanggil Dan Ditanya, Jawabannya Sama Belaka. Nabi Khaidir Dipanggil Oleh Raja Malkan Dan Dimarahi Dengan Bahasa Yang Kesat Serta Kasar. Sehingga Hati Nabi Khidir Terasa. Justeru Itu, Nabi Khidir Berasa Tidak Bahagia, Tidak Selesa Dan Tidak Tenteram Untuk Tinggal Di Istana Raja Malkan. Akhirnya Nabi Khidir Meninggalkan Istana Raja Malkan Dan Pergi Merantau
Raja Malkan, Ayahanda Kepada Nabi Khidir Amat Sedih Dan Menyesal Dengan Kejadian Itu. Justeru Raja Malkan Mengerahkan 100 Orang Mencari Nabi Khidir Ditempat Yang Berlainan, Sebelah Utara, Selatan, Timur Dan Barat. Mereka Berpecah Mengikut Kumpulan. Akhirnya, Sekumpulan Sepuluh Orang Berjaya Menemui Nabi Khidir Di Sebuah Pulau Yang Kecil Dan Terpencil.
Nabi Khidir Berkata Kepada Kumpulan 10 Orang Ini. ”Aku Akan Katakan Sesuatu Yang Bila Kamu Rahsiakan, Kamu Akan Selamat Di Dunia Dan Akhirat. Tetapi Jika Kamu Bocorkan Rahsia Ini, Kamu Akan Disiksa Di Dunia Dan Diakhirat.” Mereka Kumpulan 10 Bertanya ”Apakah Rahsia Itu ?’ Namun Nabi Khidir Bertanya Lagi Kepada Mereka ”Adakah Orang Lain Yang Mencari Aku Selain Daripada Kamu Sekelian Yang Bersepuluh.” ”Ya, Ada” Balas Mereka. Nabi Khaidir Terus Berkata ”Jika Kamu Merahsiakan Pertemuan Kita Ini Daripada AyahandaKu Tentang Pertemuan Kita Di Pulau Kecil Ini. Sebabnya, Jika Kamu Beritahu Ayahanda Ku Tentang Pertemuan Kita Ini, Nanti Aku Akan Dibunuh Dan Kamu Juga Akhirnya Akan Dibunuh Selepas Itu,”
Namun Setelah Kumpulan Sepuluh Pekerja Istana Ini Pulang Ke Istana Malkan Dan Bertemu Raja Malkan, Sembilan Daripada Mereka Jujur Kepada Raja Malkan Dengan Memberitahu Bahawa Mereka Telah Bertemu Nabi Khidir. Manakala, Hanya Seorang Yang Merahsiakan Pertemuan Tersebut Daripada Raja Malkan. Sembilan Yang Mengaku Bertemu Nabi Khidir Dikerah Untuk Mencari Dan Membawa Pulang Nabi Khidir Ke Istana. Malangnya, Nabi Khidir Tiada Di Pulau Kecil Tersebut Kerana Beliau Telah Merantau Ke Tempat Yang Lain. Semua Sembilan Orang Pekerja Istana Ini Pulang Dengan Tangan Kosong Dan Mati Dihukum Pancung Oleh Raja Malkan. Yang Seorang Lagi Selamat Kerana Beliau Menjaga Rahsia Dan Telah Melarikan Diri Dari Istana Raja Malkan.
Isteri Kedua Nabi Khidir Si Janda Muda Itu Juga Turut Di Hukum Bunuh Kerana Menjadi Pencetus Kepada Kekacauan Yang Berlaku Dalam Istana Raja Malkan. Kerana Takut Dibunuh Oleh Raja Malkan, Bekas Isteri Pertama Nabi Khidir, Si Puteri Raja Lari Menginggalkan Istana Raja Malkan Bersama-sama Pekerja Istana Yang Menjaga Rahsia.
Akhirnya Mereka Berdua Bertemu Di Perantauan Dan Mereka Berjanji Untuk Menutup Rahsia Masing-Masing. Mereka Akhirnya Bertemu Jodoh Dan Berkahwin. Mereka Merantau Ke Mesir Dan Berkerja Dengan Raja Fir’aun Di Sana. Si Isteri Bekerja Sebagai Pengasuh Anak Perempuan Fir’aun. Dalam Sejarah Dia Dikenali Dengan Nama MASHITAH (Tukang Sikat Rambut). Sementara, Suaminya Pula Bekerja Sebagai Tukang Kayu, Namanya Ialah HIZQIL (Pembuat Kotak Yang Menghanyutkan Nabi Musa AS Ketika Bayi Di Dalam Sungai Nil).
Rumusan
Salah satu pernyataan Khidir yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi adalah perkataan Wahab bin Munabeh,
Khidir berkata: "Wahai Musa, manusia akan diseksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau kecenderungan fahaman mereka terhadapnya (dunia)."
Sedangkan Ulama.. Bisyir bin Harits al-Hafi berkata: "Musa berkata kepada Khidir: "Berilah aku nasihat." Khidir menjawab: "Mudah-mudahan Allah s.w.t memudahkan kamu untuk taat kepada-Nya."
Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang Khidir dan setiap mereka mengakui kebenaran pendapat masing-masing.
Perbezaan pendapat ini berhujung pangkal kepada anggapan para ulama bahawa mereka adalah sebagai pewaris para nabi,... sedangkan kaum sufi menganggap diri mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari ahli hakikat itu adalah Khidir.
Kami sendiri cenderung untuk menganggap Khidir sebagai seorang nabi kerana beliau menerima ilmu laduni. Yang jelas, kita tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Quran yang menunjukkan kenabiannya dan salasilah nya, kita juga tidak menemukan nas jelas yang dapat kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang wali yang diberi oleh Allah s.w.t sebahagian ilmu laduni.
Barangkali kesamaran mengenai peribadi yang mulia ini memang disengaja agar kita yang mengikuti kisah ini mendapatkan tujuan utama dari inti cerita....!
Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya atau salasilahnya. Yang jelas, ketika saya memasukkannya dalam jajaran para nabi kerana ia adalah seorang guru dari Musa dan beliau diperintahkan Allah.
Sumber : Al Syeikh Hamdan Bin Muhtar
Kitab Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas .. riwayat oleh Ats- tsa..

Kamis, 04 Agustus 2016

Makna mati dalam hidup

Rasulullah s.a.w bersabda:
Bila hati seorang sudah dimasuki Nur, maka itu akan menjadi lapang dan terbuka.” Setelah mendengar ucapan Rasulullah s.a.w. itu orang banyak bertanya: “Apakah tandanya hati yang lapang dan terbuka itu ya Rasulullah..? Rasulullah menjawab:
“Ada perhatiannya terhadap kehidupan yang kekal di akherat nanti, dan timbul kesadaran dan pengertian terhadap tipu daya kehidupan dunia sekarang ini, lalu dia bersedia menghadapi mati sebelum datangnya mati.” (H.R. Ibnu Jurair) Bersedia menghadapi mati sebelum datangnya mati adalah pelajaran luar biasa berhikmahnya dari hadits ini.
Statement ini mengisyaratkan kepada kita untuk berlatih mati dalam rangka menghadapi proses kematian, agar dapat mati dalam keadaan sukses. Lalu bagaimanakah bentuk sukses dari sebuah kematian itu? Berbicara mengenai hal ini, Nabi Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya: “Janganlah sampai kamu meninggal dunia padahal kamu tidak menyerahkan dirimu (Total Submission) kepada ALLAH.” (Q.S. Ibrahim : 152)
Orang yang menyerahkan diri secara total kepada ALLAH adalah orang yang dekat kepada-NYA, oleh karena itu kematiannya adalah sebuah kesuksesan. “Adapun bila yang meninggal itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri (kepada ALLAH). Maka (kematian baginya) adalah lega, semerbak dan nikmat sekali.” (QS. Waqi’ah : 89-90)
Ibrahim a.s. mengisyaratkan bahwa kematian yang sukses adalah kematian dalam keadaan “penyerahan diri secara total kepada ALLAH semata”. Karena memang: “Sesungguhnya hidupku dan matiku hanyalah untuk ALLAH semata. (QS. Al An’am : ) Tentang Sukses Kematian, Rasulullah bersabda: “Siapa yang suka menemui ALLAH, ALLAH suka menemuinya, dan barang siapa benci menemui ALLAH, ALLAH benci pula menemuinya.”
Setelah mendengar sabda Rasulullah ini banyak para sahabat yang menangis. Melihat itu Rasulullah bertanya kepada mereka, kenapa menangis..? Mereka menjawab: “Semua kami membenci mati ya Rasulullah. Maka berkatalah Rasulullah: “Bukan demikian yang dimaksud, tetapi adalah ketika menghadapi sakaratil maut.”
Sebagaimana kehidupan yang indah, kematian yang indah adalah kematian dengan kondisi jiwa penuh dengan ke-“Tauhid”-an. Jiwa yang dipenuhi dengan menafikan segala bentuk penuhanan terhadap sesuatu selain ALLAH dan terus-menerus meneguhkan (isbatkan) penuhanan kepada ALLAH semata-mata. Karena:
Lailaha ilalloh adalah ucapan AKU
Lailaha ilalloh adalah AKU
Lailaha ilalloh adalah benteng AKU.
Siapa yang masuk dalam benteng AKU dengan mengucap Lailaha ilalloh lepas dari aniaya-KU. (Hadits Qudsi)
Dalam hidup berbekal Tauhid, dalam menghadapi sakaratul maut berbekal Tauhid, jiwa pergi dari jasad membawa Tauhid. Jika kesadaran telah dipenuhi dengan “Tauhid” kehidupan kita akan bebas dari aniaya ALLAH, demikian juga dengan kematian kita. Oleh karena itu seperti diriwayatkan oleh Muslim dari Sa’id Al-Khudri r.a beliau berkata : “Saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:
“Talkinkanlah olehmu orang yang mati di antara kamu dengan kalimat La ilaha illallah. Karena sesungguhnya, seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya, maka itulah bekalnya menuju surga.” Masuk ke dalam benteng SANG AKU: Lailaha ilalloh, tentunya bukan sekedar ucapan lisan saja. Akan tetapi telah diyakini dengan qalbu dan telah disaksikan dengan sepenuh jiwa.
Dengan kondisi kesadaran yang demikian maka qalbu menjadi terbersihkan dari segala kotoran-kotoran dosa, selalu terisi dengan keimanan, ingatan selalu tertuju kepada ALLAH dan sikap jiwa dalam keadaan berserah diri total kepada ALLAH, sebagai pemilik hidup kita. Penyerahan diri dengan kesadaran kepada ALLAH Yang Maha Esa.
Seperti dikatakan oleh Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali (wafat 1111): “At Tauhid al-khalis an layaraha fii kulli syai’in ilallah” (Tauhid sejati adalah penglihatan atas Tuhan dalam segala sesuatu). Dengan Tauhid ini, manusia menjadi sadar kedudukannya bahwa tubuhnya adalah semata-mata bentuk Kuasa ALLAH (melihat Tuhan dalam tubuhnya), sebagaimana alam semesta raya.
Harus kembali kepada-NYA dalam posisi tunduk patuh sebagaimana tunduk patuhnya alam semesta. Semua adalah bentuk Kuasa ALLAH, Energi ALLAH, Daya ALLAH karena sesungguhnya: La haula walaa quwwata illa billahil aliyyil adziem. Dengan Tauhid pula manusia sadar bahwa, hidup yang ada didalam dirinya (melihat Tuhan tidak terpisahkan dari hidupnya),
yang menyebabkan badan bisa hidup bergerak serta membuatnya menjadi makhluk sadar adalah roh yang berasal dari-NYA – “Min Ruhi” atau Roh SANG AKU. Milik-NYA semata-mata dan aksioma akan kembali kepada-NYA. Tidak ada rasa peng-“aku” an atas hidup, jiwa dan roh yang ada di dalam badan ini. Ia adalah milik-NYA dan akan kembali kepada-NYA.
Dengan kondisi psikologis yang demikian orang akan lebih tenang dengan bertawakal kepada ALLAH semata dalam menghadapi situasi kritis saat ajal menjemput. Karena ia telah sadar bahwa: o Mati adalah untuk kembali ke Asal atau Sumber dari hidup, yaitu ALLAH o Mati adalah perjalanan menuju ALLAH o Mati adalah saat menemui ALLAH o Mati adalah Bersaksinya roh atas Wajah ALLAH o Mati adalah untuk Merasakan Kedekatan/ Kesatuan dengan ALLAH
Pelatihan Mati Sukses, Seperti Jawaban Rasulullah kepada para Sahabatnya: “Ada perhatiannya terhadap kehidupan yang kekal di akherat nanti, dan timbul kesadaran dan pengertian terhadap tipu daya kehidupan dunia sekarang ini, lalu dia bersedia menghadapi mati sebelum datangnya mati.” Jika kita simak hadits nabi tersebut, Rasulullah telah memberikan motivasi kepada kita tentang bagaimana hendaknya umatnya melakukan latihan untuk menghadapi mati sebelum datangnya kematian, agar dapat sukses ketika menghadapinya nanti.
Mengenai hal ini, Haji Slamet Oetomo Blambangan berkenan berbagi pengetahuan dan best practicenya kepada kita dalam menghadapi kematian. Saya senang menyebutnya dengan istilah pelatihan mati khusyuk. Proses pelatihan ini berangkat dari filosofi tentang Hakikat manusia yang diajarkan Tuhan melalui al qur’an.
- Yang pertama, kematian itu adalah proses kembali menemui Tuhan sama dengan sholat, dzikir atau itikaf. Oleh karena itu kita posisikan Kesadaran sesuai dengan surat: Al ‘Araf : 29 : ” Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”
Meluruskan muka atau diri adalah menumpahkan dan memusatkan seluruh perhatian kepada ALLAH semata. Dan dibekali dengan keikhlasan dengan tingkat kesadaran seperti dinyatakan qur’an : “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al An’am : 162).
Dan seperti dijadikan pada mulanya yaitu bayi lahir, bayi itu suci, tidak merasa bisa tidak merasa pandai bahkan dipanggil namanya tidak tahu/bodoh. Semua yang ada nikmat ALLAH, kepunyaan ALLAH harus kembali kepadaNYA seperti pada mulanya yaitu seperti bayi lahir suci, perasaan tidak bisa apa-apa. Berserah diri total.
- Yang kedua, Tahu Tujuan Kematian. Tidak lain adalah Tuhan Semesta Alam – ALLAH. Tuhan seperti yang dijelaskan dalam surat Al Iklash: “Tuhan ALLAH Yang Maha Esa. Tuhan ALLAH tempat meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula dilahirkan sebagai anak. Dan tidak ada sesuatupun yang ada persamaannya dengan DIA.” (Al –Iklash ) Al Fajr 27-28 dan Tuhan yang dijelaskan dalam surat Fushilat : 54 : “Bukankah mereka masih dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhannya,,? Bukankah DIA-NYA meliputi segala sesuatu.”
- Yang ketiga, mati adalah proses menemui ALLAH. Tidak lain adalah proses mendekatkan diri kepada ALLAH. Proses mendekatkan diri kepada ALLAH adalah proses menjalankan jiwa kepada tujuannya , yaitu ALLAH. Dalam proses kematian, yang berjalan adalah jiwa dengan min ruhinya, bukan pikiran atau hati. Seperti Firman ALLAH: “Wahai jiwa yang tenang masuklah kedalam Surga-KU”. Adalah jiwa dengan min ruhinya, bukan badan, pikiran dan hati. Saat kematian, seyogya nya jiwa dijalankan kepada ALLAH dengan terus mengingat ALLAH .
Dengan ingat kepada ALLAH, jiwa akan semakin meluncur mendekat kepada ALLAH. Pada posisi in, dalam batin hendaknya juga dikembangkan “Baik Sangka” kepada ALLAH, sebab sikap yang demikian akan menuntun kepada keadaan yang menjadi persangkaan kita. Sesuai dengan rumus “AKU adalah menurut persangkaan hamba-KU tentang AKU dan AKU bersama dia bila dia memanggil AKU”.
- Yang Keempat, menyadari eksistensi sebagai manusia. Bahwa tubuh manusia sebagai prototipe alam semesta adalah bentuk Kekuasaan ALLAH yang Maha Dasyhat, Maha Luar Biasa. Sedangkan jiwa manusia dengan min ruhinya adalah berasal dari ALLAH, secara ilahiah adalah SATU dengan ALLAH.
Oleh karena itu harus disadari bahwa tubuh ini bukan tubuh milik kita akan tetapi Kuasa ALLAH, dan jiwa ini adalah min ruhi – Roh milik ALLAH. Disini kedirian menjadi lenyap karena yang ada hanya Kuasa ALLAH dan Roh ALLAH keduanya adalah milik ALLAH aspeknya ALLAH. Aksiomatis kembali kepada ALLAH.
- Yang kelima, lihatlah kembali ke diri kita manusia. Perhatikan keluar masuknya nafas itu adalah pertanda adanya hidup adanya roh dalam tubuh sehingga hidup bergerak, itu adalah kinerja-NYA ALLAH, perbuatan-NYA ALLAH. Keluar masuknya nafas adalah tanda adanya hidup-NYA ALLAH yang ada dalam tubuh, adanya min ruhi, Roh ALLAH yang meresapi seluruh tubuh ini. Roh ALLAH yang meresapi seluruh Qudrat ALLAH – tubuh.
Selanjutnya Perhatikan juga sang otak yang netral – sebagai jembatan antara roh yang metafisika dan tubuh yang fisika. Yang bertugas sebagai regulator kesadaran manusia, berikan informasi yang benar kepada otak, install informasi tentang kebenaran ketuhanan. Sehingga hiduplah manusia dengan kesadaran berketuhanan secara benar:”Tiada Tuhan selain ALLAH dan Muhammad adalah utusan ALLAH”.
- Yang Keenam, dengan kesadaran yang telah diperoleh kini serahkanlah, kembalikanlah, dudukkan pada posisi yang sebenarnya – segala eksisensi yang ada kepada SUMBER nya, kepada PUSAT nya, kepada ALLAH.
- Tubuh, Pikiran, Hati adalah Qudrat ALLAH kembali kepada pemilik Qudrat yaitu ALLAH
- Jiwa dengan minruhinya adalah milik ALLAH kembali kepada ALLAH
- Rasa Ingat/ Rasa Jati/ Rasa ber Tuhan kembali kepada ALLAH
- Semua kembali kepada ALLAH.
Sang gembala
Pada zaman Nabi Musa as dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Ia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, “Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu.”
Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memperhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit.. Sang gembala menyapa Tuhan, “Ah, di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?”
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, “Dengan siapa kamu berbicara?” Gembala menjawab, “Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit.” Musa as murka mendengar jawaban gembala itu, “Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!”
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Musa as yang terus berkata, “Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa, sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak.
Tuhan Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!”
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh tapi ia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya. Ia berkata kepada Musa, “Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya.” Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah Yang Mahakuasa menegurnya, “Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya.” Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut.
Tuhan berfirman, “Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan daripadanya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat.
Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna.” Suara dari langit selanjutnya berkata, “Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri.” Tuhan kemudian mengajarkan Musa as rahasia cinta. Setelah Musa as memperoleh pelajaran itu, ia mengerti kesalahannya.
Sang Nabi pun merasa menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari Musa as berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan harapan tetapi akhirnya Musa as berjumpa dengan gembala itu. Ia tengah duduk di dekat mata air.
Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama. Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat kepada sang Nabi. Musa as berkata, “Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku, bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih.
Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia.” Sang gembala hanya menjawab sederhana, “Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya.
Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku.” Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa as. Nabi Musa as menatap gembala itu sampai ia tak kelihatan lagi. Setelah itu Musa as kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Cerita di atas melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan kecintaannya kepada Tuhan, dia tidak lagi dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada Allah SWT. Di dalam cinta, kata-kata menjadi tidak punya makna.
Dari kisah ini juga kita belajar bahwa untuk dapat mendekati Allah swt, tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi atau ilmu yang sangat mendalam. Salah satu cara utama untuk mendekati Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus. Tidak jarang pengetahuan kita tentang syariat membutakan kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi hijab yang menghalangi kita dengan Allah SWT.
Kita akhiri kisah ini dengan sabda Nabi SAW, “Innallâha lâ yanzhuru illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru illâ qulûbikum. Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu.”